R20 untuk Kemanusiaan dan Peradaban
Selasa, 01 November 2022 - 20:49 WIB
loading...
A
A
A
Agama untuk Kemanusiaan dan Peradaban
R20 merupakan ruang perjumpaan kemanusiaan dan peradaban, bukan hanya tokoh agama. Hal ini sangat signifikan karena beberapa hal. Pertama, dialog lintas iman (interfaith dialogue) untuk menegaskan bahwa identitas agama sebagai titik kumpul (assembly point) di tengah krisis sosial, ekonomi, politik, kesehatan dan lingkungan. Meski identitas memiliki fungsi untuk membentuk karakteristik yang membedakan antara satu dengan yang lain (others) yang berpotensi memicu konflik, akan tetapi agama juga bisa menjadi identitas pemersatu sebagai sesama insan beriman berbasis nilai keilahian dan kemanusiaan.
Di sinilah peran agama, pemimpin dan pemeluknya diuji, sejauh mana agama hadir berkontribusi di luar urusan rumah tangganya untuk membangun solidaritas dan tanggung jawab bersama. Sebagai masyarakat global (global citizenship), pemeluk agama perlu mendefinisikan konsep keimanan global (global faith): iman yang meyakini tentang Keesaan Tuhan, keadaban dan kemanusiaan yang berkontribusi pada peradaban, untuk mewujudkan persaudaraan berbasis peradaban (ukhuwwah hadariyyah).
Kedua, aksi bersama (collective action), R20 bisa menjadi ruang untuk konsolidasi antar pemimpin agama untuk menyusun kesepahaman lintas iman dan strategi implementasinya.
Selain deklarasi, upaya implementasinya secara bertahap dan berkelanjutan perlu diinsiasi. Draf peta jalan dialog antariman global akan memberi kontributisi bagi terwujudnya The World Religious Forum.
Langkah yang dilakukan pemerintah, Kementerian Agama dan Nahdhatul Ulama dibawah koordinasi Gus Yahya patut diapreasi. Partisipasi dari tokoh agama, akademisi, dan pihak terkait akan menyukseskan tujuan utama dari acara ini sebagai gerakan internasional untuk mewujudkan dua hal: konsep moral bersama (shared moral) dan nilai spiritual.. Kedua hal tersebut menjadi sistem kultural global yang perlu didiskusikan bersama untuk melandasi aksi bersama.
Dalam konteks agama Islam, aksi bersama tersebut bisa dilakukan dengan melakukan pembacaan ulang (ijtihad), dari persoalan teologis ke persoalan kemanusiaan dan peradaban. Teks kegamaan perlu menjadi rujukan dengan diselaraskan dengan konteks, keterpaduan antara tradisionalitas dan modernitas. Formulasi hukum perlu dipahami dengan pendekatan Maqasid Syar'ah dan Fiqh al-waqi''. Diskursus studi Islam diintegrasikan dengan pendekatan sains, ekonomi, sosial, dan politik. Dengan demikian, agama hadir dalam realitas kontekstual sebagai agen perubahan sosial, yang membumikan nilai kemanusiaan untuk peradaban.
R20 merupakan ruang perjumpaan kemanusiaan dan peradaban, bukan hanya tokoh agama. Hal ini sangat signifikan karena beberapa hal. Pertama, dialog lintas iman (interfaith dialogue) untuk menegaskan bahwa identitas agama sebagai titik kumpul (assembly point) di tengah krisis sosial, ekonomi, politik, kesehatan dan lingkungan. Meski identitas memiliki fungsi untuk membentuk karakteristik yang membedakan antara satu dengan yang lain (others) yang berpotensi memicu konflik, akan tetapi agama juga bisa menjadi identitas pemersatu sebagai sesama insan beriman berbasis nilai keilahian dan kemanusiaan.
Di sinilah peran agama, pemimpin dan pemeluknya diuji, sejauh mana agama hadir berkontribusi di luar urusan rumah tangganya untuk membangun solidaritas dan tanggung jawab bersama. Sebagai masyarakat global (global citizenship), pemeluk agama perlu mendefinisikan konsep keimanan global (global faith): iman yang meyakini tentang Keesaan Tuhan, keadaban dan kemanusiaan yang berkontribusi pada peradaban, untuk mewujudkan persaudaraan berbasis peradaban (ukhuwwah hadariyyah).
Kedua, aksi bersama (collective action), R20 bisa menjadi ruang untuk konsolidasi antar pemimpin agama untuk menyusun kesepahaman lintas iman dan strategi implementasinya.
Selain deklarasi, upaya implementasinya secara bertahap dan berkelanjutan perlu diinsiasi. Draf peta jalan dialog antariman global akan memberi kontributisi bagi terwujudnya The World Religious Forum.
Langkah yang dilakukan pemerintah, Kementerian Agama dan Nahdhatul Ulama dibawah koordinasi Gus Yahya patut diapreasi. Partisipasi dari tokoh agama, akademisi, dan pihak terkait akan menyukseskan tujuan utama dari acara ini sebagai gerakan internasional untuk mewujudkan dua hal: konsep moral bersama (shared moral) dan nilai spiritual.. Kedua hal tersebut menjadi sistem kultural global yang perlu didiskusikan bersama untuk melandasi aksi bersama.
Dalam konteks agama Islam, aksi bersama tersebut bisa dilakukan dengan melakukan pembacaan ulang (ijtihad), dari persoalan teologis ke persoalan kemanusiaan dan peradaban. Teks kegamaan perlu menjadi rujukan dengan diselaraskan dengan konteks, keterpaduan antara tradisionalitas dan modernitas. Formulasi hukum perlu dipahami dengan pendekatan Maqasid Syar'ah dan Fiqh al-waqi''. Diskursus studi Islam diintegrasikan dengan pendekatan sains, ekonomi, sosial, dan politik. Dengan demikian, agama hadir dalam realitas kontekstual sebagai agen perubahan sosial, yang membumikan nilai kemanusiaan untuk peradaban.
(bmm)
Lihat Juga :