Profil dr Raden Rubini Natawisastra: Dokter Aktivis Penerima Gelar Pahlawan Nasional
Jum'at, 04 November 2022 - 16:36 WIB
loading...
A
A
A
Para aktivis Nissinkwai lalu bergabung di Pemuda Muhammadiyah agar melanjutkan diskusi-diskusi politik lewat selubung kegiatan keagamaan. Dengan begitu, bara perjuangan Rubini dan rekan-rekannya tidak padam..
Awal tahun 1943, Rubini menerima informasi akan ada gerakan melawan Jepang di Banjarmasin. Dua aktivis yang membawa kabar, dr Susilo dan Makaliwey meminta Pontianak turut serta dalam gerakan tersebut. Rubini pun mulai mengadakan konsolidasi aktivis dan sejumlah tokoh kesultanan untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang yang rencananya pada Desember 1943.
Namun gerakan Rubini tercium intelijen Jepang. Rubini yang dianggap sebagai pemimpin gerakan itu dilaporkan membentuk pasukan bersenjata yang bernama "Soeka Rela". Kontan, rencana gerakan di Banjarmasin dan Pontianak gagal total.
Jepang memerintahkan penangkapan terhadap para aktivis. Mulai bulan Oktober 1943, aksi-aksi penangkapan terhadap para tokoh yang dianggap terlibat atau berbahaya bagi Jepang dilakukan. Merekka ditangkap lalu banyak yang dieksekusi di Mandor.
Menurut Koran Borneo Sinbun edisi 1 Juli 1944, Jepang telah mengeksekusi orang-orang yang terlibat dalam komplotan perlawanan. Sebanyak 48 di antaranya dianggap sebagai pemimpin perlawanan, termasuk Rubini dan istrinya, Amalia.
Dikutip dari kalbarprov.go.id, ketika dibunuh oleh penjajah Jepang, dr. Rubini menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Umum Sungai Jawi, Pontianak, sekaligus Kepala Bagian Bedah.
Nama dr. Rubini diabadikan menjadi nama RSUD di Kabupaten Mempawah, yakni RSUD dr. Rubini Mempawah, serta nama jalan di Kabupaten Mempawah, Kota Pontianak, Kota Bandung, serta nama Taman Aulia dr. Rubini di Kabupaten Mempawah.
Awal tahun 1943, Rubini menerima informasi akan ada gerakan melawan Jepang di Banjarmasin. Dua aktivis yang membawa kabar, dr Susilo dan Makaliwey meminta Pontianak turut serta dalam gerakan tersebut. Rubini pun mulai mengadakan konsolidasi aktivis dan sejumlah tokoh kesultanan untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang yang rencananya pada Desember 1943.
Namun gerakan Rubini tercium intelijen Jepang. Rubini yang dianggap sebagai pemimpin gerakan itu dilaporkan membentuk pasukan bersenjata yang bernama "Soeka Rela". Kontan, rencana gerakan di Banjarmasin dan Pontianak gagal total.
Jepang memerintahkan penangkapan terhadap para aktivis. Mulai bulan Oktober 1943, aksi-aksi penangkapan terhadap para tokoh yang dianggap terlibat atau berbahaya bagi Jepang dilakukan. Merekka ditangkap lalu banyak yang dieksekusi di Mandor.
Menurut Koran Borneo Sinbun edisi 1 Juli 1944, Jepang telah mengeksekusi orang-orang yang terlibat dalam komplotan perlawanan. Sebanyak 48 di antaranya dianggap sebagai pemimpin perlawanan, termasuk Rubini dan istrinya, Amalia.
Dikutip dari kalbarprov.go.id, ketika dibunuh oleh penjajah Jepang, dr. Rubini menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Umum Sungai Jawi, Pontianak, sekaligus Kepala Bagian Bedah.
Nama dr. Rubini diabadikan menjadi nama RSUD di Kabupaten Mempawah, yakni RSUD dr. Rubini Mempawah, serta nama jalan di Kabupaten Mempawah, Kota Pontianak, Kota Bandung, serta nama Taman Aulia dr. Rubini di Kabupaten Mempawah.
(muh)
Lihat Juga :