BMKG Sebut Chemtrails Akibatkan Mewabahnya Omicron Teori Konspirasi, Begini Penjelasannya
Kamis, 17 Februari 2022 - 15:14 WIB
loading...
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa isu chemtrails dapat diklasifikasikan sebagai teori konspirasi yang menyebar dan membuat kepanikan publik. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa isu chemtrails dapat diklasifikasikan sebagai teori konspirasi yang menyebar dan membuat kepanikan publik. Hal ini menjawab video yang menampilkan awan mirip sisa pesawat yang direkam warganet di Buah Batu, Kota Bandung, Jawa Barat, pada 7 Februari 2022.
Plt Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Urip Haryoko menjelaskan bahwa chemtrails merupakan gabungan chemistry (kimia) dan trails (jejak) yang dimaknai sebagai penyebaran zat kimia tertentu (biasanya beracun atau berbahaya) melalui pesawat terbang. “Oleh karena penyebarannya dilakukan dari udara, dampak terhadap paparan zat kimia ini dapat dirasakan secara luas dan sulit untuk dimitigasi,” ujarnya dikutip dari keterangannya, Kamis (17/2/2022). Baca juga: Tekan Omicron, Anies: Kapasitas Mal 60 Persen dan Bioskop 50 Persen
Penelitian yang ditulis J Marvin Herndon dan timnya berjudul Chemtrails are Not Contrails: Radiometric Evidence menyebut bahwa sampai saat ini, klaim chemtrails dan dampak negatifnya tidak terbukti.
“Belum ada laporan resmi atau publikasi ilmiah yang menyebutkan keberadaan, apalagi akibat buruk yang dapat ditimbulkan. Salah satu kajian menunjukkan bahwa klaim chemtrails tidak benar karena tidak ada kandungan zat kimia yang berbahaya dari jejak yang ditinggalkan oleh pesawat terbang,” tulis laporan yang tayang di Journal of Geography, Environment and Earth Science International, Maret 2020.
Plt Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Urip Haryoko menjelaskan bahwa chemtrails merupakan gabungan chemistry (kimia) dan trails (jejak) yang dimaknai sebagai penyebaran zat kimia tertentu (biasanya beracun atau berbahaya) melalui pesawat terbang. “Oleh karena penyebarannya dilakukan dari udara, dampak terhadap paparan zat kimia ini dapat dirasakan secara luas dan sulit untuk dimitigasi,” ujarnya dikutip dari keterangannya, Kamis (17/2/2022). Baca juga: Tekan Omicron, Anies: Kapasitas Mal 60 Persen dan Bioskop 50 Persen
Penelitian yang ditulis J Marvin Herndon dan timnya berjudul Chemtrails are Not Contrails: Radiometric Evidence menyebut bahwa sampai saat ini, klaim chemtrails dan dampak negatifnya tidak terbukti.
“Belum ada laporan resmi atau publikasi ilmiah yang menyebutkan keberadaan, apalagi akibat buruk yang dapat ditimbulkan. Salah satu kajian menunjukkan bahwa klaim chemtrails tidak benar karena tidak ada kandungan zat kimia yang berbahaya dari jejak yang ditinggalkan oleh pesawat terbang,” tulis laporan yang tayang di Journal of Geography, Environment and Earth Science International, Maret 2020.
Lihat Juga :