Jokowi Diminta Copot Menteri yang Lambat Bekerja
Selasa, 19 Mei 2015 - 15:27 WIB
Jokowi Diminta Copot Menteri yang Lambat Bekerja
A
A
A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta segera merombak posisi atau me-reshuffle menteri yang tidak sanggup mengimbangi kecepatan kinerja Kepala Negara.
Hal tersebut diungkapkan pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Bonie Hargens di Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta Pusat.
Bonie mengatakan, reshuffle kabinet dapat dilakukan Presiden Jokowi dengan catatan, reshuffle tersebut berdasarkan evaluasi yang dilakukan Presiden sendiri.
"Reshuffle kabinet hak prerogatif Presiden. Harus dilakukan berdasarkan koreksi internal istana, bukan karena dorongan parpol (partai politik) atau yang lain," kata Bonie, di daerah Menteng, Jakarta, Selasa (19/5/2015).
Dalam kesempatan itu, Bonie menyampaikan kritiknya terhadap Kabinet Kerja Jokowi-JK. Menurutnya, perlu dorongan dan penguatan agar kabinet yang telah bekerja selama enam bulan ini dapat berlari lebih cepat.
Saat disinggung siapa saja menteri yang layak diganti, Bonie enggan menjawab panjang lebar. Namun demikian, dia mengisyaratkan menteri di bidang ekonomi dan keamanan adalah pembantu presiden yang layak untuk diganti.
"Menteri yang lamban perlu dikoreksi. Fatalnya hari ini masyarakat gelisah dengan situasi ekonomi dan keamanan serta pertahanan. Ini menuntut respons yang cepat dari pemerintah," ucap Bonie.
"Dengan kata lain, kalau kemaanan bermasalah orang pertama yang harus kita tanya adalah koordinator menteri di bidang keamanan. Kalau ekonomi lemah, kita juga harus tanya siapa menteri ekonominya," pungkasnya.
Hal tersebut diungkapkan pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Bonie Hargens di Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta Pusat.
Bonie mengatakan, reshuffle kabinet dapat dilakukan Presiden Jokowi dengan catatan, reshuffle tersebut berdasarkan evaluasi yang dilakukan Presiden sendiri.
"Reshuffle kabinet hak prerogatif Presiden. Harus dilakukan berdasarkan koreksi internal istana, bukan karena dorongan parpol (partai politik) atau yang lain," kata Bonie, di daerah Menteng, Jakarta, Selasa (19/5/2015).
Dalam kesempatan itu, Bonie menyampaikan kritiknya terhadap Kabinet Kerja Jokowi-JK. Menurutnya, perlu dorongan dan penguatan agar kabinet yang telah bekerja selama enam bulan ini dapat berlari lebih cepat.
Saat disinggung siapa saja menteri yang layak diganti, Bonie enggan menjawab panjang lebar. Namun demikian, dia mengisyaratkan menteri di bidang ekonomi dan keamanan adalah pembantu presiden yang layak untuk diganti.
"Menteri yang lamban perlu dikoreksi. Fatalnya hari ini masyarakat gelisah dengan situasi ekonomi dan keamanan serta pertahanan. Ini menuntut respons yang cepat dari pemerintah," ucap Bonie.
"Dengan kata lain, kalau kemaanan bermasalah orang pertama yang harus kita tanya adalah koordinator menteri di bidang keamanan. Kalau ekonomi lemah, kita juga harus tanya siapa menteri ekonominya," pungkasnya.
(maf)