Sejarah Nahdlatul Ulama, Lahir dari Pergulatan Pemikiran Para Kiai

Rabu, 22 Desember 2021 - 06:05 WIB
loading...
A A A
Dari perkenalannya, dua tokoh muda ini sepakat membuat organisasi yang tujuannya untuk meningkatkan mutu madrasah-madrasah sebagai sarana pendidikan dan pengajaran Islam. Maka dilahirkanlah organisasi bernama Jam'iyyah Nahdlatul Wathan, yang kemudian mendapatkan legal-formal (rechtspersoon) pada tahun 1916 M.

Sesuai dengan asas dan tujuannya, maka Nahdlatul Wathan mendirikan sebuah madrasah yang memenuhi persyaratan bertempat di Kawatan Gang IV, Surabaya, dan dipimpin oleh KH Mansur. Karena hendak ikut ke dalam Pengurus Pusat Muhammadiyah, pada tahun 1922 M, KH Mansur mengundurkan diri dari Nahdlatul Wathan. Untuk mengisi kekosongan, diadakanlah pemilihan yang kemudian jatuh pada KH Abdul Halim Leuwimunding, dengan pemimpin bagian ulama KH Wahab Hasbullah.

KH Wahab Hasbullah dengan KH Hasyim Asyari memiliki hubungan yang sangat dekat, meski selisih usianya 17 tahun. Selain hubungan guru dan santri, juga dilandasi hubungan keluarga yang tidak jauh.

KH Wahab Hasbullah dan KH Hasyim memiliki datuk yang sama, yaitu KH Abdussalam (Mbah Shihah), Pendiri Pesantren Tambakberas. Sebagai yang lebih muda, KH Abdul Wahab sering berkunjung sowan kepada KH Hasyim Asy'ari di Tebuireng.

Bakat sebagai aktivis organisasi mendorong KH Wahab Hasbullah mengadakan pertemuan di Langgar Haji Musa Kertopaten, Surabaya, untuk membahas faham Wahabi yang melanda Hijaz. Dalam pertemuan itu hadir para tokoh Nahdlatul Wathan dan Syubbanul Wathan, juga tokoh sepuh KH Hasyim Asyari yang saat itu berusia 55 tahun. Kemudian dibentuklah Komite Hijaz.

Eksponen-eksponen dalam Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan, dan Syubbanul Wathan, pada hakekatnya satu arah, satu orientasi baik dalam akidah maupun ibadah, juga satu dalam aspirasi kemasyarakatan berlebur dalam ikatan Komite Hijaz di bawah pimpinan KH Wahab Hasbullah, KH Hasyim Asyari, KH Bisri Syansuri, KH Ridwan (Semarang), KH R Asnawi (Kudus), KH Nawawi (Pasuruan), KH Nahrawi (Malang) dan KH Mas Alwi Abdul Aziz (Surabaya), serta beberapa kiai lainnya.

Di bawah pimpinan KH Wahab Hasbullah berkumpullah di Surabaya pada 16 Rajab 1344 Hijriyah bertepatan 31 Januari 1926. Dalam pertemuan itu diputuskan mengirim delegasi ke Kongres Islam Dunia di Makkah untuk memperjuangkan kepada Raja Ibnu Sa'ud agar hukum Syari'ah berdasarkan madzhab yang empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali. Juga agar mendapat perlindungan dan kebebasan di dalam wilayah Arab Saudi.

Kemudian, membentuk suatu Jam'iyyah bernama Nahdlatul Ulama, Kebangkitan Ulama, yang bertujuan menegakkan berlakunya Syari'at Islam yang berhaluan salah satu dari Madzhab-madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali. Jam'iyyah ini disusun dengan kepengurusan Syuriyah dan Tanfidziyah.

