Kota Pintar

Rabu, 10 Juni 2015 - 08:22 WIB
Kota Pintar
Kota Pintar
A A A
Konsep smart city atau kota pintar tengah menjadi tren akhirakhir ini. Banyak kota ataupun kabupaten pun mulai menyusun program untuk menjadi kota pintar.

Saat ini setidaknya sudah ada beberapa kota besar di Indonesia yang tengah merintis membentuk kota pintar di antaranya Bandung, Makassar, Balikpapan, dan Surabaya. Bahkan Surabaya sudah berhasil mendapat penghargaan Smart City Award 2011 yakni smart environment , smart living , dan smart governance dari majalah Warta Ekonomi dan Warta eGov. Namun, masih banyak yang menganggap kota pintar adalah kota yang sekadar berbasis teknologi informasi.

Memang tidak salah, namun bukan hal yang tepat jika dikatakan kota pintar sekadar berbasis pada teknologi informasi. Konsep kota pintar lebih tepat disebut bagaimana mewujudkan masyarakat di kota tersebut merasa nyaman dalam menjalani kehidupannya. Kenyamanan kehidupan masyarakat di sebuah kota atau community tentu dipengaruhi beberapa aspek.

Dari beberapa literatur, aspek untuk mewujudkan kota pintar adalah kenyamanan dalam mobilitas (infrastruktur dan transportasi massal), pendidikan, kesehatan, lingkungan sosial (penggunaan sumber daya energi, kebersihan lingkungan, ataupun interaksi sosial), keamanan lingkungan, dan pelayanan pemerintah (good governance). Bisa jadi ada aspek-aspek lain yang bisa menambah sehingga sebuah kota dianggap sebagai kota pintar.

Jika melihat aspek-aspek tersebut, kota pintar bukan semata pada teknologi informasi. Surabaya bisa menjadi contoh. Ibu kota Provinsi Jawa Timur tersebut bisa dilabeli kota pintar karena mampu membangun taman kota atau ruang terbuka hijau hingga 40%. Keberadaan taman kota membuat polusi kota terbesar di Indonesia tersebut menjadi berkurang. Ruang interaksi masyarakat bisa tercipta karena beberapa taman digunakan untuk sekadar nongkrong atau ada gelaran acara.

Selain itu, penggunaan Wi-Fi gratis di beberapa titik, penggunaan CCTV dalam mengawasi lalu lintas, hingga pengelolaan sampah yang berbasis teknologi informasi juga menjadi tolok ukur Surabaya sebagai kota pintar. Apakah Surabaya sudah benar-benar disebut kota pintar? Tentu belum 100%. Karena, masih ada beberapa aspek yang harus dipenuhi. Salah satunya bagaimana membuat warganya merasa nyaman dalam melakukan mobilitas.

Infrastruktur juga masih menjadi pekerjaan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Begitu juga dengan transportasi massal yang tengah menjadi perhatian Risma. Dalam beberapa tahun ke depan, Surabaya akan membangun jaringan transportasi trem juga light rail transit (LRT ). Apakah dengan ada trem atau LRT yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat, persoalan transportasi massal di Surabaya selesai?

Belum juga. Karena, butuh manajemen transportasi yang terintegrasi dengan moda transportasi lainnya. Pekerjaan rumah lainnya adalah semakin merapikan sistem pendidikan dan kesehatan, pengelolaan sumber energi, tata kelola pemerintahan, atau bahkan keamanan lingkungan. Bagaimana dengan kota-kota besar lainnya, atau bahkan Jakarta sebagai ibu kota Indonesia?

Tampaknya masih jauh dari harapan. Jakarta yang sudah mempunyai segala prasyarat untuk menjadi kota pintar belum bisa seperti Surabaya. Berbicara tentang ruang terbuka hijau, Jakarta masih jauh dari konsep kota pintar karena masih di bawah 20% atau bahkan di bawah 15%. Sedangkan infrastruktur dan transportasi massal masih menjadi persoalan utama di Jakarta. Banjir, macet, dan lemahnya pengelolaan transportasi massal adalah isu yang hampir setiap hari.

Jakarta mempunyai pekerjaan rumah yang besar karena Jakarta salah satu kota terbesar di Asia, namun juga masuk 10 besar kota dengan sustainable cities index terendah pada 2015 ini. Belum lagi sematan kota termacet di dunia dengan indeks 32,240 atau nomor 10 kota tidak teraman dunia, Jakarta sebagai kota pintar masih jauh.

Butuh peran pemerintah pusat untuk membenahi Jakarta karena kota ini ikon Indonesia. Memang masih sangat jauh untuk mewujudkan konsep kota pintar pada Jakarta, namun merintis seperti Surabaya adalah upaya yang cukup bagus.
(bhr)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1202 seconds (11.97#12.26)