KPK Usut Dugaan TPPU Bupati Probolinggo Nonaktif lewat 2 Saksi

Selasa, 26 April 2022 - 13:59 WIB
loading...
KPK Usut Dugaan TPPU Bupati Probolinggo Nonaktif lewat 2 Saksi
KPK terus menelusuri aliran dugaan TPPU Bupati nonaktif Probolinggo, Puput Tantriana Sari (PTS), dan suaminya, Hasan Aminuddin. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) terus menelusuri aliran dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Bupati nonaktif Probolinggo, Puput Tantriana Sari (PTS), dan suaminya, Hasan Aminuddin. Pencucian uang pasangan suami istri tersebut ditelusuri lewat dua saksi.

Baca juga: Mantan Kadis PU Probolinggo Dijadwalkan Diperiksa KPK

Adapun dua saksi tersebut yakni, pihak swasta, Abdul Hamid Mahmudi dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Dinas PUPR Probolinggo, Rena Rahmawati. Keduanya diminta untuk hadir memenuhi panggilan pemeriksaan KPK di Kantor Mapolres Probolinggo.



"Pemeriksaan saksi terkait seleksi jabatan di lingkungan pemerintah Kabupaten Probolinggo Tahun 2021, TPPU dan gratifikasi untuk tersangka PTS dkk. Pemeriksaan dilakukan di Kantor Polres Probolinggo Kota," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Selasa (26/4/2022).

Sekadar informasi, KPK kembali menetapkan Puput Tantriana Sari dan suaminya, Hasan Aminuddin sebagai tersangka. Kali ini, pasangan suami istri (pasutri) itu ditetapkan sebagai tersangka penerima gratifikasi dan TPPU.

Penetapan tersangka gratifikasi serta TPPU terhadap Puput dan Hasan merupakan pengembangan dari perkara sebelumnya. Sebelumnya, KPK telah lebih dulu menetapkan Puput dan Hasan yang merupakan mantan Anggota DPR sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait jual beli jabatan kepala desa (kades) di Probolinggo.

KPK juga menetapkan 20 orang lainnya yang mayoritas para calon kepala desa sebagai tersangka. Adapun, 20 orang tersangka lainnya itu yakni, Sumarto; Ali Wafa; Mawardi; Mashudi; Maliha; Mohammad Bambang; Masruhen.

Kemudian, Abdul Wafi; Kho'im; Akhmad Saifullah; Jaelani; Uhar; Nurul Hadi; Nuruh Huda; Hasan; Sahir; Sugito; Samsuddin; Doddy Kurniawan; serta Muhamad Ridwan. Mereka adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) di Probolinggo.

Dalam perkara suapnya, Hasan Aminuddin dan Puput Tantriana diduga mematok harga sekira Rp20 juta ditambah upeti penyewaan tanah kas desa Rp5 juta per hektar, untuk jabatan kepala desa di Probolinggo.

Hasan dan Puput meminta uang suap dari para calon kepala desa melalui camat atau pejabat desa. KPK berhasil menyita uang Rp362,5 juta saat OTT yang diduga merupakan suap dari para calon kepala desa untuk Puput Tantriana dan Hasan.

Kasus suap jual beli jabatan kepala desa tersebut sudah masuk proses persidangan. Bahkan, sejumlah pihak yang terlibat sudah diputus bersalah. Saat ini, KPK masih menyidik dugaan penerimaan gratifikasi serta TPPU Puput Tantriana Sari dan Hasan Aminuddin.
(maf)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1592 seconds (10.55#12.26)