Runtuhnya Kepercayaan Medsos
Sabtu, 13 November 2021 - 05:26 WIB
loading...
A
A
A
“Karena itu, ini kesempatan bagi media arus utama untuk menunjukkan bahwa apa yang telah mereka produksi, baik itu TV, radio, online, maupun media cetak, harus mampu menjangkau pembaca baru yang selama ini justru notabene mengakses informasi apapun dari medsos. Ini kesempatan media arus utama untuk bangkit dan mengambil peluang,”ujar Founder & CEO PR Indonesia Group itu.
Asmono menilai, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) selama ini cenderung melakukan tindakan kursif ketika ada akun medsos, platform atau aplikasi yang meresahkan masyarakat tetapi malah ditutup. Meski tindakan tersebut benar, namun semestinya ada upaya atau inisiatif yang lebih lagi yaitu mengutamakan pada literasi yang massif kepada publik. Menurut dia, implementasinya masih kurang.
“Semestinya Kominfo menjadi dirigen, konduktor untuk membangun kesadaran masyarakat melalui berbagai macam kanal untuk menyadarkan bahwa jangan mudah memproduksi konten di medsos kalau tidak paham dampak yang terjadi! Sepanjang memahami dampaknya, ya silahkan,”paparnya.
Tetapi harus informasi yang produktif dan positif. Perlu juga Kominfo menggandeng media massa atau arus utama untuk melakukan kampanye terus menerus secara berkelanjutan karena ini tidak akan pernah ada ending story-nya.
“Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan pemerintah. Media arus utama perlu digandeng untuk membangun kolaborasi yang lebih efektif ke depan di dalam mengedukasi publik agar tidak lagi terlalu banyak konten buruk dari medsos,” urainya.
Asmono juga menyarankan kepada media arus utama untuk mengutamakan kualitas atau good journalism. Sebab, selama ini masih banyak yang lebih mengutamakan kecepatan, clickbait. Menurut dia, berita yang berkualitas itu tidak harus clickbait atau dikelola dengan cara provokatif dan kontroversial.
Bagaimana membangun jurnalisme yang presisi, menarik, akurasi, investigative, tetapi bisa dikunyah dan dikonsumsi banyak masyarakat. Ini soal effort, metode, kompetensi.
“Semestinya harus memikirkan itu. Jangan sampai konten berita yang bagus hanya dibaca segelintir orang, padahal kita punya penduduk sampai 270 juta orang. Ini tantangan bagaimana konten seperti itu bisa diamplifikasi dalam bentuk yang lebih mudah dicerna, tetapi tidak meninggalkan fakta, presisi maupun investigatif,” tukasnya.
Pakar media sosial dari Drone Emprit and Kernels Indonesia Ismail Fahmi melihat literasi digital masyarakat Indonesia saat ini masih tergolong rendah karena pemanfaatan media sosial belum optimal untuk menunjang produktivitas. Jika literasi digital meningkat diharapkan masyarakat memiliki kemampuan untuk bisa lebih cerdas dalam mengakses, menganalisis, mengevaluasi kembali setiap informasi yang ada di media sosial.
Pemikiran kritis pun diperlukan oleh masyarakat untuk lebih dewasa lagi dalam melihat informasi di media sosial, supaya tidak terjadi perselisihan persepsi di antara masyarakat.
"Bila tidak dewasa dalam penggunaan media sosial, pastinya akan mudah dimasuki paham-paham baru, terutama paham kekerasan. Terlebih para generasi muda yang haus dengan berbagai informasi dan bacaan. Masyarakat diharap untuk tidak menelan mentah-mentah secara langung ketika menerima pesan dari media sosial. Selain dari kesadaran masyarakat, peran pemerintah penting untuk mengedukasi publik bahwa bermedia sosial bukan hanya ruang privat tapi sebagai ruang publik,"tutur Ismail.
Pemanfaatan media sosial pada dasarnya menurut Ismail tidak selamanya berdampak negatif, tergantung bagaimana publik menggunakannya. "Fungsi dari media sosial dapat menjadi sebuah wadah untuk masyarakat dalam melakukan transaksi dan bahkan menjadi sebuah media untuk memulai usaha dalam berbagai bidang dengan memanfaatkan tren media sosial yang banyak digunakan masyarakat saat ini,"tegasnya.
Selain itu, media sosial dalam penggunaannya memang bisa tanpa batas, selazimnya sebagai pengguna harus bisa membatasi. Karena, menurut Ismail jika tidak dibatasi akan banyak menimbulkan noise, maka sebagai pengguna media sosial harus bisa membatasi. Sebagai pengguna media sosial haruslah berhati-hati dalam mengambil informasi, karena banyak informasi yang berisikan ujaran kebencian, menyesatkan dan palsu (hoaks) yang mampu membuat perpecahan. “Pemakaian Facebook, Twitter diperlukan strategi yang jelas. Tanpa startegi akan banyak kasus yang ditimbulkan,"tuturnya.
Terlebih, mayoritas masyarakat saat ini telah menggunakan media sosial, namun belum seluruhnya mengetahui cara yang benar dalam memanfaatkannya. Menurutnya, masyarakat memerlukan edukasi untuk kembali memanfaatkan media sosial sesuai dengan tujuan pembentukan wahana sosial tersebut. "Fakta yang ada sekarang masih banyaknya kasus yang berkaitan dengan etika media sosial, tentunya ini menunjukkan bahwa fungsi utama media sosial belum banyak dipahami,"kata Ismail.
