Subvarian Omicron XBB Muncul, Pemerintah Perlu Genjot Vaksin Booster
Kamis, 10 November 2022 - 12:09 WIB
loading...
A
A
A
Untuk itu, Dicky berpesan pemerintah dan masyarakat perlu waspada. Metode 3 T harus kembali digalakkan: testing (menemukan kasus infeksi), tracing (menelusuri kasus), dan treatment (menindaklanjuti yang tertular). Masyarakat juga harus kembali menjalankan prosedur kesehatan secara ketat. Alhasil, jika ingin pandemi cepat selesai, perlu penanganan konsisten serta respons setara bagi semua daerah. Jika tidak demikian, virus niscaya leluasa menginfeksi dan cepat beradaptasi dengan penanganan yang telah dilakukan.
"Karena adanya subvarian baru ini akan sangat bergantung pada seberapa besar cakupan vaksinasi (booster) yang protektif di masyarakat," ujarnya. "Tapi, jika tetap abai dan prosedur kesehatan malah melonggar dan modal imunitas tak tercapai, akhir pandemi bisa mundur. Bahkan bisa saja muncul hal buruk, lahirnya varian lain," katanya.
Koordinator Koalisi, Hamid Abidin mengatakan, melihat situasi ini, maka pemberian booster tidak bisa ditunda lagi. Utamanya masyarakat adat dan kelompok rentan di berbagai wilayah terpencil di luar Pulau Jawa. Masih cukup banyak dari mereka yang belum mendapatkan vaksin Covid-19, baik dosis pertama maupun kedua. "Mereka tentu tidak bisa mendapatkan vaksin booster kalau belum dapat vaksin dosis 1 dan 2," katanya.
Jika dua kelompok rentan ini mendapat booster, Hamid yakin subvarian XBB dapat dihalau menjalari wilayah terpencil atau menyerang kelompok rentan. "Sebab, selama ini untuk vaksin dosis umum dua kelompok ini masih tertinggal. Jika mereka kena subvarian baru, Indonesia akan makin lama bebas dari Covid-19," ujarnya.
Menurutnya, vaksinasi penting dalam upaya perlindungan dari penularan dan kematian karena Covid-19. Hal ini sesuai dengan pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahwa 84% korban meninggal karena Covid-19 belum menerima booster.
Ketua Umum Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Maulani A Rotinsulu menambahkan, pemberian vaksin booster perlu digalakkan di kalangan penyandang disabilitas. Pasalnya, selama ini mereka tidak bisa mengakses vaksin secara aktif seperti masyarakat pada umumnya. Sebagai perbandingan, penerima booster pada masyarakat umum per 9 November adalah 65,58 juta atau 27,95% dari 234,66 juta sasaran.
"Pemberian bisa dilakukan dengan jemput bola atau menggandeng komunitas penyandang disabilitas," ujarnya.
Dengan melibatkan komunitas penyandang disabilitas, maka keluarga atau pemandu kaum difabel dapat ikut mengomunikasikan pentingnya menjalankan prosedur kesehatan di kalangan disabilitas. Pelibatan ini juga dapat mengambil bentuk penyebaran informasi tentang booster.
"Karena adanya subvarian baru ini akan sangat bergantung pada seberapa besar cakupan vaksinasi (booster) yang protektif di masyarakat," ujarnya. "Tapi, jika tetap abai dan prosedur kesehatan malah melonggar dan modal imunitas tak tercapai, akhir pandemi bisa mundur. Bahkan bisa saja muncul hal buruk, lahirnya varian lain," katanya.
Koordinator Koalisi, Hamid Abidin mengatakan, melihat situasi ini, maka pemberian booster tidak bisa ditunda lagi. Utamanya masyarakat adat dan kelompok rentan di berbagai wilayah terpencil di luar Pulau Jawa. Masih cukup banyak dari mereka yang belum mendapatkan vaksin Covid-19, baik dosis pertama maupun kedua. "Mereka tentu tidak bisa mendapatkan vaksin booster kalau belum dapat vaksin dosis 1 dan 2," katanya.
Jika dua kelompok rentan ini mendapat booster, Hamid yakin subvarian XBB dapat dihalau menjalari wilayah terpencil atau menyerang kelompok rentan. "Sebab, selama ini untuk vaksin dosis umum dua kelompok ini masih tertinggal. Jika mereka kena subvarian baru, Indonesia akan makin lama bebas dari Covid-19," ujarnya.
Menurutnya, vaksinasi penting dalam upaya perlindungan dari penularan dan kematian karena Covid-19. Hal ini sesuai dengan pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahwa 84% korban meninggal karena Covid-19 belum menerima booster.
Ketua Umum Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Maulani A Rotinsulu menambahkan, pemberian vaksin booster perlu digalakkan di kalangan penyandang disabilitas. Pasalnya, selama ini mereka tidak bisa mengakses vaksin secara aktif seperti masyarakat pada umumnya. Sebagai perbandingan, penerima booster pada masyarakat umum per 9 November adalah 65,58 juta atau 27,95% dari 234,66 juta sasaran.
"Pemberian bisa dilakukan dengan jemput bola atau menggandeng komunitas penyandang disabilitas," ujarnya.
Dengan melibatkan komunitas penyandang disabilitas, maka keluarga atau pemandu kaum difabel dapat ikut mengomunikasikan pentingnya menjalankan prosedur kesehatan di kalangan disabilitas. Pelibatan ini juga dapat mengambil bentuk penyebaran informasi tentang booster.
Lihat Juga :