Membangun Kultur Baru Pertarungan Politik
Senin, 26 Desember 2022 - 17:30 WIB
loading...
A
A
A
Pertanyaannya apakah urgensi harapan tersebut disampaikan? Jawabannya, sudah pastiya! Realitas ini berdasar situasi dan kondisi yang melingkupi pesta demokrasi sebelumnya, khususnya semenjak Pemilu dan Pilpres 2014.
Penyelenggara Pemilu, dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memang telah menetapkan proses demokrasi telah berjalan denganfair, hingga hasil pemilu dan pilpres dianggap sah. Pun adu gagasan memang secara formal telah diwujudkan dengan adu visi misi parpol dan debat kandidat capres-cawapres yang bisa disaksikan semua lapisan masyarakat, termasuk disiarkan secara live di televisi.
Namun, harus diakui bahwa di balik itu proses demorasi masih diwarnai dengan permainan politik uang yang terbilang sangat massif dan permainan penyelenggara pemilu di berbagai level. Lebih memprihatinkan lagi, kampanye pemilu penuh dengan nuansa politisasi agama, politik SARA, hingga politik identitas.
Akibatnya, aspek rasionalitas untuk memilih parpol dan capres-cawapres yang diharapkan bisa melakukan perubahan negara menjadi lebih baik jauh panggang dari api.
Yang memprihatinkan, pertarungan di tataran elite politik yang sejatinya sangat pragmatis dan jauh dari idealitas seperti digembar-gemborkan telah membelah masyarakat secara horizontal. Celakanya api yang terlanjur membara sebagai dampak kerasnya pertarungan itu masih terasa panasnya hingga kini. Masih eksisnya istilah ‘kadrun’ vs ‘cebong’ menjadi indikasinya belum mendinginnya konflik politik yang terjadi dari level elite hingga massa pendukung.
Penyelenggara Pemilu, dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memang telah menetapkan proses demokrasi telah berjalan denganfair, hingga hasil pemilu dan pilpres dianggap sah. Pun adu gagasan memang secara formal telah diwujudkan dengan adu visi misi parpol dan debat kandidat capres-cawapres yang bisa disaksikan semua lapisan masyarakat, termasuk disiarkan secara live di televisi.
Namun, harus diakui bahwa di balik itu proses demorasi masih diwarnai dengan permainan politik uang yang terbilang sangat massif dan permainan penyelenggara pemilu di berbagai level. Lebih memprihatinkan lagi, kampanye pemilu penuh dengan nuansa politisasi agama, politik SARA, hingga politik identitas.
Akibatnya, aspek rasionalitas untuk memilih parpol dan capres-cawapres yang diharapkan bisa melakukan perubahan negara menjadi lebih baik jauh panggang dari api.
Yang memprihatinkan, pertarungan di tataran elite politik yang sejatinya sangat pragmatis dan jauh dari idealitas seperti digembar-gemborkan telah membelah masyarakat secara horizontal. Celakanya api yang terlanjur membara sebagai dampak kerasnya pertarungan itu masih terasa panasnya hingga kini. Masih eksisnya istilah ‘kadrun’ vs ‘cebong’ menjadi indikasinya belum mendinginnya konflik politik yang terjadi dari level elite hingga massa pendukung.
Lihat Juga :