Fadli Zon Jadi Anggota Satgas Atasi Perang Rusia Vs Ukraina, Dorong Langkah Diplomasi
Kamis, 28 April 2022 - 20:08 WIB
loading...
A
A
A
Indonesia menjadi satu-satunya negara dari kawasan Asia-Pasifik yang menjadi anggota Satgas IPU tersebut. “Dalam pertemuan pertama IPU Task Force tanggal 25 April 2022 kemarin, saya mendesak agar perwakilan parlemen dunia segera melakukan langkah-langkah diplomasi konkret untuk mencegah peperangan mencapai eskalasi yang tidak diinginkan,” kata Fadli Zon dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/4/2022).
Fadli Zon mengatakan, hasil kerja Satgas IPU ini akan menjadi ujian bagi berfungsi atau tidaknya diplomasi parlemen sebagai bagian dari diplomasi total. Agar berfungsi dengan baik, dia menilai Satgas IPU harus bisa mendapatkan kepercayaan dari kedua belah pihak, yaitu Rusia dan Ukraina. “Sehingga pembicaraan tripartit antara Satgas IPU, Parlemen Rusia, dan Parlemen Ukraina bisa menghasilkan kesepakatan yang berarti,” kata politikus Partai Gerindra ini.
Sebagai pengusul terbentuknya satgas, Fadli Zon juga menekankan pentingnya Satgas IPU bersifat imparsial dan netral supaya dapat bekerja secara objektif untuk mengakhiri perang, de-eskalasi konflik, membuka koridor kemanusiaan, serta tercapainya kesepakatan damai. Adapun pertemuan yang digelar secara virtual kemarin dibuka langsung oleh Presiden IPU Duarte Pacheco dan Sekretaris Jenderal IPU Martin Chungong.
Pertemuan tersebut juga memutuskan Wakil Presiden IPU Ali Rashid Al Nuaimi, Anggota Federal National Council Uni Arab Emirates, sebagai Ketua Satgas IPU; serta memilih Peter Katjavivi, Ketua Parlemen Namibia, sebagai Wakil Presiden Satgas. Sesudah terbentuknya organisasi kerja dalam Satgas IPU, pertemuan kemudian membahas agenda-agenda yang akan dilakukan Satgas IPU mulai dari rencana kunjungan, jadwal pertemuan, hingga aspek-aspek lain yang akan mendukung kerja satgas.
Pertemuan kemarin juga mengundang Diplomat Senior Swiss Walter Gyger dan ahli studi keamanan global dari the Geneva Center for Security Policy (GCSP) Siobhan Martin yang dimintai masukannya mengenai strategi mendorong tercapainya penyelesaian politik atas perang Rusia-Ukraina. “Kita tentunya berharap agar langkah diplomasi Organisasi Parlemen Dunia ini bisa menjadi bagian signifikan dari upaya mencapai penyelesaian politik tersebut. Jangan sampai konflik tersebut menjerumuskan kita pada dua bencana yang sangat tidak diharapkan tadi, yaitu Perang Dunia III dan perang nuklir,” katanya.
Fadli Zon mengatakan, hasil kerja Satgas IPU ini akan menjadi ujian bagi berfungsi atau tidaknya diplomasi parlemen sebagai bagian dari diplomasi total. Agar berfungsi dengan baik, dia menilai Satgas IPU harus bisa mendapatkan kepercayaan dari kedua belah pihak, yaitu Rusia dan Ukraina. “Sehingga pembicaraan tripartit antara Satgas IPU, Parlemen Rusia, dan Parlemen Ukraina bisa menghasilkan kesepakatan yang berarti,” kata politikus Partai Gerindra ini.
Sebagai pengusul terbentuknya satgas, Fadli Zon juga menekankan pentingnya Satgas IPU bersifat imparsial dan netral supaya dapat bekerja secara objektif untuk mengakhiri perang, de-eskalasi konflik, membuka koridor kemanusiaan, serta tercapainya kesepakatan damai. Adapun pertemuan yang digelar secara virtual kemarin dibuka langsung oleh Presiden IPU Duarte Pacheco dan Sekretaris Jenderal IPU Martin Chungong.
Pertemuan tersebut juga memutuskan Wakil Presiden IPU Ali Rashid Al Nuaimi, Anggota Federal National Council Uni Arab Emirates, sebagai Ketua Satgas IPU; serta memilih Peter Katjavivi, Ketua Parlemen Namibia, sebagai Wakil Presiden Satgas. Sesudah terbentuknya organisasi kerja dalam Satgas IPU, pertemuan kemudian membahas agenda-agenda yang akan dilakukan Satgas IPU mulai dari rencana kunjungan, jadwal pertemuan, hingga aspek-aspek lain yang akan mendukung kerja satgas.
Pertemuan kemarin juga mengundang Diplomat Senior Swiss Walter Gyger dan ahli studi keamanan global dari the Geneva Center for Security Policy (GCSP) Siobhan Martin yang dimintai masukannya mengenai strategi mendorong tercapainya penyelesaian politik atas perang Rusia-Ukraina. “Kita tentunya berharap agar langkah diplomasi Organisasi Parlemen Dunia ini bisa menjadi bagian signifikan dari upaya mencapai penyelesaian politik tersebut. Jangan sampai konflik tersebut menjerumuskan kita pada dua bencana yang sangat tidak diharapkan tadi, yaitu Perang Dunia III dan perang nuklir,” katanya.
(rca)
Lihat Juga :