Nomor 1 di ASEAN, Militer Indonesia Harus Kuat dan Modern
Sabtu, 04 Juli 2020 - 08:03 WIB
loading...
A
A
A
“Dibanding Singapura kita memang unggul dan wajar peringkat ke-16 dunia dan terbaik di ASEAN itu. Tapi dalam hal modernisasi alutsista, kita masih di bawah Singapura,” katanya ketika dihubungi kemarin.
Muradi juga mengingatkan bahwa fokus perhatian pemerintah saat ini seharusnya bukan hanya penguatan alutsista karena perang di masa depan tidak lagi fisik atau negara tampil berhadap-hadapan. Model pertempuran sudah berubah, di antaranya perang siber dan perang bio. (Baca juga: AS Buru Empat Kapal Tanker Iran)
Karena itu, perlu dipikirkan sistem penguatan pada bidang lain, misalnya pertahanan siber, bukan hanya kekuatan konvensional. Karena itu, ke depan tak lagi sekadar membangun SDM karena pada dasarnya personel TNI dinilai sudah kompetitif. Bahkan, personel militer 400.000 dianggap sudah cukup dan tidak perlu lagi ditambah. “Jika perangnya konvensionl kita mungkin menang, tapi kalau perangnya mixed antara cyber war dan bio-terror, kita tertinggal. Nah, ini pekerjaan rumahnya,” tunjuk Muradi.
Di lain pihak, DPR mengapresiasi Indonesia yang menempati urutan ke-16 kekuatan militer dunia. Anggota Komisi I DPR Dave Akbarshah Laksono menyebut militer dalam negeri mumpuni karena jumlah personel TNI aktif mencapai 400.000 orang dan wilayah yang diamankan pun jauh lebih luas ketimbang negara tetangga.
Di tengah meningkatnya eskalasi kawasan, termasuk di Laut China Selatan, penguatan militer memang hal yang tidak bisa ditawar. Dia menyebut ancaman Indonesia tinggi sehingga mengharuskannya memiliki kekuatan pertahanan yang mumpuni. (Baca juga: Panglima TNI Minta Alumni Akabri 1995 Jaga Soliditas)
Dave setuju bahwa jumlah personel dan banyaknya alutsista tidak lantas membuat militer sebuah negara dinilai kuat sehingga mampu menciptakan efek gentar pada lawan. Kuncinya adalah modernisasi alutsista. Dia mencontohkan Singapura. Meskipun itu negara kecil dan personelnya sedikit, pengadaan alutsista di Singapura lebih cepat dan lebih lengkap. Begitu juga Malaysia yang wilayahnya jauh lebih kecil ketimbang Indonesia. Dia setuju dengan pandangan bahwa alutsista Indonesia masih perlu dimodernisasi, dilengkapi dan juga ditambah di setiap matra TNI. Begitu juga dengan pelatihan para personel TNI. “Sekarang seberapa kuat komitmen pemerintah, seberapa besar keinginan pemerintah untuk mau memperkuat itu,” katanya.
Muradi juga mengingatkan bahwa fokus perhatian pemerintah saat ini seharusnya bukan hanya penguatan alutsista karena perang di masa depan tidak lagi fisik atau negara tampil berhadap-hadapan. Model pertempuran sudah berubah, di antaranya perang siber dan perang bio. (Baca juga: AS Buru Empat Kapal Tanker Iran)
Karena itu, perlu dipikirkan sistem penguatan pada bidang lain, misalnya pertahanan siber, bukan hanya kekuatan konvensional. Karena itu, ke depan tak lagi sekadar membangun SDM karena pada dasarnya personel TNI dinilai sudah kompetitif. Bahkan, personel militer 400.000 dianggap sudah cukup dan tidak perlu lagi ditambah. “Jika perangnya konvensionl kita mungkin menang, tapi kalau perangnya mixed antara cyber war dan bio-terror, kita tertinggal. Nah, ini pekerjaan rumahnya,” tunjuk Muradi.
Di lain pihak, DPR mengapresiasi Indonesia yang menempati urutan ke-16 kekuatan militer dunia. Anggota Komisi I DPR Dave Akbarshah Laksono menyebut militer dalam negeri mumpuni karena jumlah personel TNI aktif mencapai 400.000 orang dan wilayah yang diamankan pun jauh lebih luas ketimbang negara tetangga.
Di tengah meningkatnya eskalasi kawasan, termasuk di Laut China Selatan, penguatan militer memang hal yang tidak bisa ditawar. Dia menyebut ancaman Indonesia tinggi sehingga mengharuskannya memiliki kekuatan pertahanan yang mumpuni. (Baca juga: Panglima TNI Minta Alumni Akabri 1995 Jaga Soliditas)
Dave setuju bahwa jumlah personel dan banyaknya alutsista tidak lantas membuat militer sebuah negara dinilai kuat sehingga mampu menciptakan efek gentar pada lawan. Kuncinya adalah modernisasi alutsista. Dia mencontohkan Singapura. Meskipun itu negara kecil dan personelnya sedikit, pengadaan alutsista di Singapura lebih cepat dan lebih lengkap. Begitu juga Malaysia yang wilayahnya jauh lebih kecil ketimbang Indonesia. Dia setuju dengan pandangan bahwa alutsista Indonesia masih perlu dimodernisasi, dilengkapi dan juga ditambah di setiap matra TNI. Begitu juga dengan pelatihan para personel TNI. “Sekarang seberapa kuat komitmen pemerintah, seberapa besar keinginan pemerintah untuk mau memperkuat itu,” katanya.
Lihat Juga :