Halangi Menlu RI ke Palestina, Israel Khawatir Kekuatan Indonesia
Senin, 14 Maret 2016 - 16:28 WIB
Halangi Menlu RI ke Palestina, Israel Khawatir Kekuatan Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Israel menghalangi Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Retno LP Marsudi memasuki Ramallah, Palestina. Retno hendak ke Palestina untuk membuka konsulat kehormatan (konhor) pertama Indonesia di Ramallah, Palestina, Maha Abu-Shusheh.
Sikap penolakan itu ditunjukan Israel karena Retno menolak untuk bertemu para pejabat Israel di Yerusalem. (Baca juga: Israel Tak Beri Izin Lintas, Menlu RI Batal ke Ramallah)
Anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya menganggap penolakan Israel sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. "Penolakan itu sesuatu yang biasa-biasa saja, bahwa Menlu sudah mengantisipasi ke Ramallah tak mungkin lewat wilayah Israel, normal penolakan," kata Tantowi Yahya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (14/3/2016).
Dia yakin penolakan yang dilakukan oleh Israel sama sekali tidak melukai perasaan masyarakat Indonesia. Sebaliknya penolakan tersebut merupakan suatu kebanggaan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
"Artinya Israel anggap kita terdepan di negara OKI (Organisasi Konferensi Islam) dalam mendorong negara Palestina. Kalau tak dianggap, biasa saja sikap dia (Israel)," tandasnya.
Dia mendengar kabar bahwa Israel menganggap Indonesia bermain politik satu kaki. "Bahwa kita (Indonesia) hanya mau berunding dengan pihak Palestina, bahwa mereka mengharapkan kita, tapi berunding di negara mereka, sama saja mengakui mereka sebagai negara," lanjutnya.
Oleh karena itu, kata dia, penolakan Israel merupakan suatu kemajuan yang sangat berarti. Dia menganggap penolakan itu menunjukkan Israel memandang serius kekuatan Indonesia dalam mendorong solusi perdamaian antara Negara Israel dengan Palestina.
Meskipun dihalang-halangi oleh otoritas Israel, pelantikan tetap dilakukan meski berpindah lokasi ke KBRI Amman, Yordania.
PILIHAN:
Jelang Vonis, Kenapa Gatot Pujo Bersedih?
Sikap penolakan itu ditunjukan Israel karena Retno menolak untuk bertemu para pejabat Israel di Yerusalem. (Baca juga: Israel Tak Beri Izin Lintas, Menlu RI Batal ke Ramallah)
Anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya menganggap penolakan Israel sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. "Penolakan itu sesuatu yang biasa-biasa saja, bahwa Menlu sudah mengantisipasi ke Ramallah tak mungkin lewat wilayah Israel, normal penolakan," kata Tantowi Yahya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (14/3/2016).
Dia yakin penolakan yang dilakukan oleh Israel sama sekali tidak melukai perasaan masyarakat Indonesia. Sebaliknya penolakan tersebut merupakan suatu kebanggaan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
"Artinya Israel anggap kita terdepan di negara OKI (Organisasi Konferensi Islam) dalam mendorong negara Palestina. Kalau tak dianggap, biasa saja sikap dia (Israel)," tandasnya.
Dia mendengar kabar bahwa Israel menganggap Indonesia bermain politik satu kaki. "Bahwa kita (Indonesia) hanya mau berunding dengan pihak Palestina, bahwa mereka mengharapkan kita, tapi berunding di negara mereka, sama saja mengakui mereka sebagai negara," lanjutnya.
Oleh karena itu, kata dia, penolakan Israel merupakan suatu kemajuan yang sangat berarti. Dia menganggap penolakan itu menunjukkan Israel memandang serius kekuatan Indonesia dalam mendorong solusi perdamaian antara Negara Israel dengan Palestina.
Meskipun dihalang-halangi oleh otoritas Israel, pelantikan tetap dilakukan meski berpindah lokasi ke KBRI Amman, Yordania.
PILIHAN:
Jelang Vonis, Kenapa Gatot Pujo Bersedih?
(dam)