Inspiratif, Pendeta di Bantul Turut Gotong Royong Bangun Masjid di Kampung Karanggede Bantul
Minggu, 04 Desember 2022 - 11:36 WIB
loading...
A
A
A
Meski izin secara resmi baru keluar pada 2017, namun masyarakat setempat tidak pernah mempersoalkan hal itu. “Masyarakat welcome dan tidak ribet. Tidak mempersoalkan itu (izin gereja),” ujarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari Pendeta Wijayadi juga diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar. Dalam acara-acara kampung dia juga terlibat mulai dari acara kenduri selamatan atau hajatan warga dirinya juga diundang. Termasuk saat ada warga meninggal. Pendeta ini juga ikut menggali kubur bersama warga lain sesama muslim.
“Kalau ada kenduri, tradisi Jawa selametan saya ikut. Mereka berdoa dengan keyakinan mereka ya saya juga ikut mendoakan dengan keyakinan kami,” ucapnya.
Tak hanya soal kenduri, saat pembangunan masjid, Pendeta Wijayadi juga ikut bergotong royong. “Dulu kan ini musala, kemudian dibangun masjid sekitar tahun 2010. Di situ saya ikut gotong royong, menganyam besi dan lainnya,” ujarnya.
Pendeta Wijayadi dan jemaatnya mengaku nyaman beribadah dan tinggal di Kampung Karanggede. Setiap event-event keagamaan di gerejanya, masyarakat sekitar juga membantu baik soal parkir hingga masalah keamanan. Meski gereja tak mempunyai lahan parkir sehingga parkir jemaat harus dilakukan di pinggir jalan, masyarakat juga bisa menerima.
“Menurut saya apa yang ada di Karanggede ini adalah contoh sederhana toleransi dan kerukunan beragama. Kuncinya adalah saling menghormati dan saling memahami,” katanya lagi.
Isu-isu terkait konflik agama juga tak mempan di Karanggede ini. Konflik antara agara di sejumlah wilayah tak membuat kerukunan di Karanggede menjadi goyah. Masyarakat di Karanggede justru yang pertama membela jika ada pihak luar ingin mengganggu penganut agama tertentu. “Dulu sempat ada isu ada pihak luar ingin mengganggu mengusik , tapi justru masyarakat sini yang marah dan mengamankannya,” ujarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari Pendeta Wijayadi juga diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar. Dalam acara-acara kampung dia juga terlibat mulai dari acara kenduri selamatan atau hajatan warga dirinya juga diundang. Termasuk saat ada warga meninggal. Pendeta ini juga ikut menggali kubur bersama warga lain sesama muslim.
“Kalau ada kenduri, tradisi Jawa selametan saya ikut. Mereka berdoa dengan keyakinan mereka ya saya juga ikut mendoakan dengan keyakinan kami,” ucapnya.
Tak hanya soal kenduri, saat pembangunan masjid, Pendeta Wijayadi juga ikut bergotong royong. “Dulu kan ini musala, kemudian dibangun masjid sekitar tahun 2010. Di situ saya ikut gotong royong, menganyam besi dan lainnya,” ujarnya.
Pendeta Wijayadi dan jemaatnya mengaku nyaman beribadah dan tinggal di Kampung Karanggede. Setiap event-event keagamaan di gerejanya, masyarakat sekitar juga membantu baik soal parkir hingga masalah keamanan. Meski gereja tak mempunyai lahan parkir sehingga parkir jemaat harus dilakukan di pinggir jalan, masyarakat juga bisa menerima.
“Menurut saya apa yang ada di Karanggede ini adalah contoh sederhana toleransi dan kerukunan beragama. Kuncinya adalah saling menghormati dan saling memahami,” katanya lagi.
Isu-isu terkait konflik agama juga tak mempan di Karanggede ini. Konflik antara agara di sejumlah wilayah tak membuat kerukunan di Karanggede menjadi goyah. Masyarakat di Karanggede justru yang pertama membela jika ada pihak luar ingin mengganggu penganut agama tertentu. “Dulu sempat ada isu ada pihak luar ingin mengganggu mengusik , tapi justru masyarakat sini yang marah dan mengamankannya,” ujarnya.
Lihat Juga :