Mulai dari Fondasi Berpikir

Selasa, 15 September 2015 - 10:29 WIB
Mulai dari Fondasi Berpikir
Mulai dari Fondasi Berpikir
A A A
Sejatinya segala pergerakan kita dipengaruhi oleh pola pikir. Apa yang kita pikirkan menentukan apa yang akan kita kerjakan.

Betapa krusialnya suatu pola pikir sehingga ia dapat melahirkan sebuah gagasan, aksi, produk, bahkan budaya. Kendati demikian, pola pikir tidak hanya dengan satu perannya dalam memengaruhi, tapi juga dipengaruhi, salah satunya oleh perkembangan zaman.

Teknologi yang terus bertumbuh, pun derasnya arus globalisasi, mampu mereformasi pola pikir. Masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) sudah di depan mata, namun justru Indonesia masih terjebak dalam satu paradoks klasik; mal jumlahnya terus membelah diri seperti amoeba, sementara ratusan proyek pembangunan infrastruktur terbengkalai. Ini menunjukkan, ada prioritas yang terbalik.

Pemenuhan hasrat konsumtif diberikan ruang lebih dibandingkan pembangunan salah satu sektor penting yang dapat mempercepat laju pembangunan nasional. Bila kita runut ke belakang, akar permasalahannya terletak pada budaya konsumtif yang sedang mewabah. Produk dari pola pikir yang keliru ketika keinginan dipandang sebagai sebuah kebutuhan.

Kita terjebak pada keinginan untuk terus mengikuti tren, tidak mau ketinggalan dengan yang lain. Seperti hukum ekonomi, suatu bisnis atau produk dibuat karena ada permintaan. Mal-mal terus dibangun karena semakin naiknya angka konsumsi/pengeluaran. Para pengusaha melihat hal ini sebagai peluang. Kemudian ironisnya, terciptalah sebuah pemikiran bahwa tingginya angka pengeluaran (spending growth) menunjukkan pertumbuhan ekonomi bangsa.

Tidak bisa dimungkiri, ada begitu banyak faktor yang akhirnya menimbulkan fenomena besar pasak daripada tiang tersebut. Salah satunya yang dewasa ini bisa kita lihat secara langsung adalah ketergantungan masyarakat kita akan barang impor, branded, yang dinilai mampu menambah gengsi atau prestis bagi para pemakainya.

Pemikiran yang seperti ini yang perlu dirombak ulang. Bila kita mau lebih jeli, produk-produk lokal tidak kalah dalam kualitas, harga pun sudah pasti lebih murah dibanding barang impor. Yang membedakan hanya merek, ternama atau tidak. Bila orientasi belanja pada merek bisa dialihkan kepada kualitas, sudah tentu produk lokal akan menjadi primadona di negeri sendiri.

Budaya konsumtif dan ketergantungan akan barang impor hanya dua dari banyak permasalahan yang menghambat perekonomian kita. Terlebih, dengan terus melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS merupakan tamparan keras bagi kelangsungan perekonomian di Indonesia. Sebagai rakyat, kita dapat melakukan satu langkah kecil, namun nyata. Mulailah dari menata ulang fondasi berpikir kita.

Gunakan uang yang kita miliki dengan bijak dan penuh perhitungan, pintar-pintar memilah mana yang merupakan keinginan dan mana yang memang kebutuhan. Jika tidak kita akan selamanya terlena menjadi budak konsumerisme, yang tak lain adalah produk dari pola pikir kita sendiri.

SELLI NISRINA FARADILA
Mahasiswi Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomika dan BisnisUniversitas Diponegoro
(ftr)
Berita Terkait
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
10 Figur Publik Penerima...
10 Figur Publik Penerima Beasiswa LPDP, dari Mutiara Baswedan hingga Maudy Ayunda
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved