Segudang Asa Pengembangan Energi Nuklir di Indonesia
Selasa, 25 Januari 2022 - 15:23 WIB
loading...
A
A
A
Selain PLTN berkapasitas tinggi, “Rosatom” saat ini sedang mengerjakan proyek PLTN berkapasitas rendah dalam versi darat dan terapung. Stasiun semacam itu memecahkan masalah kekurangan energi di wilayah terpencil, jauh dari jaringan listrik pusat, serta mampu beroperasi dalam moda kogenerasi, sehingga mampu menyediakan kepada pelanggan tidak hanya listrik, tetapi juga panas, serta dapat digunakan untuk desalinasi dan produksi hidrogen.
Solusi penggunaan PLTN kapasitas rendah di darat adalah dengan menggunakan pembangkit reaktor RITM-200N dengan kapasitas terpasang sekitar 55 MW. Saat ini, Rusia sedang melaksanakan proyek pembangunan PLTN kapasitas rendah berbasis darat. Tahap uji coba dijadwalkan pada 2028. Teknologi reaktor RITM-200N didasarkan pada teknologi yang telah teruji oleh waktu dan telah terbukti keefektifannya selama bertahun-tahun dalam pengoperasian kapal pemecah es bertenaga nuklir Rusia.
Pada 2020 PLTN terapung satu-satunya di dunia bernama “Akademisi Lomonosov” berhasil mulai dioperasikan di bagian utara Rusia (wilayah Okrug Otonom Chukotka, kota Pevek). Kami yakin bahwa teknologi tersebut akan menjadi solusi yang lebih kuat, padat dan efisien untuk berbagai negara dan wilayah di dunia, termasuk Indonesia.
Dengan demikian, kapasitas listrik proyek akan menjadi 100 MW, siklus bahan bakar (fuel cycle) – hingga 10 tahun, dan siklus hidup stasiun pembangkit akan menjadi 60 tahun. PLTN terapung dapat digunakan untuk memasok energi bagi konsumen di daerah terpencil, misalnya di pulau-pulau, daerah kepulauan, industri besar, fasilitas pertambangan dan infrastruktur, dll.
Kami yakin bahwa energi nuklir dapat menjadi solusi atas pertanyaan tentang bagaimana cara menjaga pembangunan ekonomi Indonesia tetap kuat dan di saat yang sama memberikan kontribusi pada pencapaian netralitas karbon.
Topik ini memiliki relevansi khusus dalam konteks rencana pembangunan ibu kota negara yang baru di pulau Kalimantan, untuk itu pihak Rusia siap memberikan dukungan penuh, termasuk dalam hal penyediaan listrik murah dan ramah lingkungan bagi kota Nusantara.
Solusi penggunaan PLTN kapasitas rendah di darat adalah dengan menggunakan pembangkit reaktor RITM-200N dengan kapasitas terpasang sekitar 55 MW. Saat ini, Rusia sedang melaksanakan proyek pembangunan PLTN kapasitas rendah berbasis darat. Tahap uji coba dijadwalkan pada 2028. Teknologi reaktor RITM-200N didasarkan pada teknologi yang telah teruji oleh waktu dan telah terbukti keefektifannya selama bertahun-tahun dalam pengoperasian kapal pemecah es bertenaga nuklir Rusia.
Pada 2020 PLTN terapung satu-satunya di dunia bernama “Akademisi Lomonosov” berhasil mulai dioperasikan di bagian utara Rusia (wilayah Okrug Otonom Chukotka, kota Pevek). Kami yakin bahwa teknologi tersebut akan menjadi solusi yang lebih kuat, padat dan efisien untuk berbagai negara dan wilayah di dunia, termasuk Indonesia.
Dengan demikian, kapasitas listrik proyek akan menjadi 100 MW, siklus bahan bakar (fuel cycle) – hingga 10 tahun, dan siklus hidup stasiun pembangkit akan menjadi 60 tahun. PLTN terapung dapat digunakan untuk memasok energi bagi konsumen di daerah terpencil, misalnya di pulau-pulau, daerah kepulauan, industri besar, fasilitas pertambangan dan infrastruktur, dll.
Kami yakin bahwa energi nuklir dapat menjadi solusi atas pertanyaan tentang bagaimana cara menjaga pembangunan ekonomi Indonesia tetap kuat dan di saat yang sama memberikan kontribusi pada pencapaian netralitas karbon.
Topik ini memiliki relevansi khusus dalam konteks rencana pembangunan ibu kota negara yang baru di pulau Kalimantan, untuk itu pihak Rusia siap memberikan dukungan penuh, termasuk dalam hal penyediaan listrik murah dan ramah lingkungan bagi kota Nusantara.
(bmm)
Lihat Juga :