Priyo: Cebong-Kadrun Harus Segera Disudahi
Senin, 01 Agustus 2022 - 17:22 WIB
loading...
A
A
A
Menurutnya, fenomena Cebong versus Kadrun terbukti menjadi pelatuk yang mempertajam polarisasi masyarakat. Dia menambahkan, pertengkaran (sektarian) yang terus dipelihara adalah diskursus yang tidak mencerdaskan, bahkan makin menambah luka sosial yang destruktif.
"Ini harus segera disudahi, segera tutup buku dan tamat riwayat sebelum memasuki tahun politik 2024. Kesengajaan melanggengkan Buzzer-Cebong-Kadrun sama saja membiarkan api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa membakar tatanan sosial bangsa,” ungkap Wakil Ketua DPR periode 2009-2014 tersebut.
Dia berpendapat, politik identitas sebenarnya lumrah dalam politik dan demokrasi. Identitas merupakan trademark dan ciri khas perjuangan suatu kelompok politik. Ini given dalam politik. "Sejarah perpolitikan kita (Pemilu 1955) bahkan pernah mengalami ragam politik identitas yang sangat berwarna,” ujara Priyo.
Politik identitas nasionalis, komunis, agamis (partai Islam, Kristen, Katolik) tampil mengemuka. Namun, kata dia, Pemilu 1955 justru menjadi pemilu yang paling orisinil dan demokratis.
"Kuncinya ternyata para tokoh politik zaman itu berdinamika dalam tradisi dan koridor moralitas politik yang wisdom,” tuturnya.
"Ini harus segera disudahi, segera tutup buku dan tamat riwayat sebelum memasuki tahun politik 2024. Kesengajaan melanggengkan Buzzer-Cebong-Kadrun sama saja membiarkan api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa membakar tatanan sosial bangsa,” ungkap Wakil Ketua DPR periode 2009-2014 tersebut.
Dia berpendapat, politik identitas sebenarnya lumrah dalam politik dan demokrasi. Identitas merupakan trademark dan ciri khas perjuangan suatu kelompok politik. Ini given dalam politik. "Sejarah perpolitikan kita (Pemilu 1955) bahkan pernah mengalami ragam politik identitas yang sangat berwarna,” ujara Priyo.
Politik identitas nasionalis, komunis, agamis (partai Islam, Kristen, Katolik) tampil mengemuka. Namun, kata dia, Pemilu 1955 justru menjadi pemilu yang paling orisinil dan demokratis.
"Kuncinya ternyata para tokoh politik zaman itu berdinamika dalam tradisi dan koridor moralitas politik yang wisdom,” tuturnya.
Lihat Juga :