Soroti Sejumlah Persoalan Bangsa, YAHMI Berikan Beberapa Catatan
Sabtu, 29 Januari 2022 - 21:30 WIB
loading...
Ketua Dewan Pembina Yayasan Harapan Mukhlisin Indonesia (YAHMI) Ahmad Ganis. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Alumni Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI ) prihatin atas kondisi bangsa dan negara saat ini. Di bidang politik, mereka menilai ada indikasi munculnya kelompok oligarki yang sangat memengaruhi elite politik dalam mengambil keputusan.
Di bidang ekonomi, alumni HMI menilai pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan pemerintah justru melahirkan kesenjangan yang terlalu mengaga di tengah masyarakat. Keprihatinan di bidang budaya, semakin jauhnya masyarakat, terutama generasi milenial dari budaya luhur bangsa.
“Dan keprihatinan terakhir kita sebagai alumni HMI karena umat Islam terbelah dalam berbagai kelompok, yang sesungguhnya merugikan umat Islam itu sendiri,” kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Harapan Mukhlisin Indonesia (YAHMI) Ahmad Ganis mengawali sambutannya dalam pengukuhan Dewan Pembina, Dewan Pengawas, Dewan Penasehat, dan Badan Pengurus YAHMI periode 2021-2026 di Graha HMI Bandung, Sabtu (29/1/2022).
Baca juga: Gus Yahya, Mantan Aktivis HMI yang Menakhodai PBNU
Ahmad Ganis menegaskan alumni HMI sangat menghormati perbedaan, tapi mengharamkan permusuhan, terlebih permusuhan sesama anak bangsa. “Indonesia adalah negara-bangsa majemuk dengan latar belakang masyarakat multikultural, yang menjadi khazanah bangsa yang tidak ternilai,” katanya.
Dia mengatakan, formasi Indonesia sebagai negara-bangsa didasarkan pada kesadaran tinggi dan mendalam akan kemajemukan, yang ditautkan oleh suatu nilai dan terikat dalam suatu komitmen sangat kuat. “Untuk membangun rumah bersama dalam wujud Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata tokoh HMI Bandung yang tahun ini berusia 80 tahun namun masih segar dan sistematis cara berpikirnya.
Ahmad Ganis juga mengatakan Islam adalah salah satu elemen penting di dalam bangunan negara-bangsa Indonesia, yang berkontribusi besar dalam proses pembentukan NKRI sebagai penjelmaan negara-bangsa modern. Berpijak pada kesadaran historis sebagai salah satu elemen pembentuk negara-bangsa, umat Islam juga mengambil peran dan berpartisipasi dalam mendorong Indonesia mewujudkan cita-cita kemerdekaan sebagai negara berdaulat, modern, adil, dan sejahtera.
Di bidang ekonomi, alumni HMI menilai pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan pemerintah justru melahirkan kesenjangan yang terlalu mengaga di tengah masyarakat. Keprihatinan di bidang budaya, semakin jauhnya masyarakat, terutama generasi milenial dari budaya luhur bangsa.
“Dan keprihatinan terakhir kita sebagai alumni HMI karena umat Islam terbelah dalam berbagai kelompok, yang sesungguhnya merugikan umat Islam itu sendiri,” kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Harapan Mukhlisin Indonesia (YAHMI) Ahmad Ganis mengawali sambutannya dalam pengukuhan Dewan Pembina, Dewan Pengawas, Dewan Penasehat, dan Badan Pengurus YAHMI periode 2021-2026 di Graha HMI Bandung, Sabtu (29/1/2022).
Baca juga: Gus Yahya, Mantan Aktivis HMI yang Menakhodai PBNU
Ahmad Ganis menegaskan alumni HMI sangat menghormati perbedaan, tapi mengharamkan permusuhan, terlebih permusuhan sesama anak bangsa. “Indonesia adalah negara-bangsa majemuk dengan latar belakang masyarakat multikultural, yang menjadi khazanah bangsa yang tidak ternilai,” katanya.
Dia mengatakan, formasi Indonesia sebagai negara-bangsa didasarkan pada kesadaran tinggi dan mendalam akan kemajemukan, yang ditautkan oleh suatu nilai dan terikat dalam suatu komitmen sangat kuat. “Untuk membangun rumah bersama dalam wujud Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata tokoh HMI Bandung yang tahun ini berusia 80 tahun namun masih segar dan sistematis cara berpikirnya.
Ahmad Ganis juga mengatakan Islam adalah salah satu elemen penting di dalam bangunan negara-bangsa Indonesia, yang berkontribusi besar dalam proses pembentukan NKRI sebagai penjelmaan negara-bangsa modern. Berpijak pada kesadaran historis sebagai salah satu elemen pembentuk negara-bangsa, umat Islam juga mengambil peran dan berpartisipasi dalam mendorong Indonesia mewujudkan cita-cita kemerdekaan sebagai negara berdaulat, modern, adil, dan sejahtera.
Lihat Juga :