E-commerce: Masa Depan Ekonomi

Senin, 07 September 2015 - 08:54 WIB
E-commerce: Masa Depan...
E-commerce: Masa Depan Ekonomi
A A A
Dina Amalia Puspa
Mahasiswi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Mungkin banyak dari Anda yang pernah menggunakan jasa angkut Gojek, membeli baju Lebaran di Zalora, mencicil kamera terbaru di Lazada, atau sekadar belanja online. Perdagangan elektronik atau ecommerce memang kian marak.

Hal ini didukung oleh makin meleknya rakyat Indonesia terhadap internet. Parminder Singh, managing director Twitter untuk kawasan Asia, mengemukakan pendapatnya tentang alasan pertumbuhan internet Indonesia yang begitu tinggi. Indonesia saat ini tengah menghadapi bonus demografi, artinya jumlah usia produktif lebih banyak.

Pertumbuhan usia produktif di Indonesia bisa mencapai 280 juta orang pada 2030. Anak-anak muda ini umumnya masuk ke dalam kelas konsumen dan begitu mobile. Jika ada satu hal yang mereka inginkan, itu adalah konektivitas (melalui internet). Hal ini ikut mendongrak potensi pengembangan ecommerce Indonesia. Namun kita belumlah matang.

Jika menginginkan pertumbuhan e-commerce yang maksimal, tiga masalah berikut harus segera diselesaikan. Pertama, regulasi pemerintah. Hingga kini ecommerce masuk dalam Daftar Negatif Investasi, artinya investor luar dilarang memberi suntikan modal. Akibatnya investor yang ingin memberikan investasi biasanya memberikan dana dalam bentuk utang.

Negara pun tidak mendapat penerimaan pajak karena perusahaan e-commerce tidak mencatat laba. Kedua, sistem pembayaran. Mayoritas transaksi ecommerce masih berbasis kas dan sistem pembayaran belum terintegrasi. Tingkat pemilik tabungan di Indonesia belum merata (terutama di desa-desa), kartu kredit apalagi.

Para pelaku usaha e-commerce harus menyadari hal ini. Edukasi kepada masyarakat harus digencarkan. Ketiga, infrastruktur, baik kondisi jalan maupun internet. Sebagaimana dikutip dari Techinasia , pada 2015 Lazada menyatakan 60% konsumen mereka berada di luar Jakarta dengan 20% berada di luar Jawa. Adapun di Tokopedia, walaupun 60% vendor berasal dari Jawa, 60% barang dikirim ke luar Jawa.

Pembangunan di Indonesia belum merata, termasuk jalanannya. Jika jalanan buruk, pengiriman barang transaksi ecommerce pun terhambat. Berkembangnya e-commerce akan memiliki multiplier effect, antara lain mengurangi pengangguran, memajukan bisnis logistik, dan memperkuat sektor elektronik lainnya. Peluang emas ini tidak boleh kita lewatkan.

Mungkin benar jika Redwing Asia menjuluki ecommerce Indonesia sebagai “a Big Bang waiting to happen”. Bisa dibilang, e-commerce adalah masa depan ekonomi Indonesia.
(ars)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Prabowo Panggil Luhut...
Prabowo Panggil Luhut hingga Chatib Basri di Hambalang, Bahas Apa?
Mendagri Minta Pemda...
Mendagri Minta Pemda Perkuat Pasokan dan Distribusi demi Jaga Inflasi Tetap Terkendali
Gus Yahya Siap Mencalonkan...
Gus Yahya Siap Mencalonkan Kembali Jadi Ketum PBNU di Muktamar NU ke-35
KPK Geledah Rumah Anggota...
KPK Geledah Rumah Anggota BPK Bobby Rizaldi
Mendagri: Kades Harus...
Mendagri: Kades Harus Naik Kelas agar Desa Mandiri dan Bendung Urbanisasi
Pelimpahan Perkara Febrie...
Pelimpahan Perkara Febrie Adriansyah Dinilai Jadi Ujian Integritas Kejaksaan
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved