Merancang Korupsi dari Ranjang
Sabtu, 11 Juli 2020 - 08:29 WIB
loading...
A
A
A
Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin mengungkapkan, pasutri terjerat korupsi bagian dari cerminan politik dinasti atau oligarki. Istri atau keluarga lainnya terlalu banyak mencampuri urusan bisnis atau proyek suami sehingga memicu penyelewengan anggaran.
“Kasus pasutri terjerat korupsi, saya kira tidak bisa dilepaskan dari dinasti politik. Dari sejumlah kasus, kekuasaan politik yang berhubungan dengan kekerabatan rentan melakukan korupsi. Apalagi, jika dinasti tersebut berkuasa dalam rentang waktu yang cukup lama,” ungkap Ujang kemarin.
Menurut dia, para kepala daerah atau pejabat seharusnya bisa becermin dari kehidupan mantan Presiden BJ Habibie. Saat menjadi pejabat, istri Pak Habibie tidak pernah mencampuri urusan suaminya. Sang istri hanya mendoakan atau mendukung penuh apa yang dilakukan suami. “Ini yang tidak dilakukan istri pejabat atau kepala daerah. Sebaliknya, para istri sangat bernafsu bagaimana mendapat proyek dan menghasilkan uang banyak,” ungkap Ujang. (Baca juga: AS Puji Respons Indonesia Terkait Pengungsi Rohingya)
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review ini menjelaskan, modus para istri membujuk suami berbuat korupsi biasanya dilakukan saat berada di atas ranjang. Selain urusan seks, mereka juga membuat rencana untuk mendapat uang dari sejumlah proyek. “Ide untuk korupsi itu banyak juga datang saat pasutri sedang berada di atas ranjang,” terang Ujang.
Peran perempuan, kata dia, sangat penting sebagai agen pemberantas korupsi. Ujang menganalogikan dengan istilah harta, tahta, dan wanita. Perempuan mempunyai potensi sangat besar karena berperan penting dalam pendidikan anak dan rumah tangga. Namun, peran serta pengajaran nilai antikorupsi masih minim. “Biasanya konstruksi budaya yang menyebabkan istri dan keluarga ikut tersandung bila seorang pejabat,” terangnya.
“Kasus pasutri terjerat korupsi, saya kira tidak bisa dilepaskan dari dinasti politik. Dari sejumlah kasus, kekuasaan politik yang berhubungan dengan kekerabatan rentan melakukan korupsi. Apalagi, jika dinasti tersebut berkuasa dalam rentang waktu yang cukup lama,” ungkap Ujang kemarin.
Menurut dia, para kepala daerah atau pejabat seharusnya bisa becermin dari kehidupan mantan Presiden BJ Habibie. Saat menjadi pejabat, istri Pak Habibie tidak pernah mencampuri urusan suaminya. Sang istri hanya mendoakan atau mendukung penuh apa yang dilakukan suami. “Ini yang tidak dilakukan istri pejabat atau kepala daerah. Sebaliknya, para istri sangat bernafsu bagaimana mendapat proyek dan menghasilkan uang banyak,” ungkap Ujang. (Baca juga: AS Puji Respons Indonesia Terkait Pengungsi Rohingya)
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review ini menjelaskan, modus para istri membujuk suami berbuat korupsi biasanya dilakukan saat berada di atas ranjang. Selain urusan seks, mereka juga membuat rencana untuk mendapat uang dari sejumlah proyek. “Ide untuk korupsi itu banyak juga datang saat pasutri sedang berada di atas ranjang,” terang Ujang.
Peran perempuan, kata dia, sangat penting sebagai agen pemberantas korupsi. Ujang menganalogikan dengan istilah harta, tahta, dan wanita. Perempuan mempunyai potensi sangat besar karena berperan penting dalam pendidikan anak dan rumah tangga. Namun, peran serta pengajaran nilai antikorupsi masih minim. “Biasanya konstruksi budaya yang menyebabkan istri dan keluarga ikut tersandung bila seorang pejabat,” terangnya.
Lihat Juga :