Kekerasan KKB Papua Dinilai Upaya Mensabotase Pembangunan Infrastruktur
Rabu, 30 Maret 2022 - 22:36 WIB
loading...
A
A
A
“KKB semakin berani dan semakin brutal melakukan aksinya karena merasa ada dukungan. Saya tahu ada peran-peran oknum di Papua yang sampai hari ini terus bersuara mendukung Papua Merdeka dan meminta Dewan HAM PBB untuk memeriksa pelanggaran HAM di Papua,” jelasnya.
Arebo menyebut di Papua ada aktor, oknum-oknum tertentu yang menginginkan Papua tidak kondusif. Kemudian menyebarkan berita-berita melalui media sosial, seolah-olah Papua tidak kondusif dan dimainkan oleh aktor luar negeri seperti Benny Wenda untuk memperjuangkan Papua Merdeka.
“Sebagai generasi Papua yang punya semangat kebangsaan dan cinta NKRI saya akan terus menjadi garda terdepan untuk menjaga Papua dalam NKRI. Hal-hal yang terus mengatasnamakan orang Papua akan terus saya tolak karena kami tidak pernah meminta referendum, kami ingin Papua tetap dalam NKRI,” tegasnya.
Director of CISSRec, Pratama Persadha menilai KKB pasti memiliki pendukung di belakangnya karena mereka punya akses senjata api. ”Isu terkait keamanan Papua bergerak sangat dinamis di media mainstream dan media sosial. Di media mainstream, persepsi publik pada pembangunan Papua (sosialisasinya) berada dalam prosentase positif netral sebanyak 77%,” kata pakar cyber tersebut.
Pergerakan isu yang berkembang di media sosial memiliki perbedaan karakter yang perlu diperhatikan. Dalam topik Papua, dia menilai, Twitter lebih politis digunakan untuk menarik perhatian netizen simpatisan dalam negeri dan luar negeri. Sedangkan, Facebook lebih organik sehingga perlu mendapat perhatian karena berpotensi menggerakkan aksi dan emosional. Sementara Instagram lebih kepada visual.
Arebo menyebut di Papua ada aktor, oknum-oknum tertentu yang menginginkan Papua tidak kondusif. Kemudian menyebarkan berita-berita melalui media sosial, seolah-olah Papua tidak kondusif dan dimainkan oleh aktor luar negeri seperti Benny Wenda untuk memperjuangkan Papua Merdeka.
“Sebagai generasi Papua yang punya semangat kebangsaan dan cinta NKRI saya akan terus menjadi garda terdepan untuk menjaga Papua dalam NKRI. Hal-hal yang terus mengatasnamakan orang Papua akan terus saya tolak karena kami tidak pernah meminta referendum, kami ingin Papua tetap dalam NKRI,” tegasnya.
Director of CISSRec, Pratama Persadha menilai KKB pasti memiliki pendukung di belakangnya karena mereka punya akses senjata api. ”Isu terkait keamanan Papua bergerak sangat dinamis di media mainstream dan media sosial. Di media mainstream, persepsi publik pada pembangunan Papua (sosialisasinya) berada dalam prosentase positif netral sebanyak 77%,” kata pakar cyber tersebut.
Pergerakan isu yang berkembang di media sosial memiliki perbedaan karakter yang perlu diperhatikan. Dalam topik Papua, dia menilai, Twitter lebih politis digunakan untuk menarik perhatian netizen simpatisan dalam negeri dan luar negeri. Sedangkan, Facebook lebih organik sehingga perlu mendapat perhatian karena berpotensi menggerakkan aksi dan emosional. Sementara Instagram lebih kepada visual.
Lihat Juga :