Komunikasi Adalah Kunci Kurangi Stunting
Jum'at, 17 Desember 2021 - 11:09 WIB
loading...
A
A
A
Masalah Komunikasi
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 disebutkan perlunya upaya meningkatkan SDM (sumber daya manusia) berkualitas dan berdaya saing melalui percepatan penurunan stunting.
Selain itu, diperlukan penguatan ketahanan ekonomi melalui peningkatan ketersediaan, akses, dan kualitas konsumsi pangan melalui fortifikasi dan biofortifikasi pangan. Fortifikasi pangan sebagai salah satu upaya pemenuhan gizi sensitif masyarakat merupakan intervensi yang terbukti cost-effective.
Hal itu dikarenakan fortifikasi dilakukan melalui bahan pangan terutama beras sehat dengan beberapa mikronutrien seperti Vitamin A, Vitamin B1, Vitamin B3, Vitamin B6, Asam Folat, Vitamin B12, Zat Besi yang dikonsumsi masyarakat secara luas terutama keluarga tidak mampu dengan biaya yang relatif lebih rendah.
Kebanyakan keluarga baik yang merencanakan akan punya anak, sedang hamil, sedang menyusui atau memiliki balita, menganggap tidak akan memiliki masalah dan risiko terhadap stunting.
Stunting memang mencakup masalah klinis, gizi, sanitasi, namun hal-hal tersebut juga menjadi masalah komunikasi. Pendekatan lintas disiplin sangat diperlukan dalam penanganan stunting. Pendekatan komunikasi dapat mendekatkan relevansi stunting karena berperspektif audience-oriented. Jadi masalah utama komunikasinya adalah belum adanya kesadaran Keluarga Berisiko Stunting karena belum adanya relevansi yang berangkat dari perspektif audience- oriented.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 disebutkan perlunya upaya meningkatkan SDM (sumber daya manusia) berkualitas dan berdaya saing melalui percepatan penurunan stunting.
Selain itu, diperlukan penguatan ketahanan ekonomi melalui peningkatan ketersediaan, akses, dan kualitas konsumsi pangan melalui fortifikasi dan biofortifikasi pangan. Fortifikasi pangan sebagai salah satu upaya pemenuhan gizi sensitif masyarakat merupakan intervensi yang terbukti cost-effective.
Hal itu dikarenakan fortifikasi dilakukan melalui bahan pangan terutama beras sehat dengan beberapa mikronutrien seperti Vitamin A, Vitamin B1, Vitamin B3, Vitamin B6, Asam Folat, Vitamin B12, Zat Besi yang dikonsumsi masyarakat secara luas terutama keluarga tidak mampu dengan biaya yang relatif lebih rendah.
Kebanyakan keluarga baik yang merencanakan akan punya anak, sedang hamil, sedang menyusui atau memiliki balita, menganggap tidak akan memiliki masalah dan risiko terhadap stunting.
Stunting memang mencakup masalah klinis, gizi, sanitasi, namun hal-hal tersebut juga menjadi masalah komunikasi. Pendekatan lintas disiplin sangat diperlukan dalam penanganan stunting. Pendekatan komunikasi dapat mendekatkan relevansi stunting karena berperspektif audience-oriented. Jadi masalah utama komunikasinya adalah belum adanya kesadaran Keluarga Berisiko Stunting karena belum adanya relevansi yang berangkat dari perspektif audience- oriented.
(atk)
Lihat Juga :