Tak Tahu Operasional, Hotman Bingung Kejagung Kembali Periksa HT

Senin, 11 April 2016 - 21:33 WIB
Tak Tahu Operasional,...
Tak Tahu Operasional, Hotman Bingung Kejagung Kembali Periksa HT
A A A
JAKARTA - Kuasa hukum CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT), Hotman Paris Hutapea bingung dengan keputusan Kejaksaan Agung (Kejagung) yang mengusut kasus restitusi pajak PT Mobile 8.

Sebab diakui Hotman, yang diusut Kejagung antara restitusi pajak dengan tuduhan transaksi fiktif tidak berkaitan sama sekali. Menurutnya, restitusi pajak untuk 2002-2004, sedangkan transaksi fiktif itu ada pada 2007.

Dia juga menegaskan, posisi HT adalah komisaris. Otomatis lanjutnya, HT tidak tahu permasalahan operasional. Apalagi mengenai Surat Pajak Tahunan (SPT) terkait transaksi fiktif yang dituduhkan Kejagung.

“Jadi aspek teknis operasional dia tidak tahu. Kenapa saya tahu ini? saya ada SPT-nya PT Mobile 8, karena saya ngomong begini sebagai kapasitas pengacara dari MNC Group,” ujar Hotman di Kejagung, Jakarta, Senin (11/4/2016).

Dari data-data yang Hotman miliki, transaksi itu bukanlah fiktif. Sekalipun fiktif, lanjut Hotman, itu justru akan menguntungkan negara.

Sebab yang dilakukan itu bukan me-markup neraca, melainkan menaikan pendapatan. Secara otomatis, maka pajak yang akan didapatkan oleh negara menjadi bertambah.

“Bertambah Rp80 miliar, karena income Mobile 8 bertambah Rp80 miliar. Otomatis 10% dibayar ke negara sebagai PPN (Pajak Pertambahan Nilai), itu yang dimasukkan ke SPT ini,” paparnya.

Terkait restitusi pajak, Hotman juga mengatakan bahwa restitusi sudah benar bahkan berulang-ulang kali pejabat pajak mengatakan tidak ada yang salah dalam restitusi pajak.

“Itu restitusi untuk 2002 hingga 2004, di mana perusahaan itu merugi sehingga tidak wajib bayar pajak,” ungkapnya.

Jadi lanjut Hotman, kejaksaan mengaitkan dua hal yang tidak ada kaitannya. Karena itu, sampai sekarangpun tidak akan ada pejabat pajak atau konsultan pajak yang berani memihak kejaksaan.

Dia juga mengungkapkan, jika urusannya terkait pemalsuan neraca keuangan, maka tidak tepat Kejagung mengusutnya, karena bukan masuk dalam tindak pidana korupsi, melainkan masuk tindak pidana umum. “Dan yang menangani adalah pihak kepolisian,” tandasnya.
(maf)
Berita Terkait
Kecanduan Mematikan:...
Kecanduan Mematikan: Setengah Miliar Uang Rakyat Dibakar untuk Diamond Mobile Legends dan Slot
Realme 8 5G Dipastikan...
Realme 8 5G Dipastikan Bisa Menggunakan Jaringan 5G di Band N40
Kode Redeem Mobile Legends...
Kode Redeem Mobile Legends Terbaru Kamis 23 November 2023, Yakin Nggak Mau Klaim?
Unboxing Realme 8 Pro,...
Unboxing Realme 8 Pro, Rp4,5 Juta, Kamera 108 MP dan Layar Super AMOLED
Transaksi Sabu di Atas...
Transaksi Sabu di Atas Speedboat, 2 Pria Dicokok POM Lantamal XIII Tarakan
8 Alasan Mengapa OPPO...
8 Alasan Mengapa OPPO Reno5 Cocok Diajak Main Call of Duty: Mobile
Berita Terkini
Prabowo Dinilai Mampu...
Prabowo Dinilai Mampu Jaga Keamanan RI Hadapi Dinamika Geopolitik Global
5 Berita Hukum Pekan...
5 Berita Hukum Pekan Ini: Dadan Hindayana dan Silmy Karim Tersangka Korupsi, Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara
Tata Kelola Saja Tidak...
Tata Kelola Saja Tidak Cukup, Gus Mashum: NU juga Butuh Tata Krama
DPR Tunggu Hasil Pembahasan...
DPR Tunggu Hasil Pembahasan Tim Perumus Buruh dan Apindo untuk RUU Ciptaker
Dasco Sebut Satgas Mulai...
Dasco Sebut Satgas Mulai Gelar Rapat Antisipasi Gelombang PHK Pekan Depan
Hadiri Suroboyo 10K,...
Hadiri Suroboyo 10K, Wali Kota Agustina Siap Tampilkan Grand Finale Terbaik The Ultimate 10K Series 2026
Infografis
10 Pesawat Tempur Paling...
10 Pesawat Tempur Paling Laku di Pasaran, Juaranya Tak Terduga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved