Menunggu Nasib Garuda
Senin, 25 Oktober 2021 - 05:28 WIB
loading...
A
A
A
Dengan sederet fakta-fakta tersebut, pantas kiranya jika Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmojo menyatakan bahwa beban Garuda terlalu besar sehingga opsi likuidasi bisa ditempuh jika restrukturisasi utang menemui jalan buntu. Menurutnya, suntikan modal pemerintah melalui Penyertaan Modal Negata (PMN) yang lazim diberikan kepada perusahaan BUMN pun bakal tak sanggup menutupi persoalan karena nilai utangnya terlalu besar.
Memang, dalam upaya perbaikan kinerja keuangannya Garuda terus berupaya melakukan restrukturisasi kepada para kreditur dan perusahaan yang menyewakan pesawat (lessor). Namun, hingga saat ini belum ada informasi sejauh mana langkah tersebut membuahkan hasil.
Opsi lain yang menyeruak adalah membubarkan Garuda untuk kemudian digantikan oleh Pelita Air Service, yang notabene sama-sama perusahaan BUMN. Namun, langkah ini pun tentu bukan perkara mudah karena otomatis harus memberdayakan perusahaan induk Pelita Air yakni Pertamina untuk memberikan perhatian lebih kepada Pelita Air termasuk urusan permodalan guna menambah armada dan mewujudkannya menjadi penerbangan berjadwal.
Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk Irfan Setiaputra mengakui, fokus perusahaan saat ini adalah pada restrukturisasi utang yang sudah dijalankan sejak beberapa bulan sebelumnya. Irfan optimistis dengan sinyal positif industri penerbangan di masa pemulihan pandemi yang mulai terkendali.
Menurutnya, kembali dibukanya sektor pariwisata menjadi momentum dalam upaya perbaikan kinerja maskapai kebanggaan nasional itu.
Memang, dalam upaya perbaikan kinerja keuangannya Garuda terus berupaya melakukan restrukturisasi kepada para kreditur dan perusahaan yang menyewakan pesawat (lessor). Namun, hingga saat ini belum ada informasi sejauh mana langkah tersebut membuahkan hasil.
Opsi lain yang menyeruak adalah membubarkan Garuda untuk kemudian digantikan oleh Pelita Air Service, yang notabene sama-sama perusahaan BUMN. Namun, langkah ini pun tentu bukan perkara mudah karena otomatis harus memberdayakan perusahaan induk Pelita Air yakni Pertamina untuk memberikan perhatian lebih kepada Pelita Air termasuk urusan permodalan guna menambah armada dan mewujudkannya menjadi penerbangan berjadwal.
Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk Irfan Setiaputra mengakui, fokus perusahaan saat ini adalah pada restrukturisasi utang yang sudah dijalankan sejak beberapa bulan sebelumnya. Irfan optimistis dengan sinyal positif industri penerbangan di masa pemulihan pandemi yang mulai terkendali.
Menurutnya, kembali dibukanya sektor pariwisata menjadi momentum dalam upaya perbaikan kinerja maskapai kebanggaan nasional itu.
Lihat Juga :