DRRC UI Ingatkan UNDRR soal Beyond Natural Hazard di GPDRR 2022
Jum'at, 27 Mei 2022 - 21:08 WIB
loading...
A
A
A
Fatma menyampaikan, Pooling Fund merupakan inisiatif yang baik sebagai salah satu upaya roda penggerak ekonomi berkelanjutan. Menurutnya, untuk mewujudkan pooling fund, Pemerintah Indonesia terus mendorong pemberdayaan masyarakat sipil atau civil society melalui UMKM.
"Pemberdayaan masyarakat sipil ini dapat menjadi penggerak ekonomi yang memberikan multiplier effect melalui program-program seperti desa wisata tangguh bencana untuk pemulihan ekonomi pascapandemi, dan sekaligus membangun Sustainable Supply Chain. Pendekatan peningkatan resilience bencana ini menggunakan pendekatan 'From Local to Global'," ungkapnya.
Fatma menegaskan, Indonesia perlu mengelola dan mengatasi tantangan terkait data untuk implementasi kebijakan. Untuk itu, DRRC UI telah bekerja sama dengan sejumlah kementerian/lembaga dalam mendukung implementasi kebijakan ini. "Misalnya, DRRC UI menyusun e-book 'Buku Saku Desa Tangguh Bencana Covid-19' bersama Kementerian Dalam Negeri dan BNPB untuk menjadi pedoman bagi seluruh desa di Indonesia dalam menghadapi pandemic Covid-19," ujarnya.
Selain itu, kata Fatma, pihaknya bersama Kementerian Agama dan Pondok Modern Darussalam Gontor menyusun e-book 'Pesantren Tangguh Bencana Covid-19' untuk menjadi acuan bagi sekolah berasrama yang melakukan pendidikan tatap muka. "Begitu pula dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga, DRRC UI menyusun buku Pemuda Tangguh Bencana Covid-19 sebagai pedoman penanganan Covid-19 di Indonesia; dan resillience is local dengan siap siaga," jelasnya.
Sementara itu, pada Plenary 2- Mid Term Review Sendai Framework Beyond Natural Hazards, Fatma menekankan perlunya pendekatan multi hazards lantaran Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana alam, meski di sisi lain berbagai industri di Indonesia semakin berkembang. "Indonesia memiliki klaster industri pada hampir semua pulau seperti kawasan industri Cilegon di Pulau Jawa, kawasan industri di Sumatera, kawasan industri di pulau Kalimantan serta pelbagai industri di Sulawesi dan Papua," imbuhnya.
Dalam konteks ini, lanjut Fatma, mengelola risiko di semua dimensi termasuk bencana alam, lingkungan, biologis atau teknologi, dan kombinasi dari NaTech, yakni bencana teknologi yang dipicu oleh alam (Natural Hazards Triggering Technological Accidents - natech) menjadi semakin penting untuk memastikan keberlangsungan bisnis dari berbagai sektor industri yang berkembang tersebut. "DRRC UI sendiri memiliki beberapa penelitian terkait risiko Natech di beberapa lokasi seperti Cilegon di Pulau Jawa dan Kalimantan," ungkapnya.
Atas hal tersebut, Fatma menyampaikan bahwa pihaknya mengusulkan ke UNDRR untuk memperluas kerangka sendai serta memasukkan prinsip-prinsip bencana kesehatan masyarakat dan pengurangan risiko natech dengan mengusulkan lima poin. Pertama, melakukan penilaian multi hazards, penilaian risiko dan dampak sistemik, tidak hanya penilaian risiko bahaya alam tetapi juga risiko bencana industri, dan risiko natech (risiko teknologi yang dipicu oleh alam).
"Pemberdayaan masyarakat sipil ini dapat menjadi penggerak ekonomi yang memberikan multiplier effect melalui program-program seperti desa wisata tangguh bencana untuk pemulihan ekonomi pascapandemi, dan sekaligus membangun Sustainable Supply Chain. Pendekatan peningkatan resilience bencana ini menggunakan pendekatan 'From Local to Global'," ungkapnya.
Fatma menegaskan, Indonesia perlu mengelola dan mengatasi tantangan terkait data untuk implementasi kebijakan. Untuk itu, DRRC UI telah bekerja sama dengan sejumlah kementerian/lembaga dalam mendukung implementasi kebijakan ini. "Misalnya, DRRC UI menyusun e-book 'Buku Saku Desa Tangguh Bencana Covid-19' bersama Kementerian Dalam Negeri dan BNPB untuk menjadi pedoman bagi seluruh desa di Indonesia dalam menghadapi pandemic Covid-19," ujarnya.
Selain itu, kata Fatma, pihaknya bersama Kementerian Agama dan Pondok Modern Darussalam Gontor menyusun e-book 'Pesantren Tangguh Bencana Covid-19' untuk menjadi acuan bagi sekolah berasrama yang melakukan pendidikan tatap muka. "Begitu pula dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga, DRRC UI menyusun buku Pemuda Tangguh Bencana Covid-19 sebagai pedoman penanganan Covid-19 di Indonesia; dan resillience is local dengan siap siaga," jelasnya.
Sementara itu, pada Plenary 2- Mid Term Review Sendai Framework Beyond Natural Hazards, Fatma menekankan perlunya pendekatan multi hazards lantaran Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana alam, meski di sisi lain berbagai industri di Indonesia semakin berkembang. "Indonesia memiliki klaster industri pada hampir semua pulau seperti kawasan industri Cilegon di Pulau Jawa, kawasan industri di Sumatera, kawasan industri di pulau Kalimantan serta pelbagai industri di Sulawesi dan Papua," imbuhnya.
Dalam konteks ini, lanjut Fatma, mengelola risiko di semua dimensi termasuk bencana alam, lingkungan, biologis atau teknologi, dan kombinasi dari NaTech, yakni bencana teknologi yang dipicu oleh alam (Natural Hazards Triggering Technological Accidents - natech) menjadi semakin penting untuk memastikan keberlangsungan bisnis dari berbagai sektor industri yang berkembang tersebut. "DRRC UI sendiri memiliki beberapa penelitian terkait risiko Natech di beberapa lokasi seperti Cilegon di Pulau Jawa dan Kalimantan," ungkapnya.
Atas hal tersebut, Fatma menyampaikan bahwa pihaknya mengusulkan ke UNDRR untuk memperluas kerangka sendai serta memasukkan prinsip-prinsip bencana kesehatan masyarakat dan pengurangan risiko natech dengan mengusulkan lima poin. Pertama, melakukan penilaian multi hazards, penilaian risiko dan dampak sistemik, tidak hanya penilaian risiko bahaya alam tetapi juga risiko bencana industri, dan risiko natech (risiko teknologi yang dipicu oleh alam).
Lihat Juga :