Jokowi Harus Turun Tangan Atasi Konflik Kepentingan di Program Prakerja
Rabu, 22 April 2020 - 17:19 WIB
loading...
A
A
A
Terlebih, Irwan melihat ada sebagian aplikasi dari 10 aplikasi yang terlibat dalam program Prakerja itu juga memiliki konflik kepentingan lain dengan Menteri Jokowi dan orang-orang yang pernah menjadi pendukung Jokowi dalam Pilpres. Program senilai Rp20 triliun yang dimaksudkan untuk membantu masyarakat di tengah pandemi COVID-19 dan program lainnya justru tidak transparan.
“Artinya ini kan mulai muncul semua (konflik kepentingan), menunjukkan bahwa proses pemerintahan Pak Jokowi apalagi dalam penanganan COVID-19 tidak menunjukkan adanya keterbukaan, transparansi dalam menjalankan pemerintahan. Artinya juga, program good governance dalam sistem pemerintahan tidak dilaksanakan. Bayangin gitu jelas-jelas ada keterkaitan dengan menteri, stafsus, KSP (kantor Staf Kepresidenan dalam dana desa) dan lain-lain tapi langsung ditunjuk tanpa proses pengelolaan keuangan yang sudah diatur,” imbuh Irwan.
Karena itu, dia mendesak agar sebaiknya program Prakerja ini tidak perlu dilanjutkan. Lebih baik anggaran Rp20 triliun itu dicairkan sebagai BLT untuk masyarakat seluruh Indonesia mengingat BLT baru menjangkau perkotaan di Jabodetabek sementara di daerah masih banyak yang tidak mendapatkan bantuan bahkan, tak sedikit yang mati kelaparan di tengah pandemi ini.
“Mau dilanjutkan buat apa juga apalagi situasi seperti ini. Kartu Prakerja kan bukan untuk melamar kerja, bukan untuk dapatkan pekerjaan tapi untuk meningkatkan skill. Kalau untuk tingkatkan skill kan bisa dengan berbagai informasi di internet,” ucapnya.
“Artinya ini kan mulai muncul semua (konflik kepentingan), menunjukkan bahwa proses pemerintahan Pak Jokowi apalagi dalam penanganan COVID-19 tidak menunjukkan adanya keterbukaan, transparansi dalam menjalankan pemerintahan. Artinya juga, program good governance dalam sistem pemerintahan tidak dilaksanakan. Bayangin gitu jelas-jelas ada keterkaitan dengan menteri, stafsus, KSP (kantor Staf Kepresidenan dalam dana desa) dan lain-lain tapi langsung ditunjuk tanpa proses pengelolaan keuangan yang sudah diatur,” imbuh Irwan.
Karena itu, dia mendesak agar sebaiknya program Prakerja ini tidak perlu dilanjutkan. Lebih baik anggaran Rp20 triliun itu dicairkan sebagai BLT untuk masyarakat seluruh Indonesia mengingat BLT baru menjangkau perkotaan di Jabodetabek sementara di daerah masih banyak yang tidak mendapatkan bantuan bahkan, tak sedikit yang mati kelaparan di tengah pandemi ini.
“Mau dilanjutkan buat apa juga apalagi situasi seperti ini. Kartu Prakerja kan bukan untuk melamar kerja, bukan untuk dapatkan pekerjaan tapi untuk meningkatkan skill. Kalau untuk tingkatkan skill kan bisa dengan berbagai informasi di internet,” ucapnya.
(cip)