Seniman Taiwan Suarakan Pesan Lingkungan dalam Pameran Metaphors About Islands di Jakarta
Selasa, 18 Januari 2022 - 10:48 WIB
loading...
A
A
A
baca juga: Peran dan Potensi Seni Rupa dalam Ekonomi Kreatif saat Pandemi
Selanjutnya, karya berjudul Force Majeure!, yang dibuat oleh Lightbox Library beserta SOKONG! dan RAWS SYNDICATE (RAWS SNDCT). Karya berupa strategi penyebaran gambar ini mengumpulkan gambar yang sudah jadi melalui web atau media cetak, mengunjungi kembali lokasi bencana untuk pengambilan gambar lokasi dan menggunakan teknik pasca produksi untuk mengintervensi dan mengubah subjek utama gambar.
![Seniman Taiwan Suarakan Pesan Lingkungan dalam Pameran “Metaphors About Islands” di Jakarta]()
Force Majeure!
Dengan cara ini, merenungkan mekanisme sirkulasi video kontemporer dan hubungan dialektis antara berbagai peristiwa kebetulan. Dengan mengintervensi dan mengubah citra, rantai naratif bencana yang dibangun oleh mereka untuk menantang kebiasaan masyarakat dan menyerukan refleksi kembali terhadap bencana.
baca juga: Ridwan Kamil Jual Lukisan Seniman Braga di Pasar NFT 8x Lebih Mahal
Lalu, karya instalasi Future Alchemy, kolaborasi antara HOU I-Ting dan It's In Your Hands Collective. Karya ini didasarkan pada narasi perempuan, membahas alkimia artistik ramah lingkungan, dan merefleksikan dampak lingkungan dari eksploitasi berlebihan dan produksi industri, dan juga nilai alternatif benda non-organik seperti plastik, sampah dapur, sampah, kompos, dll.
![Seniman Taiwan Suarakan Pesan Lingkungan dalam Pameran “Metaphors About Islands” di Jakarta]()
Future Alchemy, karya kolaborasi antara HOU I-Ting dan It's In Your Hands Collective
Dalam dunia yang dibangun oleh sistem sosial patriarki saat ini, apa yang disebut kesucian dan kemuliaan justru semacam belenggu bagi perempuan. Karya ini mengkritik struktur patriarki yang menciptakan penindasan dari perspektif perempuan, dengan perpaduan berbagai narasi ekologis.
baca juga: Keren! Trofi World Superbike 2021 di Mandalika Karya Seniman Bali
Terakhir, Hoodwink karya kreatif Zhang Xu-Zhan dan pink.ink. Berbeda dengan karya-karya lainnya dengan cita-cita utopis, karya yang dibuat Zhang Xu-Zhan "AT5" selama tinggal di Yogyakarta, ini menggunakan sistem klasifikasi Arnai-Thompson, untuk mengklasifikasikan cerita rakyat.
![Seniman Taiwan Suarakan Pesan Lingkungan dalam Pameran “Metaphors About Islands” di Jakarta]()
Hoodwink karya kreatif Zhang Xu-Zhan dan pink.ink.
Mempelajari tema poluler cerita rakyat Indonesia "Kancil", dan menambahkan kostum yang digunakan dalam parade keagamaan tradisional Taiwan untuk menciptakan gambar setengah rubah dan setengah kancil. Menafsirkan bersama protagonis "AT5" dalam narasi yang berubah dari cerita yang diatur ulang secara acak.
Selanjutnya, karya berjudul Force Majeure!, yang dibuat oleh Lightbox Library beserta SOKONG! dan RAWS SYNDICATE (RAWS SNDCT). Karya berupa strategi penyebaran gambar ini mengumpulkan gambar yang sudah jadi melalui web atau media cetak, mengunjungi kembali lokasi bencana untuk pengambilan gambar lokasi dan menggunakan teknik pasca produksi untuk mengintervensi dan mengubah subjek utama gambar.

Force Majeure!
Dengan cara ini, merenungkan mekanisme sirkulasi video kontemporer dan hubungan dialektis antara berbagai peristiwa kebetulan. Dengan mengintervensi dan mengubah citra, rantai naratif bencana yang dibangun oleh mereka untuk menantang kebiasaan masyarakat dan menyerukan refleksi kembali terhadap bencana.
baca juga: Ridwan Kamil Jual Lukisan Seniman Braga di Pasar NFT 8x Lebih Mahal
Lalu, karya instalasi Future Alchemy, kolaborasi antara HOU I-Ting dan It's In Your Hands Collective. Karya ini didasarkan pada narasi perempuan, membahas alkimia artistik ramah lingkungan, dan merefleksikan dampak lingkungan dari eksploitasi berlebihan dan produksi industri, dan juga nilai alternatif benda non-organik seperti plastik, sampah dapur, sampah, kompos, dll.

Future Alchemy, karya kolaborasi antara HOU I-Ting dan It's In Your Hands Collective
Dalam dunia yang dibangun oleh sistem sosial patriarki saat ini, apa yang disebut kesucian dan kemuliaan justru semacam belenggu bagi perempuan. Karya ini mengkritik struktur patriarki yang menciptakan penindasan dari perspektif perempuan, dengan perpaduan berbagai narasi ekologis.
baca juga: Keren! Trofi World Superbike 2021 di Mandalika Karya Seniman Bali
Terakhir, Hoodwink karya kreatif Zhang Xu-Zhan dan pink.ink. Berbeda dengan karya-karya lainnya dengan cita-cita utopis, karya yang dibuat Zhang Xu-Zhan "AT5" selama tinggal di Yogyakarta, ini menggunakan sistem klasifikasi Arnai-Thompson, untuk mengklasifikasikan cerita rakyat.

Hoodwink karya kreatif Zhang Xu-Zhan dan pink.ink.
Mempelajari tema poluler cerita rakyat Indonesia "Kancil", dan menambahkan kostum yang digunakan dalam parade keagamaan tradisional Taiwan untuk menciptakan gambar setengah rubah dan setengah kancil. Menafsirkan bersama protagonis "AT5" dalam narasi yang berubah dari cerita yang diatur ulang secara acak.
(hdr)
Lihat Juga :