Membangun Otot TNI AL
Sabtu, 29 Januari 2022 - 09:39 WIB
loading...
A
A
A
Namun, bila diukur secara kualitas yang melibatkan sejumlah variabel seperti kecangguhan sistem rudal, sistem manajemen tempur, sistem pertahana udara, dan lainnya, tentu akan menimbulkan tanda tanya karena faktanya mayoritas kapal perang yang dimiliki TNI AL berusia tua.
Pembangunan kekuatan alutsista tentu harus mempertimbangkan perkembangan tekhnologi. Belum lagi ancaman kian meningkat, termasuk menghadapi agresivitas China di Indo Fasifik. Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Yudo Margono telah menegaskan, bagi Indonesia memiliki kapal-kapal dengan teknologi modern bukan hanya kebutuhan tetapi sebuah keniscayaan, sebab ancaman yang harus dihadapi semakin kompleks.
Prabowo memahami betul dinamika lingkungan yang berkembang dan tantangan yang dihadapi Indonesia. Karena itu, kebijakan yang diambil sejak diamanahi sebagai menteri pertahanan tampak ambisius. Lihatlah bagaimana dia memborong enam kapal FREMM dari galangan Fincantieri Italia plus dua kapal bekas, Kelas Maestrale. Indonesia juga sudah teken kontrak untuk pembangunan dua kapal fregat dari Inggris, Arrowhead 140, yang bakal dibangun di PT PAL. Tidak hanya itu, negeri ini juga ancang-ancang mengakusisi kapal seram baru, dan membeli Fregat Mogami Kelas dari Jepang.
Pemenuhan kapal perang juga semakin banyak melibatkan galangan kapal dalam negeri. Teranyar pemerintah telah meresmikan KRI Golok-688 buatan PT Lindungi Industri Invest. Saat ini Indonesia juga sudah memulai pembangunan kapan Offshore Patrol Vessel (OPV) di galangan kapal dalam negeri, PT Daya Radar Utama (DRU), yang bekerja sama dengan perusahaan alutsista ternama dunia, Haveksan Turki dan Thales Belanda. Bukan hanya itu, PT PAL juga tengah meneruskan kontrak kapal cepat rudal (KCR) yang dilengkapi dengan sistem manajemen tempur atau CMS canggih dari Terma Denmark.
Alutsista memang sangat mahal. Misalnya, untuk pembelian 6 FREMM dari Italia, pemerintah harus menggelontorkan anggaran sebesar Rp72 triliun. Dana yang dibutuhkan sudah pasti akan berlipat ganda untuk kebutuhan pembelian dan pembangunan fregat lain, kapal selam, atau kapal perang yang ditarget mencapai 50 unit. Tentu pembayaran tidak sekaligus, tapi menggunakan skema long term. Namun, dana itu tidak berarti bila dibandingkan dengan kedaulatan yang harus dipertahankan. Si vis pacem para bellum, jika Indonesia ingin damai maka harus bersiap perang. Kekuatan TNI AL menjadi kunci untuk mewujudkan harapan tersebut.
Pembangunan kekuatan alutsista tentu harus mempertimbangkan perkembangan tekhnologi. Belum lagi ancaman kian meningkat, termasuk menghadapi agresivitas China di Indo Fasifik. Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Yudo Margono telah menegaskan, bagi Indonesia memiliki kapal-kapal dengan teknologi modern bukan hanya kebutuhan tetapi sebuah keniscayaan, sebab ancaman yang harus dihadapi semakin kompleks.
Prabowo memahami betul dinamika lingkungan yang berkembang dan tantangan yang dihadapi Indonesia. Karena itu, kebijakan yang diambil sejak diamanahi sebagai menteri pertahanan tampak ambisius. Lihatlah bagaimana dia memborong enam kapal FREMM dari galangan Fincantieri Italia plus dua kapal bekas, Kelas Maestrale. Indonesia juga sudah teken kontrak untuk pembangunan dua kapal fregat dari Inggris, Arrowhead 140, yang bakal dibangun di PT PAL. Tidak hanya itu, negeri ini juga ancang-ancang mengakusisi kapal seram baru, dan membeli Fregat Mogami Kelas dari Jepang.
Pemenuhan kapal perang juga semakin banyak melibatkan galangan kapal dalam negeri. Teranyar pemerintah telah meresmikan KRI Golok-688 buatan PT Lindungi Industri Invest. Saat ini Indonesia juga sudah memulai pembangunan kapan Offshore Patrol Vessel (OPV) di galangan kapal dalam negeri, PT Daya Radar Utama (DRU), yang bekerja sama dengan perusahaan alutsista ternama dunia, Haveksan Turki dan Thales Belanda. Bukan hanya itu, PT PAL juga tengah meneruskan kontrak kapal cepat rudal (KCR) yang dilengkapi dengan sistem manajemen tempur atau CMS canggih dari Terma Denmark.
Alutsista memang sangat mahal. Misalnya, untuk pembelian 6 FREMM dari Italia, pemerintah harus menggelontorkan anggaran sebesar Rp72 triliun. Dana yang dibutuhkan sudah pasti akan berlipat ganda untuk kebutuhan pembelian dan pembangunan fregat lain, kapal selam, atau kapal perang yang ditarget mencapai 50 unit. Tentu pembayaran tidak sekaligus, tapi menggunakan skema long term. Namun, dana itu tidak berarti bila dibandingkan dengan kedaulatan yang harus dipertahankan. Si vis pacem para bellum, jika Indonesia ingin damai maka harus bersiap perang. Kekuatan TNI AL menjadi kunci untuk mewujudkan harapan tersebut.
(ynt)
Lihat Juga :