Elektabilitas Puan Maharani Masih Tiarap, Effendi Simbolon Ungkap Penyebabnya
Rabu, 03 Agustus 2022 - 15:05 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Effendi, seluruh kader dan pengurus ikut arahan di partai, bahwa PDIP tidak ikut ke dalam arus euforia masyarakat yang mengusung tokoh tertentu sebagai capres, apakah dari partai, dari relawan ataukah elemen-elemen masyarakat lainnya. Bahkan, hampir tidak ada satu pun spanduk atau billboard yang menyampaikan bahwa Puan Maharani merupakan capres PDIP.
"Hampir tidak ada kita lihat billboard atau spanduk yang menyampaikan bahwa Puan Maharani capres PDIP, enggak ada. Kami di PDIP, jangankan secara oral, secara tertulis pun kami tidak dibolehkan, tidak dibenarkan," terangnya.
Oleh karena itu, Effendi meyakini bahwa di sisa hari jelang 14 Februari 2024 mendatang dengan luasnya cakupan wilayah Indonesia, meskipun ada teknologi media sosial (medsos), sentuhan langsung calon dengan masyarakat akan menghasilkan penilaian yang berbeda dari masyarakat, termsuk perolehan survei elektabilitas Puan Maharani saat ini. Apalagi jika Puan sudah dideklarasikan maka struktur partai di eksekutif maupun legislatif akan bergerak.
"Tapi kalau misalnya, ini berandai-andai Mbak Puan enggak usah dideklarasi secara resmi, diberi akses untuk, bahwa kami perangkat struktural partai selain di legislatif dan eksekutif, banyak di seluruh Indonesia sampai ke pelosok Tanah Air kan ada. Kalau kita melakukan katakanlah pra campaign, kader ngerti bahwa yang diusung si A dari partainya, pasti orang akan fokus itu ke titik yang akan diarahkan oleh tim kampanye atau tim pra kampanye itu," ungkapnya. Baca juga: Kudatuli, Sejarah Politik yang Turut Berperan Menggembleng Puan Maharani
"Karena kita enggak boleh kampanye, tapi kan kalau kita melakukan sosialisasi kegiatan partai boleh-boleh saja, kita tidak boleh mengkapanyekan Pileg, Pilpresnya, tetapi kalau kegiatan boleh saja," tambah Effendi.
"Hampir tidak ada kita lihat billboard atau spanduk yang menyampaikan bahwa Puan Maharani capres PDIP, enggak ada. Kami di PDIP, jangankan secara oral, secara tertulis pun kami tidak dibolehkan, tidak dibenarkan," terangnya.
Oleh karena itu, Effendi meyakini bahwa di sisa hari jelang 14 Februari 2024 mendatang dengan luasnya cakupan wilayah Indonesia, meskipun ada teknologi media sosial (medsos), sentuhan langsung calon dengan masyarakat akan menghasilkan penilaian yang berbeda dari masyarakat, termsuk perolehan survei elektabilitas Puan Maharani saat ini. Apalagi jika Puan sudah dideklarasikan maka struktur partai di eksekutif maupun legislatif akan bergerak.
"Tapi kalau misalnya, ini berandai-andai Mbak Puan enggak usah dideklarasi secara resmi, diberi akses untuk, bahwa kami perangkat struktural partai selain di legislatif dan eksekutif, banyak di seluruh Indonesia sampai ke pelosok Tanah Air kan ada. Kalau kita melakukan katakanlah pra campaign, kader ngerti bahwa yang diusung si A dari partainya, pasti orang akan fokus itu ke titik yang akan diarahkan oleh tim kampanye atau tim pra kampanye itu," ungkapnya. Baca juga: Kudatuli, Sejarah Politik yang Turut Berperan Menggembleng Puan Maharani
"Karena kita enggak boleh kampanye, tapi kan kalau kita melakukan sosialisasi kegiatan partai boleh-boleh saja, kita tidak boleh mengkapanyekan Pileg, Pilpresnya, tetapi kalau kegiatan boleh saja," tambah Effendi.
(kri)
Lihat Juga :