Vaksin Booster Gratis Keputusan Bijak
Rabu, 12 Januari 2022 - 15:32 WIB
loading...
A
A
A
Namun begitu, pemerintah Indonesia pasti sudah menghitung jeli, termasuk aspek politik, ketahanan negara dan lain sebagainya. Di tengah situasi kebangsaan yang penuh keprihatinan ini, kebijakan membebankan biaya vaksin kepada masyarakat tidaklah tepat. Publik pasti akan bereaksi karena untuk memenuhi kebutuhan makan saja, saat ini, bukan hal ringan lagi. Bahkan tak sedikit rakyat yang masih kesulitan mendapat pekerjaan akibat disrupsi pandemi. Alih-alih, untuk membeli vaksin yang harganya ratusan ribu rupiah itu, tentu menjadi hal yang jauh dalam pikiran.
Jelas kiranya, keputusan menggratiskan vaksin booster ini adalah langkah bijak. Ketika semua rakyat memiliki akses vaksin, maka sejatinya pemerintah telah menjamin keadilan terutama akses kesehatan bagi seluruh warganya. Keseragaman ini juga menjadi pondasi yang lebih kokoh terciptanya kekebalan bersama (herd immunity). Semakin tinggi kekebalan terbentuk, semakin tangguh pula masyarakat.
Indonesia pun telah banyak belajar pentingnya kekebalan bersama ini. Banyak kalangan internasional menilai, kekebalan masyarakat Indonesia saat ini dianggap yang paling tinggi setelah dihantam gelombang Covid varian Delta Juni-Juli 2021 lalu. Vaksinasi gencar yang digelorakan pemerintah disebut-sebut menjadi pembangun imunitas tersebut. Kini vaksinasi tahap 1 sudah mencapai 82% dari total penduduk. Sedang tahap 2 mencapai 56%. Ditargetkan pada Maret nanti, sekitar 99% penduduk Indonesia sudah vaksin 1 dan 2.
Kita semua berharap, vaksinasi booster yang rencananya digelar mulai hari ini, Rabu (12/1), menjadi tonggak kekuatan baru masyarakat Indonesia. Namun keputusan besar yang dibuat pemerintah dengan menggratiskan vaksin booster tak banyak berarti jika publik juga tidak memberikan respons yang baik. Untuk itu, komunikasi pemerintah kepada publik patut terus diperbaiki, khususnya menyadarkan pihak-pihak yang menentang vaksin karena mereka sejatinya belum mendapatkan penjelasan secara utuh.
Vaksinasi booster ini pun bukan ritualitas semata. Di dalamnya ada tujuan yang lebih luas, yakni perjuangan Indonesia untuk segera bangkit dan pulih seperti kondisi sebelum wabah. Ini tentu bukan tugas ringan. Untuk itu, sudah seharusnya semua pihak untuk bahu membahu menyukseskan program ini. Jangan sampai ikhtiar besar bangsa ini mendapat banyak kendala, apalagi tercederai dengan kepentingan praktis kelompok tertentu. Memimjam istilah Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri saat berpidato pada HUT ke-49 PDIP, Senin (10/1), saatnya "benalu-benalu" pandemi harus dibasmi secara kolektif.
Jelas kiranya, keputusan menggratiskan vaksin booster ini adalah langkah bijak. Ketika semua rakyat memiliki akses vaksin, maka sejatinya pemerintah telah menjamin keadilan terutama akses kesehatan bagi seluruh warganya. Keseragaman ini juga menjadi pondasi yang lebih kokoh terciptanya kekebalan bersama (herd immunity). Semakin tinggi kekebalan terbentuk, semakin tangguh pula masyarakat.
Indonesia pun telah banyak belajar pentingnya kekebalan bersama ini. Banyak kalangan internasional menilai, kekebalan masyarakat Indonesia saat ini dianggap yang paling tinggi setelah dihantam gelombang Covid varian Delta Juni-Juli 2021 lalu. Vaksinasi gencar yang digelorakan pemerintah disebut-sebut menjadi pembangun imunitas tersebut. Kini vaksinasi tahap 1 sudah mencapai 82% dari total penduduk. Sedang tahap 2 mencapai 56%. Ditargetkan pada Maret nanti, sekitar 99% penduduk Indonesia sudah vaksin 1 dan 2.
Kita semua berharap, vaksinasi booster yang rencananya digelar mulai hari ini, Rabu (12/1), menjadi tonggak kekuatan baru masyarakat Indonesia. Namun keputusan besar yang dibuat pemerintah dengan menggratiskan vaksin booster tak banyak berarti jika publik juga tidak memberikan respons yang baik. Untuk itu, komunikasi pemerintah kepada publik patut terus diperbaiki, khususnya menyadarkan pihak-pihak yang menentang vaksin karena mereka sejatinya belum mendapatkan penjelasan secara utuh.
Vaksinasi booster ini pun bukan ritualitas semata. Di dalamnya ada tujuan yang lebih luas, yakni perjuangan Indonesia untuk segera bangkit dan pulih seperti kondisi sebelum wabah. Ini tentu bukan tugas ringan. Untuk itu, sudah seharusnya semua pihak untuk bahu membahu menyukseskan program ini. Jangan sampai ikhtiar besar bangsa ini mendapat banyak kendala, apalagi tercederai dengan kepentingan praktis kelompok tertentu. Memimjam istilah Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri saat berpidato pada HUT ke-49 PDIP, Senin (10/1), saatnya "benalu-benalu" pandemi harus dibasmi secara kolektif.
(bmm)
Lihat Juga :