Nama Nahdlatul Ulama diusulkan oleh KH Mas Alwi Abdul Aziz. Delegasi ke Makkah terdiri dari KH Wahab Hasbullah dan Syaikh Ghanaim, dan pulang ke Indonesia membawa sukses dalam misinya, semua yang diperjuangkan berhasil. Meskipun demikian, KH Wahab Hasbullah berjiwa besar dan berhati mulia, merintis mulai sekitar tahun 1914 M hingga berdirinya NU pada 1926 M, tidak bersedia menduduki jabatan Rois Akbar dalam Nahdlatul Ulama.

KH Wahab Hasbullah justru menyerahkan jabatan itu kepada KH Hasyim Asy'ari, dan Presiden Tanfidziyah dipercayakan kepada Haji Hasan Gipo. KH Wahab Hasbullah merasa cukup menduduki jabatan Katib 'Aam Syuriyah.
(thm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Robikin Emhas: Marwah...
Robikin Emhas: Marwah NU Tercabik-cabik Hanya karena Konflik Elite PBNU
Gus Ipul Respons Wacana...
Gus Ipul Respons Wacana Cak Imin soal Pemimpin Baru PBNU: Baik untuk Didiskusikan
Gus Aab Nilai NU Butuh...
Gus Aab Nilai NU Butuh Kiai Zulfa yang Mampu Hubungkan Turats dengan Persoalan Kekinian
Kiai Said Aqil Anggap...
Kiai Said Aqil Anggap Kitab Kiai Zulfa sebagai Ruh Perjuangan NU Masa Depan
Jelang Muktamar ke-35...
Jelang Muktamar ke-35 NU, Nama KH Zulfa Mustofa Masuk Bursa Calon Ketum PBNU
Nahdlatul Ulama dan...
Nahdlatul Ulama dan Kesejahteraan Sosial
Bakal Dihadiri 3.000...
Bakal Dihadiri 3.000 Peserta, Gus Ipul Ungkap Persiapan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas
KH Hasanuddin Kriyani...
KH Hasanuddin Kriyani Resmi Menjadi Sesepuh Pondok Buntet Pesantren
28 PCNU se-Jateng Dukung...
28 PCNU se-Jateng Dukung Muktamar Ke-35 NU Digelar di Ponpes Lirboyo
Rekomendasi
Setelah Ribuan Gen Z...
Setelah Ribuan Gen Z Berdemo selama Berminggu-minggu, Menteri Pendidikan India Mundur
Yusril Imbau Dedi Mulyadi...
Yusril Imbau Dedi Mulyadi Tak Bikin Sayembara Tangkap Begal: Khawatir Masyarakat Jadi Main Hakim Sendiri
Hasil Piala AFF 2026:...
Hasil Piala AFF 2026: Malaysia Comeback, Tundukkan Myanmar 2-1
Berita Terkini
Robikin Emhas: Marwah...
Robikin Emhas: Marwah NU Tercabik-cabik Hanya karena Konflik Elite PBNU
Polemik Londo Ireng,...
Polemik Londo Ireng, IJTI Minta Presiden Hindari Diksi yang Bisa Beri Label Negatif bagi Profesi Jurnalis
Febrie Adriansyah Tak...
Febrie Adriansyah Tak Pakai Rompi Tahanan, Eks Penyidik KPK: Persepsi Publik Ada Keistimewaan Tidak Bisa Dicegah
Apresiasi Pelaksanaan...
Apresiasi Pelaksanaan PTT BSPS di Bandung, Mendagri: Tender Rakyat Perkuat Transparansi
Mantan Ketua MK Sebut...
Mantan Ketua MK Sebut Kondisi Indonesia Suram: Hukum Sangat Tajam ke Bawah, tapi Tumpul ke Atas
Dugaan Keterkaitan Eks...
Dugaan Keterkaitan Eks Jampidsus dengan Sejumlah Kasus Korupsi Disorot
Infografis
5 Pemain Paling Ikonik...
5 Pemain Paling Ikonik dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved