Denny JA: Tak Cukup Alasan, Penundaan Pemilu 2024 Akan Menjadi Skandal Politik
Sabtu, 05 Maret 2022 - 07:38 WIB
loading...
A
A
A
Namun Indonesia menjadikan Covid- 19 untuk menunda pemilu di 2024 yang jeda waktunya masih dua tahun dari sekarang, hal itu justu bertentangan dengan data. “Alasan itu ditolak oleh fakta yang sangat terang benderang. Jelas sudah. Clear. Bukti menujukkan situasi covid-19 di Indonesia, juga di dunia justru sekarang semakin aman,” ucapnya.
Berdasarkan data dari Worldometer pada Maret 2022, jumlah kematian karena Covid-19 bertambah sedikit. Penyebabnya karena prosentase penduduk Indonesia yang divaksin sudah lebih banyak. Puncak kematian tertinggi per hari di Indonesia terjadi di Agustus 2021 yakni sekitar 2.000 orang.
”Juga dari Worldometer, penduduk Indonesia hingga awal Maret 2022, yang sudah divaksin minimal sekali sebanyak 69%. Yang sudah divaksin dua kali sebanyak 50%. Bahkan di 2022, ini sudah menjadi tren dunia. Kita bersama memasuki era endemik. Covid-19 masih akan panjang bersama kita. Tapi ini babak akhir era pandemik, yang berubah menjadi endemic,” kata Denny.
Meski yang tertular Covid-19 tetap banyak, kata Denny, tapi yang meninggal karena Covid-19 jauh lebih sedikit. Covid-19 akan menjadi sejenis flu. ”Yang tertular Flu saat ini juga sangat banyak. Tapi yang mati karena flu jauh lebih sedikit. Di 2022, Covid sudah melewati puncaknya. Apalagi di 2024, dua tahun dari sekarang,” paparnya.
Denny menilai, tak masuk akal Covid-19 dijadikan alasan untuk menunda sila pertama demokrasi. Sila pertama Reformasi yaitu, pemilu yang diselenggarakan secara reguler. “Kondisi ekonomi juga tak pernah sah dijadikan alasan menunda ekonomi. Apalagi Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan ekonomi Indonesia terus membaik,” katanya.
Di era media sosial sekarang ini semua pernyataan politisi terekam. Untuk itu, para politisi berhati- hati jika berbicara di publik. Apalagi jika bermanuver untuk “makar” terhadap sila pertama demokrasi dan Reformasi.
Berdasarkan data dari Worldometer pada Maret 2022, jumlah kematian karena Covid-19 bertambah sedikit. Penyebabnya karena prosentase penduduk Indonesia yang divaksin sudah lebih banyak. Puncak kematian tertinggi per hari di Indonesia terjadi di Agustus 2021 yakni sekitar 2.000 orang.
”Juga dari Worldometer, penduduk Indonesia hingga awal Maret 2022, yang sudah divaksin minimal sekali sebanyak 69%. Yang sudah divaksin dua kali sebanyak 50%. Bahkan di 2022, ini sudah menjadi tren dunia. Kita bersama memasuki era endemik. Covid-19 masih akan panjang bersama kita. Tapi ini babak akhir era pandemik, yang berubah menjadi endemic,” kata Denny.
Meski yang tertular Covid-19 tetap banyak, kata Denny, tapi yang meninggal karena Covid-19 jauh lebih sedikit. Covid-19 akan menjadi sejenis flu. ”Yang tertular Flu saat ini juga sangat banyak. Tapi yang mati karena flu jauh lebih sedikit. Di 2022, Covid sudah melewati puncaknya. Apalagi di 2024, dua tahun dari sekarang,” paparnya.
Denny menilai, tak masuk akal Covid-19 dijadikan alasan untuk menunda sila pertama demokrasi. Sila pertama Reformasi yaitu, pemilu yang diselenggarakan secara reguler. “Kondisi ekonomi juga tak pernah sah dijadikan alasan menunda ekonomi. Apalagi Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan ekonomi Indonesia terus membaik,” katanya.
Di era media sosial sekarang ini semua pernyataan politisi terekam. Untuk itu, para politisi berhati- hati jika berbicara di publik. Apalagi jika bermanuver untuk “makar” terhadap sila pertama demokrasi dan Reformasi.
Lihat Juga :