Fahri Hamzah Sebut Ada yang Menangis saat Harga BBM Naik, Sindir Siapa?
Kamis, 08 September 2022 - 10:30 WIB
loading...
Waketum DPN Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah mengatakan munculnya aksi protes hingga unjuk rasa di sejumlah daerah akibat kenaikan harga BBM merupakan hal yang wajar. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Wakil Ketua Umum DPN Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah mengatakan munculnya aksi protes hingga unjuk rasa di sejumlah daerah akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) merupakan hal yang wajar. Menurutnya, tidak ada orang yang bisa menerima kenaikan harga BBM.
Di setiap rezim suatu parpol pernah menjadi oposisi dan saat menjadi oposisi pasti menolak kenaikan BBM. Bahkan sampai menangis di kala itu. Baca juga: 2 Sektor Ini yang Menyebabkan Masyarakat Tak Dapat Menerima Kenaikan Harga BBM
"Tidak ada orang yang menerima kenaikan harga BBM itu. Karena setiap rezim itu pernah menjadi oposisi dan ketika mereka menjadi oposisi itu juga menolak kenaikan BBM, dan bahkan ada yang sampai nangis-nangis dan lain-lain. Itu pada masa lalu," ujar Fahri dalam diskuai Gelora Talk bertajuk "Akhirnya Harga BBM Melambung Tinggi, Apa Dampaknya?" yang dikutip, Kamis (8/9/20222).
Menurut mantan Wakil Ketua DPR ini, kalau rezim yang sekarang berkuasa ini ditentang oleh partai politik dan juga masyarakat karena menaikkan harga BBM maka mau tidak mau harus menerima. Karena itu adalah universal language atau bahasa universal rakyat yang mengharapkan harga BBM itu turun.
"Itu ada dalam lagu, ada dalam puisi, juga dalam sastra. Jadi sebenarnya memang kita semua sudah menerima bahwa kenaikan harga BBM itu tidak enak, tidak baik dan tidak selayaknya dilakukan," tandasnya.
Padahal, kata Fahri, yang paling penting adalah bagaimana membaca sikap negara. Namun sayangnya, karena dari waktu ke waktu, dari rezim ke rezim itu gagal dijurubicarai dan gagal dikomunikasikan kepada masyarakat maka rakyat semakin tidak menerima argumentasi kenaikan harga BBM. Misalnya, pemerintah selalu menyampaikan subsidi salah sasaran, pertanyaannya kenapa setiap rezim selalu salah sasaran.
Di setiap rezim suatu parpol pernah menjadi oposisi dan saat menjadi oposisi pasti menolak kenaikan BBM. Bahkan sampai menangis di kala itu. Baca juga: 2 Sektor Ini yang Menyebabkan Masyarakat Tak Dapat Menerima Kenaikan Harga BBM
"Tidak ada orang yang menerima kenaikan harga BBM itu. Karena setiap rezim itu pernah menjadi oposisi dan ketika mereka menjadi oposisi itu juga menolak kenaikan BBM, dan bahkan ada yang sampai nangis-nangis dan lain-lain. Itu pada masa lalu," ujar Fahri dalam diskuai Gelora Talk bertajuk "Akhirnya Harga BBM Melambung Tinggi, Apa Dampaknya?" yang dikutip, Kamis (8/9/20222).
Menurut mantan Wakil Ketua DPR ini, kalau rezim yang sekarang berkuasa ini ditentang oleh partai politik dan juga masyarakat karena menaikkan harga BBM maka mau tidak mau harus menerima. Karena itu adalah universal language atau bahasa universal rakyat yang mengharapkan harga BBM itu turun.
"Itu ada dalam lagu, ada dalam puisi, juga dalam sastra. Jadi sebenarnya memang kita semua sudah menerima bahwa kenaikan harga BBM itu tidak enak, tidak baik dan tidak selayaknya dilakukan," tandasnya.
Padahal, kata Fahri, yang paling penting adalah bagaimana membaca sikap negara. Namun sayangnya, karena dari waktu ke waktu, dari rezim ke rezim itu gagal dijurubicarai dan gagal dikomunikasikan kepada masyarakat maka rakyat semakin tidak menerima argumentasi kenaikan harga BBM. Misalnya, pemerintah selalu menyampaikan subsidi salah sasaran, pertanyaannya kenapa setiap rezim selalu salah sasaran.
Lihat Juga :