Wakil Ketua MPR Dorong Dakwah Nasionalisme di Mimbar Digital
Rabu, 23 Maret 2022 - 21:28 WIB
loading...
A
A
A
Ia menegaskan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan penceramah maupun ustaz di berbagai daerah untuk menyebarkan konten syiar tentang nasionalisme dan persaudaraan kebangsaan.
"Dan itu tadi harus disebarkan. Kenapa? Karena kita tidak boleh hanya mengandalkan salah satu pihak. Sebab masyarakat itu juga belum sampai bisa memikirkan atau paham ke arah sana (konten dakwah radikal atau bukan). Dan ini sudah menjadi kewajiban kita semua untuk terus-menerus mengingatkan masyarakat itu," ujarnya.
Menurut Arsul, perlu ditingkatkan komunikasi dan silaturahmi antara pemerintah untuk berdialog baik dalam kegiatan formal maupun nonformal dalam rangka berbagi ide dan pemikiran. Di samping itu juga termasuk memanfaatkan platform media sosial untuk kemudian menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin dan semangat nasionalisme.
Terakhir, peraih doktoral dari Glasgow Caledonian University ini berpesan kepada masyarakat agar waspada dan cermat memilih penceramah. Jangan hanya melihat penceramah itu melalui ketenarannya semata di media sosial.
"Memilih penceramah yang kritis, yang berkata agak keras, itu sebenarnya tidak masalah, tapi jangan hanya melihat popularitas. Dan masyarakat juga harus berani katakan 'tidak' jika isi dakwah dari penceramah itu mempersoalkan empat konsensus bernegara yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika," kata alumnus Hukum Universitas Indonesia ini.
"Dan itu tadi harus disebarkan. Kenapa? Karena kita tidak boleh hanya mengandalkan salah satu pihak. Sebab masyarakat itu juga belum sampai bisa memikirkan atau paham ke arah sana (konten dakwah radikal atau bukan). Dan ini sudah menjadi kewajiban kita semua untuk terus-menerus mengingatkan masyarakat itu," ujarnya.
Menurut Arsul, perlu ditingkatkan komunikasi dan silaturahmi antara pemerintah untuk berdialog baik dalam kegiatan formal maupun nonformal dalam rangka berbagi ide dan pemikiran. Di samping itu juga termasuk memanfaatkan platform media sosial untuk kemudian menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin dan semangat nasionalisme.
Terakhir, peraih doktoral dari Glasgow Caledonian University ini berpesan kepada masyarakat agar waspada dan cermat memilih penceramah. Jangan hanya melihat penceramah itu melalui ketenarannya semata di media sosial.
"Memilih penceramah yang kritis, yang berkata agak keras, itu sebenarnya tidak masalah, tapi jangan hanya melihat popularitas. Dan masyarakat juga harus berani katakan 'tidak' jika isi dakwah dari penceramah itu mempersoalkan empat konsensus bernegara yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika," kata alumnus Hukum Universitas Indonesia ini.
(abd)
Lihat Juga :