Prajurit Kopassus Ini Sempat Benci Sintong Panjaitan, Endingnya Malah Salut
Minggu, 06 November 2022 - 18:41 WIB
loading...
A
A
A
Hendropriyono yang kelak menjadi tokoh intelijen itu melaporkan posisinya ke Sintong Panjaitan. Sang komandan kemudian memerintahkan Tim Parako untuk terus mendaki ke puncak bukit.
Saat sedang mendaki, tim bertemu dengan musuh sehingga terjadi pertempuran. Tim Parako berhasil menewaskan dua anggota gerombolan, tiga orang menyerah, dan lainnya melarikan diri. Hendropriyono dan timnya pun berhasil keluar dari kepungan musuh.
Meski tidak berani marah tapi Hendropriyono sempat sakit hati ke Sintong Panjaitan lantaran tidak mau mengirimkan helikopter untuk menyelamatkan Tim Parako ari kepungan musuh. Di kemudian hari, Hendropriyono pun menanyakan alasannya kepada Sintong.
Mendapat pertanyaan itu, Sintong menjawab bahwa dirinya yakin dengan kemampuan Hendropriyono dalam mengatasi keadaan dan keluar dari kepungan. Sintong menyimpulkan hal itu setelah mendapatkan gambaran situasi dari laporan Hendropriyono dan membaca peta.
Sintong mengakui bahwa keadaan saat itu sangat kritis. Namun jika ia mengirimkan helikopter, maka belum bisa dihitung berapa lama waktu yang dibutuhkan.
"Keberadaan helikopter itu di Pontianak, kapan akan sampai? Pada waktu helikopter datang, mungkin kalian sudah mati," kata Sintong.
"Ini orang saya benci bener dulu itu. Tetapi sekarang saya salut!" kata Jenderal TNI (Purn) Hendropriyono 35 tahun kemudian.
Saat sedang mendaki, tim bertemu dengan musuh sehingga terjadi pertempuran. Tim Parako berhasil menewaskan dua anggota gerombolan, tiga orang menyerah, dan lainnya melarikan diri. Hendropriyono dan timnya pun berhasil keluar dari kepungan musuh.
Meski tidak berani marah tapi Hendropriyono sempat sakit hati ke Sintong Panjaitan lantaran tidak mau mengirimkan helikopter untuk menyelamatkan Tim Parako ari kepungan musuh. Di kemudian hari, Hendropriyono pun menanyakan alasannya kepada Sintong.
Mendapat pertanyaan itu, Sintong menjawab bahwa dirinya yakin dengan kemampuan Hendropriyono dalam mengatasi keadaan dan keluar dari kepungan. Sintong menyimpulkan hal itu setelah mendapatkan gambaran situasi dari laporan Hendropriyono dan membaca peta.
Sintong mengakui bahwa keadaan saat itu sangat kritis. Namun jika ia mengirimkan helikopter, maka belum bisa dihitung berapa lama waktu yang dibutuhkan.
"Keberadaan helikopter itu di Pontianak, kapan akan sampai? Pada waktu helikopter datang, mungkin kalian sudah mati," kata Sintong.
"Ini orang saya benci bener dulu itu. Tetapi sekarang saya salut!" kata Jenderal TNI (Purn) Hendropriyono 35 tahun kemudian.
(abd)
Lihat Juga :