Kisah Mantan Panglima TNI Pernah Jadi Penjaga Warung, Pembuat Donat, hingga Caddy
Senin, 23 Mei 2022 - 06:22 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Momen Jokowi Bertemu Eks Panglima TNI Hadi Tjahjanto di Sirkuit Mandalika
Setelah lulus SD, Hadi melanjutkan sekolah di SMP Negeri 7 Singasari, Malang. Pergaulan Hadi pun mulai meluas. Dia berkenalan dengan anak-anak di luar kompleks, juga dengan anak-anak perwira yang tinggal di blok lain (umumnya disebut mes perwira, tapi masih dalam kompleks yang sama).
"Satu kali saya melihat teman saya, anak seorang penerbang, ikut bapaknya main golf. Saya lari menjauh karena malu sekali kalau ketahuan jadi caddy. Saya kira dia juga pasti akan malu punya teman seorang caddy," kata Hadi.
Sejak itu, Hadi berhenti mencari uang di lapangan golf. Sebagai gantinya, Hadi membantu orang tuanya berjualan rujak dan membuat donat di rumah, di samping panganan lainnya.
Aktivitas membuat donat masih tetap dilakukannya saat duduk di bangku SMA. Tugas Hadi adalah menguleni adonan donat agar bisa mengembang, sementara menggoreng dan membungkus adalah tugas ibunya dan Nining.
Saat masuk sekolah siang, pagi harinya Hadi bertugas menjaga warung. Hadi juga bertugas mengantar dan menitipkan donat kepada Mak Jah, pedagang jajanan di Pasar Singasari yang jaraknya empat kilometer dari rumahnya.
Hadi biasanya mengambil uang hasil penjualan donat itu. Semuanya itu dilakukan Hadi demi mendapatkan uang saku dan untuk ongkos kendaraan umum ke sekolah.
Jika itu tidak dikerjakan, Hadi tidak akan bisa berangkat ke sekolah karena tidak ada uang. Hasil berjualan memang sedikit, tapi dapat menopang kebutuhan rumah tangga.
Selain menjaga warung, Hadi sebagai anak lelaki tertua juga harus menimba air, mengepel lantai, serta melakukan pekerjaan anak lelaki pada umumnya. Di tengah keprihatinan ekonomi, kedua orang tuanya juga menekankan soal ibadah dengan harapan kelak mereka menjadi orang besar.
"Mas Hadi sejak kelas 4 SD sudah menjalankan puasa Senin-Kamis, sedangkan saya selalu berlomba dengan Mas Hadi. Jika sudah berhasil tujuh kali berturut-turut puasa Senin-Kamis, kami akan dapat hadiah dari Ibu berupa jajanan pasar," ujar Nining.
Nur Saa'dah selalu mengembuskan mantra yang menjadi pegangan anak-anaknya. Segala kekurangan ekonomi merupakan ujian. Jika ingin sukses menjadi orang besar, harus lulus ujian, harus mampu menjalani hidup dalam kekurangan dengan tabah.
Setelah lulus SD, Hadi melanjutkan sekolah di SMP Negeri 7 Singasari, Malang. Pergaulan Hadi pun mulai meluas. Dia berkenalan dengan anak-anak di luar kompleks, juga dengan anak-anak perwira yang tinggal di blok lain (umumnya disebut mes perwira, tapi masih dalam kompleks yang sama).
"Satu kali saya melihat teman saya, anak seorang penerbang, ikut bapaknya main golf. Saya lari menjauh karena malu sekali kalau ketahuan jadi caddy. Saya kira dia juga pasti akan malu punya teman seorang caddy," kata Hadi.
Sejak itu, Hadi berhenti mencari uang di lapangan golf. Sebagai gantinya, Hadi membantu orang tuanya berjualan rujak dan membuat donat di rumah, di samping panganan lainnya.
Aktivitas membuat donat masih tetap dilakukannya saat duduk di bangku SMA. Tugas Hadi adalah menguleni adonan donat agar bisa mengembang, sementara menggoreng dan membungkus adalah tugas ibunya dan Nining.
Saat masuk sekolah siang, pagi harinya Hadi bertugas menjaga warung. Hadi juga bertugas mengantar dan menitipkan donat kepada Mak Jah, pedagang jajanan di Pasar Singasari yang jaraknya empat kilometer dari rumahnya.
Hadi biasanya mengambil uang hasil penjualan donat itu. Semuanya itu dilakukan Hadi demi mendapatkan uang saku dan untuk ongkos kendaraan umum ke sekolah.
Jika itu tidak dikerjakan, Hadi tidak akan bisa berangkat ke sekolah karena tidak ada uang. Hasil berjualan memang sedikit, tapi dapat menopang kebutuhan rumah tangga.
Selain menjaga warung, Hadi sebagai anak lelaki tertua juga harus menimba air, mengepel lantai, serta melakukan pekerjaan anak lelaki pada umumnya. Di tengah keprihatinan ekonomi, kedua orang tuanya juga menekankan soal ibadah dengan harapan kelak mereka menjadi orang besar.
"Mas Hadi sejak kelas 4 SD sudah menjalankan puasa Senin-Kamis, sedangkan saya selalu berlomba dengan Mas Hadi. Jika sudah berhasil tujuh kali berturut-turut puasa Senin-Kamis, kami akan dapat hadiah dari Ibu berupa jajanan pasar," ujar Nining.
Nur Saa'dah selalu mengembuskan mantra yang menjadi pegangan anak-anaknya. Segala kekurangan ekonomi merupakan ujian. Jika ingin sukses menjadi orang besar, harus lulus ujian, harus mampu menjalani hidup dalam kekurangan dengan tabah.
(rca)
Lihat Juga :