Ini Telaah Ahli Psikologi Forensik, Mengapa Emosi Ferdy Sambo Bisa Memuncak
Senin, 26 Desember 2022 - 20:04 WIB
loading...
A
A
A
Di sisi lain, Reni juga menjelaskan mengapa Putri Candrawathi yang menjadi korban kekerasan seksual oleh Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J masih mampu menanggulangi situasi trauma yang dialami, bahkan menemui pelaku.
“Yang terjadi pada Ibu PC berdasarkan teori, lebih sesuai dengan respons yang kontrol. Jadi seolah tidak ada emosi apa-apa, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, itu merupakan satu bentuk defense mechanism (mekanisme bertahan) untuk bisa tetap tegar, mekanisme pertahanan jiwa,” tegas Reni.
Lebih lanjut, Reni Kusumowardhani pun menuturkan pada Rape Trauma Syndrom atau sindrom perempuan yang mengalami kekerasan seksual sampai pemerkosaan memang ada fase akut. Dalam fase akut atau fase segera ini, sambung Reni, kemungkinannya ada tiga hal yang terjadi pada korban kekerasan seksual.
“Yang pertama adalah express, jadi di sini adalah mengekspresikan kemarahannya, yang kedua itu kontrol, di kontrol ini satu penekanan dan ini memang berelasi dengan ciri-ciri kepribadian tertentu yang internalizing tadi, jadi menekan rasa marahnya, menekan rasa takutnya, menekan rasa malunya, meskipun itu muncul, itu ada itu dikontrol dan kemudian yang ketiga adalah shock disbelief menjadi sulit berkonsentrasi dan sulit mengambil keputusan,” ucap Reni.
“Yang terjadi pada Ibu PC berdasarkan teori, lebih sesuai dengan respons yang kontrol. Jadi seolah tidak ada emosi apa-apa, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, itu merupakan satu bentuk defense mechanism (mekanisme bertahan) untuk bisa tetap tegar, mekanisme pertahanan jiwa,” tegas Reni.
Lebih lanjut, Reni Kusumowardhani pun menuturkan pada Rape Trauma Syndrom atau sindrom perempuan yang mengalami kekerasan seksual sampai pemerkosaan memang ada fase akut. Dalam fase akut atau fase segera ini, sambung Reni, kemungkinannya ada tiga hal yang terjadi pada korban kekerasan seksual.
“Yang pertama adalah express, jadi di sini adalah mengekspresikan kemarahannya, yang kedua itu kontrol, di kontrol ini satu penekanan dan ini memang berelasi dengan ciri-ciri kepribadian tertentu yang internalizing tadi, jadi menekan rasa marahnya, menekan rasa takutnya, menekan rasa malunya, meskipun itu muncul, itu ada itu dikontrol dan kemudian yang ketiga adalah shock disbelief menjadi sulit berkonsentrasi dan sulit mengambil keputusan,” ucap Reni.
(cip)
Lihat Juga :