Pemerintah Seleksi 150 Petugas Badal Haji
Jum'at, 18 September 2015 - 22:05 WIB
Pemerintah Seleksi 150 Petugas Badal Haji
A
A
A
MEKKAH - Pemerintah masih menyeleksi petugas yang akan melaksanakan badal haji atau menghajikan jamaah haji yang meninggal dunia. Keluarga jamaah haji tak perlu keluar biaya sedikitpun karena semuanya sudah ditanggung oleh pemerintah. Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekkah Arsyad Hidayat menjelaskan, saat ini proses seleksi masih berlangsung.
“Mereka akan membadal hajikan seluruh jamaah haji yang wafat. Termasuk jamaah haji yang wafat akibat musibah crane ambruk di Masjidilharam,” kata Arsyad kepada wartawan di Kantor Daker Mekkah, Arab Saudi, Jumat 18 September 2015.
Berdasarkan data dari Sistem Komputerisiasi Haji Terpadu (Siskohat), tercatat hingga kemarin jamaah yang meninggal dunia mencapai 100 orang.
“Data ini merupakan rekapitulasi hingga 18 September pukul 03.00 (waktu setempat),” terang Pelaksana Data dan Siskohat, Sahlan Rosidi.
Mereka ada yang meninggal saat masih di embarkasi, di dalam pesawat, saat tinggal di Madinah, dalam bus saat perjalanan dari Madinah menuju Mekkah, saat tinggal di Mekkah sebelum wukuf serta jamaah yang menjadi korban ambruknya crane pada Jumat 11 September.
Selain itu, juga jamaah haji yang sakit dan tergantung pada alat atau di ICCU atau tidak mampu disafariwukufkan serta jamaah yang mengalami gangguan jiwa sesuai keterangan tim kesehatan juga bisa dibadalhajikan.
Kepala Bidang Bimbingan Ibadah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Ali Rokhmad menjelaskan seleksi dilakukan di wilayah kerja Jeddah, Madinah dan Mekkah.
Pada musim haji tahun ini telah disiapkan kuota untuk pelaksana badal haji, yakni 150 orang. Dari jumlah tersebut, 37 petugas berasal dari Jeddah, 37 petugas dari Madinah dan 78 petugas dari Mekkah.
“Seleksi ini untuk mendapatkan petugas badal haji yang benar-benar memahami manasik haji dan berkomitmen dalam pelaksanaan tugasnya. Petugas badal haji ini merupakan tenaga musiman (temus) yang tinggal di Arab Saudi,” ujar Rokhmad.
Petugas yang membadalhajikan, lanjut dia, harus sudah pernah berhaji dan tidak sedang membadalhajikan orang lain.
Sementara Pengendali Teknis Bimbingan Ibadah yang juga Direktur Pembinaan Haji dan Umrah Muhajirin Yanis sebelumnya menyatakan, pemerintah bertanggung jawab penuh untuk membadalhajikan jamaah yang meninggal.
Menurut Muhajirin, jamaah akan dibadalhajikan pada puncak haji 23 September mendatang. “Biaya badal haji akan ditanggung pemerintah sehingga keluarga jamaah tidak perlu mengeluarkan biaya lagi,” tegas Muhajirin.
Selain badal haji, pemerintah juga akan melakukan safari wukuf bagi jamaah yang sedang sakit dan tidak mampu melaksanakan wukuf sendiri.
Safari wukuf dilakukan dengan cara membawa jamaah yang sedang sakit ke Padang Arafah naik kendaraan. Selama perjalanan, jamaah akan didampingi petugas pembimbing ibadah dan petugas kesehatan.
Pilihan:
2 WNI Korban Sandera Tiba di RS Bhayangkara Jayapura
“Mereka akan membadal hajikan seluruh jamaah haji yang wafat. Termasuk jamaah haji yang wafat akibat musibah crane ambruk di Masjidilharam,” kata Arsyad kepada wartawan di Kantor Daker Mekkah, Arab Saudi, Jumat 18 September 2015.
Berdasarkan data dari Sistem Komputerisiasi Haji Terpadu (Siskohat), tercatat hingga kemarin jamaah yang meninggal dunia mencapai 100 orang.
“Data ini merupakan rekapitulasi hingga 18 September pukul 03.00 (waktu setempat),” terang Pelaksana Data dan Siskohat, Sahlan Rosidi.
Mereka ada yang meninggal saat masih di embarkasi, di dalam pesawat, saat tinggal di Madinah, dalam bus saat perjalanan dari Madinah menuju Mekkah, saat tinggal di Mekkah sebelum wukuf serta jamaah yang menjadi korban ambruknya crane pada Jumat 11 September.
Selain itu, juga jamaah haji yang sakit dan tergantung pada alat atau di ICCU atau tidak mampu disafariwukufkan serta jamaah yang mengalami gangguan jiwa sesuai keterangan tim kesehatan juga bisa dibadalhajikan.
Kepala Bidang Bimbingan Ibadah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Ali Rokhmad menjelaskan seleksi dilakukan di wilayah kerja Jeddah, Madinah dan Mekkah.
Pada musim haji tahun ini telah disiapkan kuota untuk pelaksana badal haji, yakni 150 orang. Dari jumlah tersebut, 37 petugas berasal dari Jeddah, 37 petugas dari Madinah dan 78 petugas dari Mekkah.
“Seleksi ini untuk mendapatkan petugas badal haji yang benar-benar memahami manasik haji dan berkomitmen dalam pelaksanaan tugasnya. Petugas badal haji ini merupakan tenaga musiman (temus) yang tinggal di Arab Saudi,” ujar Rokhmad.
Petugas yang membadalhajikan, lanjut dia, harus sudah pernah berhaji dan tidak sedang membadalhajikan orang lain.
Sementara Pengendali Teknis Bimbingan Ibadah yang juga Direktur Pembinaan Haji dan Umrah Muhajirin Yanis sebelumnya menyatakan, pemerintah bertanggung jawab penuh untuk membadalhajikan jamaah yang meninggal.
Menurut Muhajirin, jamaah akan dibadalhajikan pada puncak haji 23 September mendatang. “Biaya badal haji akan ditanggung pemerintah sehingga keluarga jamaah tidak perlu mengeluarkan biaya lagi,” tegas Muhajirin.
Selain badal haji, pemerintah juga akan melakukan safari wukuf bagi jamaah yang sedang sakit dan tidak mampu melaksanakan wukuf sendiri.
Safari wukuf dilakukan dengan cara membawa jamaah yang sedang sakit ke Padang Arafah naik kendaraan. Selama perjalanan, jamaah akan didampingi petugas pembimbing ibadah dan petugas kesehatan.
Pilihan:
2 WNI Korban Sandera Tiba di RS Bhayangkara Jayapura
(maf)