Tahun Politik 2023 dan Ancaman Resesi Global
Selasa, 20 Desember 2022 - 16:55 WIB
loading...
A
A
A
Dinamika pencapresan ini tentu akan sangat memengaruhi situasi politik dan keamanan Tanah Air. Situasi politik yang stabil tentu menjadi harapan para pelaku usaha. Iklim investasi akan tetap kondusif dan pertumbuhan ekonomi terjaga jika tercipta stabilitas politik. Kondisi sebaliknya pun demikian. Artinya, kondisi perekonomian domestik pada 2023 akan sangat dipengaruhi oleh hiruk pikuk politik dalam negeri.
Dari sudut pandang ekonomi, sebenarnya tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan Indonesia akan ikut tergulung gelombang resesi global. Bahkan, sebaliknya, perlu optimistis. Indikator makroekonomi Indonesia jelas memberi isyarat bahwa keadaan ekonomi tahun depan akan baik-baik saja. Inflasi Indonesia relatif terjaga yakni di angka 5,7%, di saat banyak negara di dunia justru sudah di atas 10%, bahkan ada yang 80%.
Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2022 mencapai 5,72% (yoy). Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bahkan optimistis pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5,2% (yoy) pada 2022 dan 5,3% (yoy) pada 2023. Bandingkan dengan prediksi pertumbuhan ekonomi global.
Mengacu risalah IMF bertajuk World Economic Outlook (11/2022), pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 2,7%. Artinya, berdasarkan data di atas Indonesia hanya butuh waspada, tanpa perlu khawatir berlebihan.
Tantangan sebenarnya justru ada pada bidang politik. Sebagaimana disinggung di atas, stabilitas politik keamanan pada 2023 sangat penting untuk diciptakan demi menjamin perekonomian tetap berjalan baik.
Di sinilah kepemimpinan Presiden Joko Widodo diuji. Kepala Negara tidak hanya cukup memastikan perekonomian aman di tengah ketidakpastian namun juga harus merawat situasi politik dalam negeri agar tetap kondusif. Ibarat mendayung di antara dua karang, Jokowi harus mampu menjaga kedua hal tersebut berjalan dengan baik.
Dari sudut pandang ekonomi, sebenarnya tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan Indonesia akan ikut tergulung gelombang resesi global. Bahkan, sebaliknya, perlu optimistis. Indikator makroekonomi Indonesia jelas memberi isyarat bahwa keadaan ekonomi tahun depan akan baik-baik saja. Inflasi Indonesia relatif terjaga yakni di angka 5,7%, di saat banyak negara di dunia justru sudah di atas 10%, bahkan ada yang 80%.
Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2022 mencapai 5,72% (yoy). Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bahkan optimistis pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5,2% (yoy) pada 2022 dan 5,3% (yoy) pada 2023. Bandingkan dengan prediksi pertumbuhan ekonomi global.
Mengacu risalah IMF bertajuk World Economic Outlook (11/2022), pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 2,7%. Artinya, berdasarkan data di atas Indonesia hanya butuh waspada, tanpa perlu khawatir berlebihan.
Tantangan sebenarnya justru ada pada bidang politik. Sebagaimana disinggung di atas, stabilitas politik keamanan pada 2023 sangat penting untuk diciptakan demi menjamin perekonomian tetap berjalan baik.
Di sinilah kepemimpinan Presiden Joko Widodo diuji. Kepala Negara tidak hanya cukup memastikan perekonomian aman di tengah ketidakpastian namun juga harus merawat situasi politik dalam negeri agar tetap kondusif. Ibarat mendayung di antara dua karang, Jokowi harus mampu menjaga kedua hal tersebut berjalan dengan baik.