Asmono menilai, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) selama ini cenderung melakukan tindakan kursif ketika ada akun medsos, platform atau aplikasi yang meresahkan masyarakat tetapi malah ditutup. Meski tindakan tersebut benar, namun semestinya ada upaya atau inisiatif yang lebih lagi yaitu mengutamakan pada literasi yang massif kepada publik. Menurut dia, implementasinya masih kurang.
“Semestinya Kominfo menjadi dirigen, konduktor untuk membangun kesadaran masyarakat melalui berbagai macam kanal untuk menyadarkan bahwa jangan mudah memproduksi konten di medsos kalau tidak paham dampak yang terjadi! Sepanjang memahami dampaknya, ya silahkan,”paparnya.
Tetapi harus informasi yang produktif dan positif. Perlu juga Kominfo menggandeng media massa atau arus utama untuk melakukan kampanye terus menerus secara berkelanjutan karena ini tidak akan pernah ada ending story-nya.
“Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan pemerintah. Media arus utama perlu digandeng untuk membangun kolaborasi yang lebih efektif ke depan di dalam mengedukasi publik agar tidak lagi terlalu banyak konten buruk dari medsos,” urainya.
Asmono juga menyarankan kepada media arus utama untuk mengutamakan kualitas atau good journalism. Sebab, selama ini masih banyak yang lebih mengutamakan kecepatan, clickbait. Menurut dia, berita yang berkualitas itu tidak harus clickbait atau dikelola dengan cara provokatif dan kontroversial.
Bagaimana membangun jurnalisme yang presisi, menarik, akurasi, investigative, tetapi bisa dikunyah dan dikonsumsi banyak masyarakat. Ini soal effort, metode, kompetensi.
“Semestinya harus memikirkan itu. Jangan sampai konten berita yang bagus hanya dibaca segelintir orang, padahal kita punya penduduk sampai 270 juta orang. Ini tantangan bagaimana konten seperti itu bisa diamplifikasi dalam bentuk yang lebih mudah dicerna, tetapi tidak meninggalkan fakta, presisi maupun investigatif,” tukasnya.
Pakar media sosial dari Drone Emprit and Kernels Indonesia Ismail Fahmi melihat literasi digital masyarakat Indonesia saat ini masih tergolong rendah karena pemanfaatan media sosial belum optimal untuk menunjang produktivitas. Jika literasi digital meningkat diharapkan masyarakat memiliki kemampuan untuk bisa lebih cerdas dalam mengakses, menganalisis, mengevaluasi kembali setiap informasi yang ada di media sosial.
Pemikiran kritis pun diperlukan oleh masyarakat untuk lebih dewasa lagi dalam melihat informasi di media sosial, supaya tidak terjadi perselisihan persepsi di antara masyarakat.
"Bila tidak dewasa dalam penggunaan media sosial, pastinya akan mudah dimasuki paham-paham baru, terutama paham kekerasan. Terlebih para generasi muda yang haus dengan berbagai informasi dan bacaan. Masyarakat diharap untuk tidak menelan mentah-mentah secara langung ketika menerima pesan dari media sosial. Selain dari kesadaran masyarakat, peran pemerintah penting untuk mengedukasi publik bahwa bermedia sosial bukan hanya ruang privat tapi sebagai ruang publik,"tutur Ismail.
Pemanfaatan media sosial pada dasarnya menurut Ismail tidak selamanya berdampak negatif, tergantung bagaimana publik menggunakannya. "Fungsi dari media sosial dapat menjadi sebuah wadah untuk masyarakat dalam melakukan transaksi dan bahkan menjadi sebuah media untuk memulai usaha dalam berbagai bidang dengan memanfaatkan tren media sosial yang banyak digunakan masyarakat saat ini,"tegasnya.
Selain itu, media sosial dalam penggunaannya memang bisa tanpa batas, selazimnya sebagai pengguna harus bisa membatasi. Karena, menurut Ismail jika tidak dibatasi akan banyak menimbulkan noise, maka sebagai pengguna media sosial harus bisa membatasi. Sebagai pengguna media sosial haruslah berhati-hati dalam mengambil informasi, karena banyak informasi yang berisikan ujaran kebencian, menyesatkan dan palsu (hoaks) yang mampu membuat perpecahan. “Pemakaian Facebook, Twitter diperlukan strategi yang jelas. Tanpa startegi akan banyak kasus yang ditimbulkan,"tuturnya.
Terlebih, mayoritas masyarakat saat ini telah menggunakan media sosial, namun belum seluruhnya mengetahui cara yang benar dalam memanfaatkannya. Menurutnya, masyarakat memerlukan edukasi untuk kembali memanfaatkan media sosial sesuai dengan tujuan pembentukan wahana sosial tersebut. "Fakta yang ada sekarang masih banyaknya kasus yang berkaitan dengan etika media sosial, tentunya ini menunjukkan bahwa fungsi utama media sosial belum banyak dipahami,"kata Ismail.
Lihat Juga :