Musim Bersolek Capres Telah Tiba
Kamis, 06 Januari 2022 - 06:25 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian, Menteri BUMN Erick Thohir yang wajahnya dijumpai di setiap layar mesin ATM Himpunan Bank Milik Negara. Erick Thohir juga rajin ke beberapa daerah membantu membangun fasilitas umum masyarakat bersama Yayasan Erick Thohir.
Baca: Top! Diplomasi Batik Ridwan Kamil Disukai Media dan Publik Korea Selatan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang juga sebagai Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto beberapa bulan lalu juga rajin safari politik. Wajahnya juga banyak dijumpai di billboard atau spanduk beberapa daerah.
Lalu, seberapa efektifkah kampanye dua tahun jelang Pilpres 2024? Apa saja yang mesti dilakukan para capres demi terus menaikkan popularitas dan elektabilitasnya?
"Para tokoh yang berminat maupun berpeluang menjadi kontestan Pilpres 2024 pasti akan meningkatkan secara lebih masif dan sistematis berbagai upaya mereka untuk membujuk para pemilih," kata Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan kepada SINDOnews, Rabu (5/1/2022).
Baca juga: Erick Thohir Resmi Jadi Anggota Kehormatan Banser
Dia menambahkan, selain waktunya sudah makin dekat, yakni hanya dua tahun menjelang pelaksanaan pemilu tersebut, minimal ada tiga alasan pokok mengapa para calon kontestan ini akan semakin masif bersosialisasi. Pertama, kata dia, dari sudut pandang bakal calon pilpres untuk terpilih rumusnya tetap tiga kunci: popularitas, likeabilitas (kedisukaan), dan elektabilitas (kedipilihan).
Dia menuturkan, bagi calon yang popularitasnya sudah penuh atau hampir seratus persen seperti Prabowo Subianto, maka fokusnya pada likeabilitas dan elektabilitas. Dia melanjutkan, bakal calon yang popularitasnya belum penuh seperti Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Khofifah Indar Parawansa, Puan Maharani, Airlangga Hartarto, dan lain-lain akan fokus pada ketiga-tiganya.
"Dan itu harus dilakukan di seluruh Indonesia, tidak bisa hanya fokus pada daerah tertentu, meskipun wilayah pada pemilih seperti Jawa. Waktu dua tahun, sebetulnya tidak begitu panjang untuk upaya-upaya sosialisasi politik semacam ini," tuturnya.
Baca: Kalender dan Stiker Ganjar-Puan Ludes Diserbu Masyarakat di Bekasi
Sementara alasan kedua, kata dia, yang akan menyaring dan mencalonkan adalah partai-partai politik. Menurut dia, salah satu kepentingan utama partai-partai adalah memastikan calon yang mereka usung atau dukung, kalau bisa memberi dampak positif bagi perolehan suara partai di pemilu legislatif.
Baca: Top! Diplomasi Batik Ridwan Kamil Disukai Media dan Publik Korea Selatan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang juga sebagai Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto beberapa bulan lalu juga rajin safari politik. Wajahnya juga banyak dijumpai di billboard atau spanduk beberapa daerah.
Lalu, seberapa efektifkah kampanye dua tahun jelang Pilpres 2024? Apa saja yang mesti dilakukan para capres demi terus menaikkan popularitas dan elektabilitasnya?
"Para tokoh yang berminat maupun berpeluang menjadi kontestan Pilpres 2024 pasti akan meningkatkan secara lebih masif dan sistematis berbagai upaya mereka untuk membujuk para pemilih," kata Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan kepada SINDOnews, Rabu (5/1/2022).
Baca juga: Erick Thohir Resmi Jadi Anggota Kehormatan Banser
Dia menambahkan, selain waktunya sudah makin dekat, yakni hanya dua tahun menjelang pelaksanaan pemilu tersebut, minimal ada tiga alasan pokok mengapa para calon kontestan ini akan semakin masif bersosialisasi. Pertama, kata dia, dari sudut pandang bakal calon pilpres untuk terpilih rumusnya tetap tiga kunci: popularitas, likeabilitas (kedisukaan), dan elektabilitas (kedipilihan).
Dia menuturkan, bagi calon yang popularitasnya sudah penuh atau hampir seratus persen seperti Prabowo Subianto, maka fokusnya pada likeabilitas dan elektabilitas. Dia melanjutkan, bakal calon yang popularitasnya belum penuh seperti Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Khofifah Indar Parawansa, Puan Maharani, Airlangga Hartarto, dan lain-lain akan fokus pada ketiga-tiganya.
"Dan itu harus dilakukan di seluruh Indonesia, tidak bisa hanya fokus pada daerah tertentu, meskipun wilayah pada pemilih seperti Jawa. Waktu dua tahun, sebetulnya tidak begitu panjang untuk upaya-upaya sosialisasi politik semacam ini," tuturnya.
Baca: Kalender dan Stiker Ganjar-Puan Ludes Diserbu Masyarakat di Bekasi
Sementara alasan kedua, kata dia, yang akan menyaring dan mencalonkan adalah partai-partai politik. Menurut dia, salah satu kepentingan utama partai-partai adalah memastikan calon yang mereka usung atau dukung, kalau bisa memberi dampak positif bagi perolehan suara partai di pemilu legislatif.
Lihat Juga :