PKS & PPP Nilai Usulan Parliamentary Threshold 7% Tak Rasional

Jum'at, 22 Juli 2016 - 16:11 WIB
PKS & PPP Nilai Usulan...
PKS & PPP Nilai Usulan Parliamentary Threshold 7% Tak Rasional
A A A
JAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menolak usulan ‎Partai Nasdem ‎yang menginginkan Parliamentary Threshold (PT) atau ambang batas parlemen dinaikkan menjadi tujuh persen.

Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid (HNW)‎ mengaku, partainya sepakat Parliamentary Threshold ‎dinaikkan, namun tidak sampai ‎tujuh persen.

"Kami rasional saja berkisar empat persen sampai lima persen, apakah nanti disepakati lima persen atau empat persen, paling tidak di angka sekitar segitu," kata ‎Hidayat Nur Wahid di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (22/7/2016).‎

Dia menganggap tidak rasional jika PT langsung dinaikkan menjadi tujuh persen. "Dan juga kurang praktis, karena akan terlalu banyak nanti yang akan tergusur hanya karena tidak menjalani 7 persen," ucapnya.‎
‎‎
Diakui HNW, pihaknya ingin agar hanya sekitar delapan hingga sepuluh partai politik (parpol) yang masuk parlemen pada 2019 mendatang. "Itu menurut saya bangsa Indonesia ini ternyata terdiri dari partai, latar belakangnya nasionalis Islami terdiri dari background-nya, tradisionalis dan modernis," pungkasnya.
‎‎
Sementara Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga keberatan jika PT dinaikkan menjadi tujuh persen, sebagaimana usulan ‎Partai Nasdem. Usulan Nasdem ‎itu dianggap tidak rasional.

(Baca: Soal Revisi UU Pemilu, Golkar Akan Bahas di Rapimnas)

Namun PPP tak mempersoalkannya, karena Nasdem memiliki hak untuk mengusulkan hal demikian.‎ "Tapi berdasarkan pengalaman yang lalu-lalu, PPP sangat keberatan dengan PT berada pada tujuh persen," ucap Wakil Ketua Umum PPP ‎‎Reni Marlinawati.

Jika ‎PT dinaikkan menjadi tujuh persen‎, PPP menganggap akan banyak suara pemilih yang tidak terpakai pada pemilu. "Dulu ketika 3,5 persen itu hampir 20 juta suara pemilih yang tidak terpakai, apalagi sekarang," ujar Ketua Fraksi PPP di DPR ini.

Dia pun menilai, jika dinaikkan, idealnya PT‎ sekitar empat hingga 4,5 persen. "Jadi tidak terlalu jauh, jadi semakin tinggi presentase yang ditetapkan itu akan semakin jauh suara pemilih terbuang," ungkapnya.

Namun lanjut dia, PPP sedang melakukan kajian untuk menentukan angka PT ‎yang ideal. "Kajian itu berdasarkan rasionalitas," pungkasnya.
(maf)
Berita Terkait
Jimly, Mahfud, dan Refly...
Jimly, Mahfud, dan Refly Hadiri RDPU Komisi II DPR Bahas Pemilu
Perppu Pemilu Disahkan...
Perppu Pemilu Disahkan DPR Jadi Undang-Undang
Argumen Istana Soal...
Argumen Istana Soal RUU Pemilu Tak Menjawab Masalah
RUU Pemilu Dicabut dari...
RUU Pemilu Dicabut dari Prolegnas 2021, Bakal Lahir Perppu?
Maju-Mundur Revisi UU...
Maju-Mundur Revisi UU Pemilu, Kode Inisiatif: Serentak Bukan Hanya Urusan Waktu
Demokrat Sebut Alasan...
Demokrat Sebut Alasan Pemerintah Tolak RUU Pemilu Lemah dan Rapuh
Berita Terkini
Kasus Korupsi MBG Jadi...
Kasus Korupsi MBG Jadi Alarm Integritas Yayasan, PFI Dorong Audit dan Pengawasan Ketat
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Penahanan Sudewo Dipindah...
Penahanan Sudewo Dipindah ke Semarang Jelang Sidang Perdana Kasusnya
Mensos Gus Ipul Tegaskan...
Mensos Gus Ipul Tegaskan Tak Ada Zona Aman untuk Korupsi di Kemensos
Alasan Natalius Pigai...
Alasan Natalius Pigai Usul Jabatan Utama Polri Bisa Diisi Sipil
Silmy Karim Cs Ditahan...
Silmy Karim Cs Ditahan KPK, DPR Bakal Minta Penjelasan Kemenimipas
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved