DPW Perindo Sulsel Ungkap Pentingnya Peran Jubir di Budaya Bugis dan Makassar
Rabu, 20 Juli 2022 - 12:12 WIB
loading...
Pelatihan Juru Bicara Daerah dan Wilayah Partai Perindo Sulawesi Selatan pada Rabu (20/7/2022). FOTO/TANGKAPAN LAYAR
A
A
A
JAKARTA - Ketua DPW Partai Perindo Sulawesi Selatan, Sanusi Ramadhan mengungkapkan pentingnya peran juru bicara dalam budaya Bugis dan Makassar. Jubir menjadi ujung tombak menyampaikan pesan kepada masyarakat luas secara jelas.
Hal ini disampaikan Sanusi dalam pembukaan Pelatihan Juru Bicara Daerah dan Wilayah Partai Perindo Sulawesi Selatan pada Rabu (20/7/2022). "Kenapa kita hadir yang dari seluruh pelosok Sulawesi Selatan sesungguhnya untuk menegaskan pentingnya kembali bahwa kehadiran kita adalah Partai Perindo," ujar Sanusi.
Menurutnya, pengalaman Pemilu 2019 menjadi refleksi seluruh pengurus untuk bisa mendapatkan hasil lebih baik dan maksimal di Pemilu 2024.
"Sulawesi Selatan kemaren baru 23 orang yang kita bisa dudukkan di DPRD provinsi maupun kabupaten/kota. Harus memahami keberadaan kita Perindo. Ada juklis dan juklak. Menyegarkan ingatan kita, bahwa kita di sini ada kesamaan cita-cita dan semangat bahwa di Pemilu 2024 harus kita menangkan," katanya.
Dalam konteks budaya orang Sulawesi Selatan seperti Bugis, Makassar, Mandar, dan Tana Toraja, kata Sanusi, sejak dahulu sudah ada terminologi juru bicara. "Perannya sudah ada sejak Kerajaan Gowa dalam struktur kepemimpinan ada di posisi kedua yang memiliki peran sangat besar untuk menyampaikan apa pesan raja dan memberikan nasehat kepada raja," kata Sanusi.
Jubir tidak sekadar berbicara tapi mampu memahami garis besar dan ideologi partai. Jubir harus memahami bahan bangunan rumah yang akan dibangun. "Dalam kultur Bugis Makassar itu dijabat Tanlo, Mahapati atau Perdana Mentari. Ada yang kita kenal filosofi campak lidah, ujung lidah bermakna sebagai juru bicara yang mampu menyampaikan pesan Partai Perindo," kata Sanusi.
Hal ini disampaikan Sanusi dalam pembukaan Pelatihan Juru Bicara Daerah dan Wilayah Partai Perindo Sulawesi Selatan pada Rabu (20/7/2022). "Kenapa kita hadir yang dari seluruh pelosok Sulawesi Selatan sesungguhnya untuk menegaskan pentingnya kembali bahwa kehadiran kita adalah Partai Perindo," ujar Sanusi.
Menurutnya, pengalaman Pemilu 2019 menjadi refleksi seluruh pengurus untuk bisa mendapatkan hasil lebih baik dan maksimal di Pemilu 2024.
"Sulawesi Selatan kemaren baru 23 orang yang kita bisa dudukkan di DPRD provinsi maupun kabupaten/kota. Harus memahami keberadaan kita Perindo. Ada juklis dan juklak. Menyegarkan ingatan kita, bahwa kita di sini ada kesamaan cita-cita dan semangat bahwa di Pemilu 2024 harus kita menangkan," katanya.
Dalam konteks budaya orang Sulawesi Selatan seperti Bugis, Makassar, Mandar, dan Tana Toraja, kata Sanusi, sejak dahulu sudah ada terminologi juru bicara. "Perannya sudah ada sejak Kerajaan Gowa dalam struktur kepemimpinan ada di posisi kedua yang memiliki peran sangat besar untuk menyampaikan apa pesan raja dan memberikan nasehat kepada raja," kata Sanusi.
Jubir tidak sekadar berbicara tapi mampu memahami garis besar dan ideologi partai. Jubir harus memahami bahan bangunan rumah yang akan dibangun. "Dalam kultur Bugis Makassar itu dijabat Tanlo, Mahapati atau Perdana Mentari. Ada yang kita kenal filosofi campak lidah, ujung lidah bermakna sebagai juru bicara yang mampu menyampaikan pesan Partai Perindo," kata Sanusi.
Lihat Juga :