BMKG Tegaskan Komitmen Siap Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Selasa, 09 Agustus 2022 - 21:45 WIB
loading...
A
A
A
"Situasi ini dikhawatirkan mengancam terhadap ketahanan pangan dapat berakibat pula pada terganggunya kedaulatan pangan," ujarnya dikutip, Selasa (9/8/2022).
Untuk menghadapi hal tersebut, lanjut Dwikorita, sejumlah jurus diterapkan BMKG. Pertama, dengan penyiapan sumber daya manusia yang unggul melalui berbagai program tugas belajar ke jenjang S3, juga training/pelatihan, magang atau internship.
Kedua, penggunaan teknologi yang canggih dengan memanfaatkan satelit cuaca resolusi tinggi, radar cuaca, berbagai peralatan observasi terkini yang dilengkapi dengan big data dan artificial inteligent (AI) dalam melakukan analitik, pemodelan, prakiraan, prediksi dan proyeksi. Ketiga, media komunikasi multiplatform terkini.
Dwikorita menuturkan untuk menyebarluaskan informasi cuaca, iklim, gempa bumi, dan tsunami agar mudah dipahami dan diterapkan, BMKG terus menggalakkan edukasi dan literasi untuk masyarakat dan pengguna informasi tersebut. Bahkan, secara berkelanjutan sejak tahun 2011 BMKG menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) agar petani dan tenaga penyuluh pertanian bisa memanfaatkan informasi dan prakiraan cuaca dengan baik serta mampu beradaptasi dengan situasi cuaca dan iklim kekinian.
“Dalam sepuluh tahun terakhir, pelaksanaan SLI telah menjangkau 451 lokasi di tingkat kabupaten, di 33 provinsi, serta telah melatih 16.000 peserta. Alhamdulillah, dampaknya sudah terasa dimana produktivitas lahan rata-rata meningkat hingga 30 persen,” jelasnya.
Sedangkan di sektor kelautan dan perikanan, lanjutnya, BMKG mengembangkan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) guna meningkatkan pemahaman dan pengetahuan nelayan terhadap informasi cuaca maritim. Sejak tahun 2016-2021, SLCN sendiri telah memfasilitasi 10.118 peserta di 159 lokasi yang tersebar di 33 provinsi wilayah Indonesia.
Untuk menghadapi hal tersebut, lanjut Dwikorita, sejumlah jurus diterapkan BMKG. Pertama, dengan penyiapan sumber daya manusia yang unggul melalui berbagai program tugas belajar ke jenjang S3, juga training/pelatihan, magang atau internship.
Kedua, penggunaan teknologi yang canggih dengan memanfaatkan satelit cuaca resolusi tinggi, radar cuaca, berbagai peralatan observasi terkini yang dilengkapi dengan big data dan artificial inteligent (AI) dalam melakukan analitik, pemodelan, prakiraan, prediksi dan proyeksi. Ketiga, media komunikasi multiplatform terkini.
Dwikorita menuturkan untuk menyebarluaskan informasi cuaca, iklim, gempa bumi, dan tsunami agar mudah dipahami dan diterapkan, BMKG terus menggalakkan edukasi dan literasi untuk masyarakat dan pengguna informasi tersebut. Bahkan, secara berkelanjutan sejak tahun 2011 BMKG menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) agar petani dan tenaga penyuluh pertanian bisa memanfaatkan informasi dan prakiraan cuaca dengan baik serta mampu beradaptasi dengan situasi cuaca dan iklim kekinian.
“Dalam sepuluh tahun terakhir, pelaksanaan SLI telah menjangkau 451 lokasi di tingkat kabupaten, di 33 provinsi, serta telah melatih 16.000 peserta. Alhamdulillah, dampaknya sudah terasa dimana produktivitas lahan rata-rata meningkat hingga 30 persen,” jelasnya.
Sedangkan di sektor kelautan dan perikanan, lanjutnya, BMKG mengembangkan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) guna meningkatkan pemahaman dan pengetahuan nelayan terhadap informasi cuaca maritim. Sejak tahun 2016-2021, SLCN sendiri telah memfasilitasi 10.118 peserta di 159 lokasi yang tersebar di 33 provinsi wilayah Indonesia.
Lihat Juga :