Ada Haji atau Tidak, Puasa Arafah Tetap Dilaksanakan
Rabu, 24 Juni 2020 - 16:43 WIB
loading...
Umat muslim berdoa saat melaksanakan wukuf di Jabal Rahmah, 10 Agustus 2019. Muhammadiyah ingatkan puasa Arafah tetap dilaksanakan meski ada haji atau tidak. FOTO/ANTARA/HANNI SOFIA
A
A
A
JAKARTA - Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyatakan puasa Arafah pada 9 Zulhijah atau 30 Juli 2020 tetap dilaksanakan meski jika nanti tidak ada jamaah haji di Padang Arafah.
Ketua Majlis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Syamsul Anwar mengatakan puasa Arafah dapat menghapus dosa-dosa yang lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Nabi Muhammad SAW pun terbiasa puasa sebelum ada ibadah haji. "Puasa Arafah tidak tergantung pada ada atau tidak jamaah haji yang wukuf," katanya dalam konferensi pers daring, Rabu (24/6/2020).
Syamsul Anwar menjelaskan mengenai alasan PP Muhammadiyah menyarankan salat Idul Adha di rumah. Ini tentu di luar kebiasaan, yakni di lapangan atau masjid. "Penyebaran COVID-19 belum menunjukan grafik yang menurun signifikan walau pun saat ini sudah masuk masa new normal. Itu untuk tujuan ekonomi yang tidak boleh mandek," katanya.(Baca juga: Orang Miskin Bertambah, Muhammadiyah: Lebih Utama Sedekah Uang dari Sembelih Hewan )
Bagi masyarakat di zona hijau, PP Muhammadiyah menganjurkan melakukan salat Idul Adha di lapangan kecil di sekitar rumah. Jamaahnya hanya dari lingkungan rukun tetangga (RT) dan warga (RW) sekitarnya.
"Di lapangan yang kecil di lingkungan masing-masing sehingga mengurangi kerumunan agar penyebaran COVID-19 tidak merajalela. Orang yang (terlihat) sehat, kita enggak tahu dia dari mana. Banyak terjadi orang tanpa gejala. Kita ingin secepet-cepatnya keluar dari darurat COVID-19," katanya.
Ketua Majlis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Syamsul Anwar mengatakan puasa Arafah dapat menghapus dosa-dosa yang lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Nabi Muhammad SAW pun terbiasa puasa sebelum ada ibadah haji. "Puasa Arafah tidak tergantung pada ada atau tidak jamaah haji yang wukuf," katanya dalam konferensi pers daring, Rabu (24/6/2020).
Syamsul Anwar menjelaskan mengenai alasan PP Muhammadiyah menyarankan salat Idul Adha di rumah. Ini tentu di luar kebiasaan, yakni di lapangan atau masjid. "Penyebaran COVID-19 belum menunjukan grafik yang menurun signifikan walau pun saat ini sudah masuk masa new normal. Itu untuk tujuan ekonomi yang tidak boleh mandek," katanya.(Baca juga: Orang Miskin Bertambah, Muhammadiyah: Lebih Utama Sedekah Uang dari Sembelih Hewan )
Bagi masyarakat di zona hijau, PP Muhammadiyah menganjurkan melakukan salat Idul Adha di lapangan kecil di sekitar rumah. Jamaahnya hanya dari lingkungan rukun tetangga (RT) dan warga (RW) sekitarnya.
"Di lapangan yang kecil di lingkungan masing-masing sehingga mengurangi kerumunan agar penyebaran COVID-19 tidak merajalela. Orang yang (terlihat) sehat, kita enggak tahu dia dari mana. Banyak terjadi orang tanpa gejala. Kita ingin secepet-cepatnya keluar dari darurat COVID-19," katanya.
Lihat Juga :