Soal Perpustakaan Parlemen, Ruhut Minta DPR Berhenti Menghayal
Selasa, 29 Maret 2016 - 13:52 WIB
Soal Perpustakaan Parlemen, Ruhut Minta DPR Berhenti Menghayal
A
A
A
DPR tampaknya tidak satu suara mengenai wacana proyek pembangunan perpustakaan umum parlemen. Pasalnya, Partai Demokrat menolak wacana pembangunan perpustakaan yang rencananya bakal terbesar se-Asia Tenggara itu.
Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul berpendapat, masih banyak yang menjadi prioritas atau lebih penting ketimbang proyek perpustakaan itu.
"Lebih baik membantu anak putus sekolah. Karena kalau dibangun sebesar sepakbola tapi kalau enggak ada yang datang, percuma. Jangan mau ujuk-ujuk bangun perpustakaan," ujar Ruhut saat dihubungi wartawan, Selasa (29/3/2016).
Menurut anggota Komisi III DPR ini, negara bisa maju tanpa adanya proyek perpustakaan tersebut. "Kawan-kawan saya mohon berhenti lah menghayal, buktikan kinerja dulu. Nyatanya kehadiran aja rapat jam 09.00 WIB kuorum diatas jam 11.00 WIB," imbuhnya.
Diketahui, wacana pembangunan perpustakaan umum parlemen kembali muncul ketika sejumlah kalangan menemui Ketua DPR Ade Komarudin pada Selasa 22 Maret 2016.
Sejumlah kalangan itu adalah Pendiri Freedom Institute Rizal Mallarangeng yang datang ke Gedung DPR bersama Ilmuwan Sosial Ignas Kleden, Politikus Partai Demokrat Ulil Abshar Abdalla, Novelis sekaligus Budayawan Ayu Utami.
Hadir pula Aktivis Sosial Budaya Nong Darol Mahmda, Penggiat Budaya atau Pionir Pustaka Pedesaan Nirwan Arsuka, serta Dosen Universitas Paramadina Lutfhi Assyaukanie. Mereka mengusulkan agar perpustakaan itu menjadi terbesar se-Asia Tenggara.
PILIHAN:
Tak Mengerti Insiden Natuna, Oesman Minta Tak Perlu Komentar
Kapal Indonesia Diduga Dibajak Kelompok Abu Sayyaf
Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul berpendapat, masih banyak yang menjadi prioritas atau lebih penting ketimbang proyek perpustakaan itu.
"Lebih baik membantu anak putus sekolah. Karena kalau dibangun sebesar sepakbola tapi kalau enggak ada yang datang, percuma. Jangan mau ujuk-ujuk bangun perpustakaan," ujar Ruhut saat dihubungi wartawan, Selasa (29/3/2016).
Menurut anggota Komisi III DPR ini, negara bisa maju tanpa adanya proyek perpustakaan tersebut. "Kawan-kawan saya mohon berhenti lah menghayal, buktikan kinerja dulu. Nyatanya kehadiran aja rapat jam 09.00 WIB kuorum diatas jam 11.00 WIB," imbuhnya.
Diketahui, wacana pembangunan perpustakaan umum parlemen kembali muncul ketika sejumlah kalangan menemui Ketua DPR Ade Komarudin pada Selasa 22 Maret 2016.
Sejumlah kalangan itu adalah Pendiri Freedom Institute Rizal Mallarangeng yang datang ke Gedung DPR bersama Ilmuwan Sosial Ignas Kleden, Politikus Partai Demokrat Ulil Abshar Abdalla, Novelis sekaligus Budayawan Ayu Utami.
Hadir pula Aktivis Sosial Budaya Nong Darol Mahmda, Penggiat Budaya atau Pionir Pustaka Pedesaan Nirwan Arsuka, serta Dosen Universitas Paramadina Lutfhi Assyaukanie. Mereka mengusulkan agar perpustakaan itu menjadi terbesar se-Asia Tenggara.
PILIHAN:
Tak Mengerti Insiden Natuna, Oesman Minta Tak Perlu Komentar
Kapal Indonesia Diduga Dibajak Kelompok Abu Sayyaf
(kri)