Kemenkes Ingatkan Potensi Ancaman Ganda Kasus DBD dan Virus Corona
Senin, 22 Juni 2020 - 11:23 WIB
loading...
A
A
A
"Di mana, tentunya kita melihat bahwa kita melihat kembali lagi hal provinsi-provinsi yang ada itu adalah provinsi-provinsi yang juga dengan kasus COVID tertinggi dan juga memiliki kasus demam berdarah yang tertinggi," kata Nadia.
Nadia mengatakan, kasus demam berdarah tertinggi ada di provinsi Jawa Barat, kemudian ada provinsi Lampung, ada NTT, Jawa Timur kemudian Jawa Tengah, dan Yogyakarta. "Dan kita tahu, termasuk juga Sulawesi Selatan yang kita tahu juga secara jumlah kasus COVID-nya juga merupakan tinggi," katanya.(Baca juga: MNC Land Lido Bersama Baja Perindo dan Pemdes Watesjaya Lawan Penyebaran DBD )
Di sisi lain, kata Nadia, demam berdarah ini juga menimbulkan angka kematian. "Jadi angka kematian kita saat ini sudah mencapai pada angka 346. Dan sama, kurang lebih gambarannya adalah provinsi-provinsi yang tadi, jadi ada Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur yang merupakan juga kasus-kasus tertinggi mengakibatkan kematian," katanya.
Nadia mengatakan, kalau berbicara mengenai sejarah, demam berdarah awalnya masuk di Indonesia pada 1968. "Dan pada waktu itu sama dengan situasi COVID seperti saat ini adalah angka kematiannya dan angka kesakitannya 50%," katanya.
Saat ini, kata Nadia, sebenarnya sudah bisa menurunkan angka kesakitan dan kematian, di mana angka kematian yang tadinya 50% dan bisa turun dibawah angka 1%. "Dan target kita tentunya tidak ada kematian lagi ya. Sementara angka kesakitan masih di angka fluktuasi karena memang di tahun 2016 kita pernah mengalami kejadian luar biasa, di mana angka-angka kesakitannya masih cukup tinggi yang tadinya sudah di bawah 20%. Dan saat ini kita tetap terus pertahankan tetapi jangan sampai di tahun 2016 itu terjadi kejadian lagi," katanya.
Nadia mengatakan, kasus demam berdarah tertinggi ada di provinsi Jawa Barat, kemudian ada provinsi Lampung, ada NTT, Jawa Timur kemudian Jawa Tengah, dan Yogyakarta. "Dan kita tahu, termasuk juga Sulawesi Selatan yang kita tahu juga secara jumlah kasus COVID-nya juga merupakan tinggi," katanya.(Baca juga: MNC Land Lido Bersama Baja Perindo dan Pemdes Watesjaya Lawan Penyebaran DBD )
Di sisi lain, kata Nadia, demam berdarah ini juga menimbulkan angka kematian. "Jadi angka kematian kita saat ini sudah mencapai pada angka 346. Dan sama, kurang lebih gambarannya adalah provinsi-provinsi yang tadi, jadi ada Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur yang merupakan juga kasus-kasus tertinggi mengakibatkan kematian," katanya.
Nadia mengatakan, kalau berbicara mengenai sejarah, demam berdarah awalnya masuk di Indonesia pada 1968. "Dan pada waktu itu sama dengan situasi COVID seperti saat ini adalah angka kematiannya dan angka kesakitannya 50%," katanya.
Saat ini, kata Nadia, sebenarnya sudah bisa menurunkan angka kesakitan dan kematian, di mana angka kematian yang tadinya 50% dan bisa turun dibawah angka 1%. "Dan target kita tentunya tidak ada kematian lagi ya. Sementara angka kesakitan masih di angka fluktuasi karena memang di tahun 2016 kita pernah mengalami kejadian luar biasa, di mana angka-angka kesakitannya masih cukup tinggi yang tadinya sudah di bawah 20%. Dan saat ini kita tetap terus pertahankan tetapi jangan sampai di tahun 2016 itu terjadi kejadian lagi," katanya.
(abd)
Lihat Juga :