Papua Jangan Dilupakan

Selasa, 27 Oktober 2015 - 12:38 WIB
Papua Jangan Dilupakan
Papua Jangan Dilupakan
A A A
Salah satu agenda Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam kunjungan kerja ke Amerika Serikat (AS) adalah bertemu para eksekutif Freeport McMoran Inc, perusahaan induk PT Freeport Indonesia.Agenda perjalanan Presiden selama lima hari di Negeri Paman Sam itu telah tersebar luas di media sosial secara rinci dengan pihak mana saja yang akan ditemui. Namun, setelah Presiden dan rombongan berada di AS, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said membantah bahwa tidak ada agenda khusus dengan petinggi Freeport McMoran.Dalam kunjungan tersebut, Presiden yang didampingi sejumlah anggota Kabinet Kerja akan memaksimalkan kerja sama investasi antara AS dan Indonesia pada sektor energi meliputi bidang kelistrikan, energi baru terbarukan, serta minyak dan gas bumi. Semula, banyak yang menduga agenda pertemuan dengan eksekutif Freeport McMoran patut diduga tak lepas dari persoalan divestasi saham sebesar 20%,rencana investasi yang nilainya mencapai puluhan miliar dolar AS, dan soal perpanjangan kontrak anak perusahaan tambang tersebut yang sudah beroperasi puluhan tahun di Indonesia. Tiga poin penting yang menyangkut keberadaan Freeport Indonesia di Papua telah menjadi polemik yang tajam belakangan ini, baik di kalangan pengelola negara maupun publik yang menyatakan peduli terhadap negeri ini.Mengenai jadwal divestasi kedua saham Freeport Indonesia sekitar 10,63% seharusnya sudah masuk ke pemerintah sejak pertengahan Oktober lalu. Berdasarkan informasi dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DKJN) Kementerian Keuangan, Freeport McMoran belum mengajukan penawaran divestasi saham kepada pemerintah pusat hingga pekan lalu.Sebaliknya, pemerintah pun belum menetapkan opsi mengambil alih saham divestasi salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia itu. Sementara itu, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah menugasi dua perusahaan pelat merah yang berpotensi membeli saham tersebut yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dan PT Aneka Tambang Tbk karena sejalan dengan bisnis perseroan.Menteri BUMN Rini Soemarno sudah menunjuk PT Bahana Securities untuk mengkaji rencana pengambilalihan saham divestasi Freeport Indonesia. Bagaimana kesiapan pembiayaan perusahaan negara tersebut? Pihak Inalum menyatakan soal pembiayaan tidak ada masalah.Saat ini perseroan memiliki kemampuan untuk mendapatkan pinjaman (ratio leverage ) hingga sekitar USD1 miliar, dan didukung oleh kondisi perusahaan yang masuk kategori tanpa utang sehingga lembaga keuangan dan perbankan tak akan khawatir mengucurkan pembiayaan. Selain itu, perseroan juga memiliki dana tunai sekitar USD400 juta dengan total aset sebesar USD1,1 miliar.Namun, manajemen Inalum masih merahasiakan komposisi antara pendanaan internal dan pinjaman bank. Di tengah persiapan Inalum dan Antam untuk membeli saham divestasi Freeport Indonesia kini muncul wacana untuk melepas lewat penawaran saham perdana atau ini tialpublicoffering (IPO).Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang PS Brodjonegoro termasuk merekomendasi pelepasan saham tersebut melalui IPO. ”Saya sih lebih baik masuk market supaya pendalaman pasar kita, khususnya pasar modal sehingga menjadi kuat,” tegasnya belum lama ini. Sebelumnya Menteri ESDM Sudirman Said telah menyampaikan pandangan senada untuk melepas saham divestasi perusahaan tambang emas itu melalui mekanisme IPO.Pandangan dua pembantu Presiden itu diamini oleh Freeport Indonesia karena dinilai lebih akuntabel dan transparan. Sayangnya, mekanisme IPO tersebut belum memiliki payung hukum. Wacana pelepasan saham lewat IPO ditentang sejumlah pihak di antaranya datang dari Anggota Komisi VII DPR Kurtubi.Pria yang dikenal sebagai pengamat migas itu menyatakan negara tidak akan mendapatkan keuntungan sama sekali, apalagi Freeport berkesempatan mengambil kembali sahamnya dipasar. Pihak yang tidak setuju dengan mekanisme IPO malah meminta agar pemerintah pusat (BUMN) tetap tampil sebagai pembeli utama dengan melibatkan pemerintah daerah (BUMD).Sekadar mengingatkan, jangan sampai pemerintah daerah Papua diabaikan untuk mendapatkan bagian saham divestasi Freeport Indonesia, yang bisa menumbuhkan benih-benih perpecahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(bhr)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Mantan Petinggi OJK...
Mantan Petinggi OJK Ditahan Bareskrim terkait Kasus Dana Syariah Indonesia
Boni Hargens Minta Hilangkan...
Boni Hargens Minta Hilangkan Prasangka Buruk terhadap Polri
Sony Sonjaya Ungkap...
Sony Sonjaya Ungkap 41 Nama Diduga Minta Titik SPPG, Sahroni Khawatir untuk Mengelabui Penyidik
Din Syamsuddin Sebut...
Din Syamsuddin Sebut Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Dipaksakan: Kezaliman yang Nyata
Periksa Silmy Karim,...
Periksa Silmy Karim, KPK Telusuri Asal-usul Aset
Ziarah ke Makam Soekarno...
Ziarah ke Makam Soekarno di Blitar, Kapolri: Menyerap Nilai Pemimpin Bangsa
Infografis
11 Bandara Papua Ditutup...
11 Bandara Papua Ditutup Sementara Imbas Penembakan Pesawat Smart Air
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved