Waspadai Mimbar Agama untuk Penyebaran Radikalisme
Jum'at, 01 Juli 2022 - 18:46 WIB
loading...
A
A
A
Menurutnya, inilah pentingnya bagi para dai, khotib, atau penceramah untuk diberikan wawasan bahwa dalam berceramah atau dalam menyampaikan materi keagamaan di mimbar agama, ada tanggung jawabnya. Baik tanggung jawab moral, tanggung jawab kepada Allah SWT terhadap apa pun yang disampaikan.
Baca juga: Cegah Radikalisme, Kemenag Tekankan Pentingnya Moderasi Beragama di Sektor Pendidikan
"Saya sampaikan jangan sampai mimbar masjid itu dipakai untuk kepentingan agitasi, dipakai untuk kepentingan yang bukan kepentingan agama. Apalagi seperti biasa dalam musim-musim Pilpres, Pilkada, Pilgub itu ada kelompok-kelompok kepentingan yang sengaja masuk ke masjid untuk mengganggu," kata Syarif.
Dalam pengamantannya, kadang-kadang ada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) juga ikut terlibat. Padahal, DKM seharusnya menjadi wasit dengan mengingatkan para khatib atau ustaz atau dai agar tidak keluar dari perspektif agama. "Intinya peran DKM sangat penting, di mana sebelum khotib itu naik mimbar untuk mengingatkan materi dakwah agar tidak offside," ungkapnya.
Syarif menemukan sebagian kecil masjid yang melampuai batas, sehingga ikut dalam residu Pilpres atau residu politik praktis, dan sebagainya. Kemudian masjid juga digunakan untuk kendaraan politik tertentu dengan mengagitasi masyarakat diarahkan kepada pilihan tertentu, diarahkan untuk menyerang atau membenci pemerintah, menyerang apa yang kemudian mereka sebut sebagai rezim.
"Di situlah kepentingan politik praktis yang membonceng entah itu sadar atau tidak sadar si khotib menyampaikan itu. Entah dia bagian dari tim sukses atau tidak, entah dia mewakili kepentingan ideologi tertentu atau tidak. Apalagi kalau dia mewakili ideologi tertentu yang bertentangan dengan ideologi bangsa," katanya.
Baca juga: Cegah Radikalisme, Kemenag Tekankan Pentingnya Moderasi Beragama di Sektor Pendidikan
"Saya sampaikan jangan sampai mimbar masjid itu dipakai untuk kepentingan agitasi, dipakai untuk kepentingan yang bukan kepentingan agama. Apalagi seperti biasa dalam musim-musim Pilpres, Pilkada, Pilgub itu ada kelompok-kelompok kepentingan yang sengaja masuk ke masjid untuk mengganggu," kata Syarif.
Dalam pengamantannya, kadang-kadang ada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) juga ikut terlibat. Padahal, DKM seharusnya menjadi wasit dengan mengingatkan para khatib atau ustaz atau dai agar tidak keluar dari perspektif agama. "Intinya peran DKM sangat penting, di mana sebelum khotib itu naik mimbar untuk mengingatkan materi dakwah agar tidak offside," ungkapnya.
Syarif menemukan sebagian kecil masjid yang melampuai batas, sehingga ikut dalam residu Pilpres atau residu politik praktis, dan sebagainya. Kemudian masjid juga digunakan untuk kendaraan politik tertentu dengan mengagitasi masyarakat diarahkan kepada pilihan tertentu, diarahkan untuk menyerang atau membenci pemerintah, menyerang apa yang kemudian mereka sebut sebagai rezim.
"Di situlah kepentingan politik praktis yang membonceng entah itu sadar atau tidak sadar si khotib menyampaikan itu. Entah dia bagian dari tim sukses atau tidak, entah dia mewakili kepentingan ideologi tertentu atau tidak. Apalagi kalau dia mewakili ideologi tertentu yang bertentangan dengan ideologi bangsa," katanya.
Lihat Juga :