Jadilah Pahlawan Selagi Masih Muda
Jum'at, 11 November 2022 - 19:07 WIB
loading...
A
A
A
Banyak generasi masa kini yang justru menikmati “penjajahan” era digital ini karena asyik larut dalam jebakan-jebakan perang asimetris yang diterapkan. Tidak ada pengiriman pasukan militer dari negara lain. Cukup dengan menguasai pikiran masyarakat kita agar sibuk dengan mainan-mainan baru berbalut teknologi termutkahir yang membuat penggunanya lupa bahwa mereka sedang dikuasai dalam arti sebenarnya.
Tak terasa langkah-langkah kita dituntun oleh kemewahan teknologi yang sengaja mengelabui dan menggerus rasa bangga akan kebesaran dan kehebatan para pahlawan bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Kita sedih melihat generasi muda kaum milenial dan generasi sesudahnya (gen alfa) sudah jarang memahami sejarah perjuangan bangsa sendiri. Mereka lebih hapal drama Korea yang mengharu biru, sentimentil dan menguras air mata. Betapa bintang-bintang Korea yang dihadirkan di sini membuat histeris ribuan penggemarnya yang mayoritas anak-anak muda.
Mereka rela menunggu berjam-jam, antre, berdesak desakan bahkan sampai ada yang pingsan hanya untuk melihat idola mereka sang bintang K-Pop. Bukan salah Korea. Ini semua salah kita, salah generasi-generasi sebelumnya yang gagal menanamkan nilai-nilai cinta pahlawan, cinta Tanah Air dan jiwa nasionalisme kebangsaan dan ke Indonesia.
Para elite pengelola negara sibuk dengan agenda-agenda jangka pendek untuk kepentingan politik praktis pemilu lima tahunan. Program program pembangunan karakter generasi muda Indonesia baru sebatas slogan dan jargon.
Kurikulkum pendidikan nasional yang berubah setiap ganti menteri juga turut memberi kontribusi pada lemahnya pendidikan karakter kepada para peserta didik. Para guru dan dosen sibuk dengan pemenuhan syarat-syarat administratif yang dibuat njlimet ruwet sehingga semakin jauh dari substansi menjadi garda terdepan pendidikan karakter anak bangsa.
Tak terasa langkah-langkah kita dituntun oleh kemewahan teknologi yang sengaja mengelabui dan menggerus rasa bangga akan kebesaran dan kehebatan para pahlawan bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Kita sedih melihat generasi muda kaum milenial dan generasi sesudahnya (gen alfa) sudah jarang memahami sejarah perjuangan bangsa sendiri. Mereka lebih hapal drama Korea yang mengharu biru, sentimentil dan menguras air mata. Betapa bintang-bintang Korea yang dihadirkan di sini membuat histeris ribuan penggemarnya yang mayoritas anak-anak muda.
Mereka rela menunggu berjam-jam, antre, berdesak desakan bahkan sampai ada yang pingsan hanya untuk melihat idola mereka sang bintang K-Pop. Bukan salah Korea. Ini semua salah kita, salah generasi-generasi sebelumnya yang gagal menanamkan nilai-nilai cinta pahlawan, cinta Tanah Air dan jiwa nasionalisme kebangsaan dan ke Indonesia.
Para elite pengelola negara sibuk dengan agenda-agenda jangka pendek untuk kepentingan politik praktis pemilu lima tahunan. Program program pembangunan karakter generasi muda Indonesia baru sebatas slogan dan jargon.
Kurikulkum pendidikan nasional yang berubah setiap ganti menteri juga turut memberi kontribusi pada lemahnya pendidikan karakter kepada para peserta didik. Para guru dan dosen sibuk dengan pemenuhan syarat-syarat administratif yang dibuat njlimet ruwet sehingga semakin jauh dari substansi menjadi garda terdepan pendidikan karakter anak bangsa.
Lihat Juga :