TNI AL Butuh 12 Kapal untuk Pantau Dasar Laut

Rabu, 23 November 2016 - 15:24 WIB
TNI AL Butuh 12 Kapal...
TNI AL Butuh 12 Kapal untuk Pantau Dasar Laut
A A A
JAKARTA - TNI Angkatan Laut (AL) membutuhkan 12 kapal perang jenis Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) guna melakukan pemetaan bawah laut.

Hal itu diungkapkan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi saat melantik Laksamana Pertama TNI Harjo Susmoro sebagai Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi Angkatan Laut (Kapushidrosal) di Mako Pushidrosal, Jakarta Utara, Rabu (23/11/2016).

"Kebutuhan kita akan kapal jenis ini paling tidak 12 kapal ya," kata Ade.

Sebanyak 12 kapal yang dibutuhkan, terdiri atas kapal operasi, kapa survei dan latihan, serta kapal perbaikan.

Menurut Ade, Pushidrosal memiliki kedudukan strategis sebagai lembaga hidrografi nasional dan hidrografi militer TNI AL.

Sesuai tugas pokoknya, kata dia, Pushidros harus menyiapkan data dan informasi hidrografi serta Oseanografi untuk kepentingan TNI maupun publik berupa peta laut.

"Kalau ada 12 kapal, nantinya empat di timur, empat di tengah dan empat kapal lagi di barat. Kondisi sekarang kan dengan KRI Rigel dan Spica yang baru, ditambah yang lama namun usianya sudah di atas 30 tahun. Kita tetap gunakan sambil melakukan peremajaan," tuturnya.

Sebagai lembaga hidrografi nasional, kata Ade, Pushidrosal merupakan wakil pemerintah pada International Hidrografi Organization (IHO).

Menurut dia, tugasnya yang kompleks tidak hanya untuk mendukung keselamatan pelayaran, tapi juga untuk perbaikan infrastruktur pelabuhan, ekspolitasi dan eksplorasi sumber daya alam, pembangunan wilayah.

"Memang hampir 70% survei kita merupakan hasil dari tahun 1890-an, itu kita update, khususnya yang terkait perekonomian seperti pembangunan infrastruktur pelabuhan, terkait dengan rute-rute laut yang aman untuk navigasi, dan demografi karena gempa, tsunami dan sebagainya," katanya.

Mantan Kepala Staf Umum TNI ini mengaku, hasil pemutakhiran data survei menunjukkan ada perubahan kedalaman. Misalnya, survei tahun 1890-an kedalaman laut mencapai 100 meter namun sekarang berubah menjadi 90 meter sehingga ada perubahan rute untuk navigasi.
(dam)
Berita Terkait
Tenggelam di Mamberamo...
Tenggelam di Mamberamo Raya Papua, Penumpang Dievakuasi
Resmi Sertijab, Posisi...
Resmi Sertijab, Posisi Wagub AAL Kini Dijabat Laksma TNI Arif Badrudin
Laksamana Malahayati...
Laksamana Malahayati Menginspirasi TNI Angkatan Laut
3 Jenderal TNI AU yang...
3 Jenderal TNI AU yang Pernah Menjabat Sebagai Panglima TNI, Terakhir KSAU Pertama di Indonesia
Peringatan HUT ke-79...
Peringatan HUT ke-79 TNI Angkatan Laut
5 Negara Asia dengan...
5 Negara Asia dengan Angkatan Laut Terkuat, Indonesia Patut Bangga
Berita Terkini
Hari Ini Prabowo Bertemu...
Hari Ini Prabowo Bertemu Presiden Belarus Lukashenko di Istana Merdeka
Selain Kasus Suap Jabatan,...
Selain Kasus Suap Jabatan, KPK Endus Bupati Kuansing Terima Uang Pelepasan HPT
Golkar: Capres-Cawapres...
Golkar: Capres-Cawapres Jangan Terlalu Sedikit dan Jangan juga Terlalu Banyak
Hari Ini Sidang Perdana...
Hari Ini Sidang Perdana Dokter Tifa, Area PN Jaktim Disekat Ketat
Minat Gen Z Meningkat,...
Minat Gen Z Meningkat, Diaspora RI Hadirkan Ruang Belajar tentang Jepang
ASEAN Diminta Jaga Sentralitas...
ASEAN Diminta Jaga Sentralitas di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan Laut China Selatan
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved