Radikalisme Kuda Troya Politik dan Agama
Kamis, 24 Februari 2022 - 20:11 WIB
loading...
A
A
A
Memang harus diakui, kata dia, isu agama selalu menarik diberdebatkan. Bahkan, kejahatan yang dilabel dengan agama belakangan seperti satu hal terhormat bagi kelompok tertentu. "Kejahatan atas nama agama akan selalu terlihat terhormat. Karena semua kejahatan yang menggunakan agama sebenarnya hanya ingin menormalisasi kejahatan itu sendiri," katanya.
Sehingga, kata Islah, melalui buku yang dia tulis itu, ada harapan bahwa publik bisa kembali pada konsep awal agama yang membawa pesan kemanusiaan dan kedamaian. "Apa pun agama dan tafsir yang diyakininya, jika dua prinsip ini dijalankan secara utuh maka agama tidak akan melenceng di kalangan penganutnya," katanya.
Baca juga: BNPT Terapkan Konsep Pentahelix dalam Pencegahan Terorisme dan Radikalisme
Hadir pembicara kunci pada bedah buku itu, Penasehat Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Andy Soebjakto. Sebagai penanggap ada Direktur Eksekutif Imparsial Al Araf, dan Wakil Ketua Khotib Syuriah PWNU DKI Jakarta Taufik Damas.
Sementara Andy Soebjakto mengingatkan soal ancaman adanya algoritma sosial yang memicu benturan sosial dengan berbaju agama terus meningkat. "Media sosial tidak bisa dikontrol, tantangan kita tidak cuma struktural tapi juga ideologi transnasional juga terus masuk, sehingga kita perlu waspada," katanya.
Sehingga, kata Islah, melalui buku yang dia tulis itu, ada harapan bahwa publik bisa kembali pada konsep awal agama yang membawa pesan kemanusiaan dan kedamaian. "Apa pun agama dan tafsir yang diyakininya, jika dua prinsip ini dijalankan secara utuh maka agama tidak akan melenceng di kalangan penganutnya," katanya.
Baca juga: BNPT Terapkan Konsep Pentahelix dalam Pencegahan Terorisme dan Radikalisme
Hadir pembicara kunci pada bedah buku itu, Penasehat Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Andy Soebjakto. Sebagai penanggap ada Direktur Eksekutif Imparsial Al Araf, dan Wakil Ketua Khotib Syuriah PWNU DKI Jakarta Taufik Damas.
Sementara Andy Soebjakto mengingatkan soal ancaman adanya algoritma sosial yang memicu benturan sosial dengan berbaju agama terus meningkat. "Media sosial tidak bisa dikontrol, tantangan kita tidak cuma struktural tapi juga ideologi transnasional juga terus masuk, sehingga kita perlu waspada," katanya.
(abd)
Lihat Juga :